Ikan Patin RI Incar Dapur Haji-Umrah, Target Pasok 700 Ton per Musim

mediaindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

UPAYA menembus Arab Saudi untuk komoditas ikan patin kini naik kelas, bukan sekadar ekspor, melainkan masuk ke rantai pasok pangan haji dan umrah dunia, pasar yang stabil, berulang, dan berpotensi kontrak jangka panjang. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut proses persetujuan teknis dengan Saudi Food and Drug Authority (SFDA) sedang dirampungkan.

Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan KKP, Ishartini, mengatakan seluruh persyaratan telah dipenuhi dan komunikasi dengan otoritas Saudi terus berjalan.

“Seluruh persyaratan yang diminta sudah kita penuhi. Kami sebagai otoritas kompeten juga aktif berkomunikasi dengan otoritas Saudi. Mudah-mudahan dengan tim terpadu ekosistem pangan haji dan umrah, produk budi daya kita bisa segera masuk,” ujarnya di Jakarta, Kamis (19/2).

Baca juga : KKP: Pasokan Ikan Budi Daya Aman, Harga Cuma Naik Tipis

Berbeda dengan ekspor reguler yang cenderung fluktuatif, kebutuhan konsumsi haji-umrah lebih terukur karena mengikuti pola penyelenggaraan yang jelas, bahkan umrah berlangsung sepanjang tahun.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Machmud, menyebut kebutuhan patin untuk sekitar 200 ribu jemaah haji dapat mencapai 600-700 ton dalam satu musim.

“Yang paling banyak dikonsumsi itu ikan patin. Untuk haji sekitar 600 sampai 700 ton. Untuk umrah bisa lebih besar lagi, tergantung menu yang disajikan,” kata Machmud.

Baca juga : Respons Purbaya, Menteri Trenggono Tegaskan Pendanaan Pembelian Kapal bukan di KKP

Artinya, bila akses pasar kembali terbuka, patin Indonesia tidak hanya mengejar volume, tetapi masuk ke skema pasokan berulang yang membuka peluang kontrak jangka panjang, bukan transaksi sesaat.

Indonesia, lanjut Machmud, pernah menjadi pemasok patin untuk musim haji pada 2019 dengan volume lebih dari 300 ton. Namun pandemi Covid-19 sempat menghentikan arus perdagangan. Kini peluang kembali terbuka, meski Indonesia harus bersaing dengan Vietnam yang saat ini mendominasi pasar.

Machmud menegaskan, dari sisi kapasitas produksi dan kualitas, patin Indonesia dinilai mampu bersaing. Ia mencontohkan, produk tuna dan cakalang kaleng Indonesia sudah lebih dulu rutin masuk pasar Arab Saudi untuk konsumsi haji dan umrah, meski menghadapi kompetitor dari Thailand.

Jika patin kembali diterima, dampaknya tidak hanya pada kenaikan ekspor, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem pangan global yang melayani jutaan jemaah dari berbagai negara.

Dengan kebutuhan besar dan pola konsumsi terjadwal, pasar haji dan umrah dinilai strategis untuk mendorong hilirisasi, standardisasi mutu, dan penguatan daya saing patin nasional di level internasional. (Z-10)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tito Puji Dukungan Satgas DPR Percepat Rehabilitasi Pascabencana Sumatera
• 13 jam laludetik.com
thumb
30++ Ucapan Selamat Ramadan 2026 untuk Keluarga dan Teman, Penuh Makna
• 22 jam laludetik.com
thumb
Sholat Tarawih Perdana di Masjid Negara Kuala Lumpur Dipadati Jamaah
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
BBWI Travel Fair Dorong Wisata Domestik dan Produk Kreatif Lokal
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pakar HI Minta Prabowo Tidak Bermain Individual di KTT Board of Peace
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.