Seorang pejabat senior intelijen Kanada menyatakan bahwa meskipun Rusia menimbulkan ancaman militer di kawasan Arktik, Tiongkok justru merupakan “ancaman utama” di wilayah tersebut.
EtIndonesia. Asisten Direktur Canadian Security Intelligence Service (CSIS), Paul Lynd, dalam sidang dengar pendapat parlemen Kanada baru-baru ini menyampaikan bahwa meskipun Tiongkok tidak memiliki wilayah di Arktik seperti Rusia, aktivitas Partai Komunis Tiongkok (PKT) di kawasan itu justru menimbulkan kekhawatiran yang lebih besar bagi badan intelijen Kanada.
Lynd mengatakan bahwa dibandingkan dengan aktivitas Tiongkok dan aktor-aktor negara yang dianggap bermusuhan lainnya, ancaman Rusia saat ini relatif lebih kecil. Menurutnya, Rusia memang menghadirkan ancaman militer di Arktik, namun hal itu lebih termasuk dalam ranah pertahanan nasional. Sebaliknya, ancaman dari Tiongkok mencakup campur tangan asing serta risiko terhadap keamanan ekonomi.
Ketika berbicara mengenai aktivitas Tiongkok di Arktik, Lynd menegaskan, “Ini adalah ancaman utama.”
Kekhawatiran atas Investasi dan Penguasaan Mineral Kritis
Sebagai pejabat yang mengawasi seluruh kegiatan pengumpulan dan operasi intelijen CSIS di dalam maupun luar negeri, Lynd menyampaikan pernyataan tersebut saat menghadiri sidang Komite Urusan Luar Negeri House of Commons pada 12 Februari.
Ia menyebutkan bahwa Tiongkok menggunakan cara-cara yang tidak wajar untuk memperoleh sumber daya di wilayah Arktik Kanada, sesuatu yang menurutnya sangat mengkhawatirkan. Tiongkok juga dinilai berupaya mendominasi sektor mineral kritis.
“Kami khawatir bahwa di beberapa sektor pasar di Arktik terdapat investasi atau aktivitas ekonomi yang bersifat tersembunyi atau menipu,” ujarnya.
CSIS bertanggung jawab memantau keamanan ekonomi. Jika suatu akuisisi asing memicu peninjauan berdasarkan Undang-Undang Investasi Kanada, CSIS akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Pada tahun 2020, Kanada memblokir penjualan tambang emas di Hope Bay, wilayah Nunavut, kepada perusahaan pertambangan milik negara Tiongkok dengan alasan keamanan nasional.
Namun Lynd juga mengingatkan bahwa negara-negara yang dianggap bermusuhan berupaya memanfaatkan celah di berbagai sektor untuk menghindari pemicu peninjauan berdasarkan Undang-Undang Investasi Kanada.
Riset Iklim Berpotensi Ganda
Aktivitas Tiongkok di Arktik juga mencakup penelitian yang bersifat dwiguna (sipil dan militer).
Dalam sidang yang sama, Direktur Penghubung Eksternal CSIS, René Ouellette, menyatakan bahwa penelitian perubahan iklim yang dilakukan Tiongkok di kawasan Arktik berpotensi dimanfaatkan untuk pengumpulan intelijen.
“Sensor-sensor tersebut tidak hanya mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan penelitian sah, tetapi juga mengumpulkan data mengenai berbagai aktivitas lain di kawasan tersebut, yang bisa berguna bagi militer atau lembaga intelijen asing,” jelasnya.
Tantangan Operasional di Kawasan Arktik
Meskipun Arktik menjadi wilayah perhatian utama CSIS, Lynd mengakui bahwa badan intelijen tersebut menghadapi berbagai tantangan operasional dalam mengumpulkan informasi di sana, terutama karena tidak memiliki kantor permanen di kawasan tersebut.
Meski demikian, CSIS berupaya mengirimkan personel sesering mungkin ke wilayah Arktik. Selain itu, lembaga tersebut juga memanfaatkan kewenangan baru yang diperoleh melalui undang-undang dalam beberapa tahun terakhir untuk berbagi informasi ancaman dengan instansi pemerintah lainnya.
“Kami akan terus berbagi informasi mengenai ancaman ini dengan komunitas lokal dan pemerintah daerah, karena hal itu akan membantu mengurangi risiko,” ujar Lynd saat menyinggung ancaman yang dinilai berasal dari Tiongkok. (jhon)





