Pada Super Bowl LX 2026, publik global tidak hanya menyaksikan pertunjukan musik terbesar di dunia. Mereka menyaksikan pergeseran simbolik dalam lanskap budaya global. Ketika Bad Bunny tampil di panggung paling ikonik dalam kultur populer Amerika, ia tidak sekadar hadir sebagai entertainer. Ia hadir sebagai representasi identitas.
Selama beberapa dekade, panggung seperti Super Bowl identik dengan dominasi budaya berbahasa Inggris. Namun momentum ini menandai sesuatu yang lebih dalam: budaya global tidak lagi dimonopoli oleh satu bahasa atau satu pusat produksi simbolik.
Kemenangan album Debí Tirar Más Fotos di Grammy Awards 2026 sebagai Album of the Year semakin mengukuhkan pergeseran tersebut. Album berbahasa Spanyol itu bukan sekadar sukses komersial, melainkan pernyataan bahwa bahasa dan identitas lokal tidak lagi menjadi penghalang untuk menjadi arus utama global.
Apa Itu “Latin” dan Apakah Indonesia Termasuk “Latin Belt”?Untuk memahami fenomena ini, kita perlu memperjelas istilah. Secara historis, istilah “Latin” merujuk pada wilayah dan masyarakat yang menggunakan bahasa turunan Latin (rumpun Roman) seperti Spanyol dan Portugis. Dalam geopolitik modern, istilah ini identik dengan kawasan Amerika Latin meliputi negara-negara seperti Meksiko, Brasil, dan berbagai negara di Karibia.
Sementara itu, “Latino/Latina” berkembang sebagai identitas etno-kultural, khususnya dalam konteks diaspora di Amerika Serikat, merujuk pada individu dengan akar Amerika Latin.
Adapun “Latin Belt” bukanlah istilah akademik formal. Ia lebih merupakan istilah populer atau metaforis yang merujuk pada Zona geografis Amerika Latin, Wilayah tropis/subtropis yang diasosiasikan dengan budaya Latin,
Atau dalam konteks internet, zona kultural yang “terasa Latin” secara visual dan emosional.
Secara formal, Indonesia jelas tidak termasuk Latin Belt. Indonesia tidak memiliki akar linguistik Latin, bukan bagian dari Amerika Latin, dan tidak memiliki sejarah kolonial Iberia seperti banyak negara Amerika Latin. Namun di era budaya digital, definisi formal sering kali tidak cukup menjelaskan fenomena sosial.
Dua Kursi Plastik & Pohon Pisang: Resonansi TropisCover album Debí Tirar Más Fotos menampilkan dua kursi plastik putih (monobloc) di tengah kebun pohon pisang. Bagi masyarakat Puerto Rico, ini adalah simbol ruang keluarga, nostalgia, dan kehidupan tropis yang hangat.
Menariknya, ketika cover tersebut viral di Indonesia, banyak netizen merasa: “Ini seperti halaman belakang rumah saya.”
Pohon pisang dan kursi plastik adalah pemandangan yang sangat lazim di Asia Tenggara. Tanpa disengaja, simbol visual dari Karibia menemukan resonansi emosional di Indonesia. Di sinilah meme “Indonesia masuk Latin Belt” lahir.
Bukan sebagai klaim identitas geopolitik, melainkan sebagai ekspresi kedekatan simbolik. Indonesia memang bukan Latin dalam arti linguistik atau historis. Tetapi Indonesia adalah tropis. Indonesia mengenal ruang komunal sederhana. Indonesia memahami nostalgia halaman rumah. Dan globalisasi hari ini bekerja melalui resonansi pengalaman, bukan sekadar kategori akademik.
Meme “Latin Belt” & Transkulturasi DigitalKetika netizen Indonesia memasukkan Indonesia ke dalam peta “Latin Belt”, yang terjadi bukanlah kekeliruan geografis. Yang terjadi adalah praktik transkulturasi.
Makna budaya dipindahkan dari satu konteks ke konteks lain tanpa kehilangan emosi dasarnya. Simbol Puerto Rico dibaca ulang dalam konteks Asia Tenggara.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya global kini bergerak secara horizontal. Ia tidak lagi mengalir satu arah dari pusat Barat ke pinggiran dunia. Ia bergerak dari Selatan ke Selatan, dari tropis ke tropis, dari pengalaman sehari-hari ke pengalaman sehari-hari.
Bad Bunny mungkin berbicara dari Puerto Rico. Tetapi yang mendengar dan merasa terhubung bisa saja berada di Medan, Makassar, atau Yogyakarta.
Soft Power dan Politik Representasi BaruDalam teori hubungan internasional, ini adalah transformasi soft power. Selama ini, kekuatan budaya global diasosiasikan dengan dominasi industri hiburan berbahasa Inggris. Namun fenomena Bad Bunny menunjukkan bahwa:
Identitas lokal yang kuat justru dapat menjadi sumber daya global. Representasi yang sangat spesifik (dua kursi di kebun) justru mampu melintasi batas geografis.
Era digital menciptakan interaksi budaya yang lebih simetris. Budaya tidak lagi harus “disesuaikan” agar diterima global. Justru keotentikan lokal menjadi daya tarik utama.
Meme “Latin Belt yang memasukkan Indonesia” menunjukkan bahwa masyarakat biasa kini menjadi aktor dalam produksi makna global. Mereka bukan sekadar konsumen budaya; mereka adalah penafsir dan pemakna ulang. Secara akademik dan formal, Indonesia bukan bagian dari Latin Belt.
Namun secara simbolik dan emosional, Indonesia bisa merasa dekat dengan imajinasi Latin tropis yang dibawa oleh Bad Bunny.
Penampilan Bad Bunny di Super Bowl 2026 dan keberhasilan Debí Tirar Más Fotos bukan hanya soal musik. Ia adalah bukti bahwa globalisasi budaya sedang memasuki fase baru fase di mana pengalaman tropis, nostalgia keluarga, dan ruang komunal sederhana bisa menjadi bahasa universal.
Dua kursi plastik dan pohon pisang tidak mengubah peta dunia. Tetapi ia mengubah cara kita membaca peta budaya. Dan mungkin di situlah makna terdalamnya: globalisasi hari ini tidak lagi bertanya, “Siapa pusatnya?” Melainkan, “Siapa yang beresonansi?”





