Posisi China ekonomi global saat ini tidak lagi sekadar penting, melainkan sentral. Dalam dua dekade terakhir, China menjelma menjadi poros utama perdagangan, manufaktur, dan investasi dunia. Hampir setiap negara, baik maju maupun berkembang, memiliki keterkaitan ekonomi dengan Beijing. Namun, di balik kekuatan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah dominasi China merupakan fondasi stabilitas, atau justru menciptakan risiko baru bagi sistem global?
China Ekonomi Global dan Transformasi Besar Sejak 2001Sejak bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001, China mengalami lonjakan pertumbuhan yang luar biasa. Negara ini dikenal sebagai “pabrik dunia” karena kemampuannya memproduksi barang dalam skala besar dengan biaya kompetitif. Elektronik, tekstil, baja, hingga komponen teknologi tinggi, semuanya terhubung dengan rantai pasok global China.
Transformasi ini bukan kebetulan. Pemerintah China secara aktif mengarahkan kebijakan industri, memperkuat infrastruktur, serta membuka ruang investasi asing. Dalam waktu singkat, posisi China di ekonomi dunia melonjak drastis, bahkan menjadi ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat.
Melalui Belt and Road Initiative (BRI), China juga memperluas pengaruhnya lewat pembangunan pelabuhan, rel kereta, dan proyek energi di berbagai kawasan. Strategi ini mempertegas peran China dalam ekonomi global, bukan hanya sebagai produsen, tetapi juga sebagai investor dan pemberi pinjaman internasional.
Ketergantungan Dunia pada Rantai Pasok Global ChinaNamun, kekuatan besar selalu membawa konsekuensi. Ketika pandemi COVID-19 melanda dan aktivitas industri di China terhambat, dunia langsung merasakan dampaknya. Gangguan rantai pasok global China menyebabkan kelangkaan semikonduktor, kenaikan harga logistik, hingga perlambatan produksi di banyak negara.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal, yaitu ketergantungan dunia pada China ekonomi global sangat tinggi. Jika satu pusat produksi terguncang, efeknya menjalar ke berbagai sektor di negara lain.
Karena itulah, dalam beberapa tahun terakhir muncul istilah “de-risking” di kalangan negara Barat. Bukan berarti memutus hubungan dengan China, tetapi mengurangi risiko ketergantungan berlebihan pada satu negara. Diversifikasi rantai pasok mulai dilakukan ke Asia Tenggara, India, hingga Amerika Latin.
Tantangan Internal dan Krisis Ekonomi ChinaSelain tekanan eksternal, China juga menghadapi tantangan domestik. Krisis di sektor properti, utang pemerintah daerah yang meningkat, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi sorotan internasional. Pertumbuhan yang dulu dua digit kini melambat secara signifikan.
Krisis ekonomi China tidak hanya berdampak pada pasar domestik. Negara-negara pengekspor bahan mentah seperti Indonesia sangat bergantung pada permintaan China. Jika konsumsi dan industri China melemah, harga komoditas global ikut tertekan.
Di sisi lain, faktor demografi juga menjadi tantangan jangka panjang. Populasi yang menua dan menurunnya angka kelahiran berpotensi mengurangi produktivitas tenaga kerja. Dalam konteks China ekonomi global, ini bukan sekadar isu internal, melainkan faktor yang bisa memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Geopolitik dan Persaingan Amerika Serikat-ChinaPosisi sentral China dalam ekonomi global juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik. Persaingan teknologi antara China dan Amerika Serikat semakin intens, terutama dalam sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan. Pembatasan ekspor chip dan sanksi teknologi menunjukkan bahwa ekonomi dan politik kini semakin terhubung erat.
Fragmentasi ekonomi global mulai terlihat. Negara-negara berusaha menyeimbangkan hubungan antara dua kekuatan besar tersebut. Dalam situasi ini, China ekonomi global berada di tengah tekanan sekaligus peluang.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi ini menghadirkan dilema. China adalah mitra dagang utama dan sumber investasi penting. Namun, ketergantungan yang terlalu besar juga dapat meningkatkan kerentanan ekonomi nasional.
Kekuatan Sekaligus Titik Rapuh
Maka, apakah China adalah kekuatan atau titik rapuh? Jawabannya bersifat paradoks. China adalah kekuatan karena kapasitas industrinya, cadangan devisanya, dan kemampuannya mengoordinasikan kebijakan secara cepat. Tidak banyak negara yang mampu melakukan mobilisasi ekonomi dalam skala sebesar itu.
Namun, justru karena sentralitasnya, China juga menjadi titik konsentrasi risiko. Setiap perlambatan atau krisis domestik berpotensi menciptakan efek domino secara global. Dalam sistem yang saling terhubung, pusat gravitasi ekonomi juga menjadi pusat tekanan.
Ke depan, stabilitas China ekonomi global akan sangat menentukan arah pertumbuhan dunia. Dunia mungkin tidak bisa sepenuhnya lepas dari ketergantungan pada China, tetapi dapat membangun sistem yang lebih seimbang dan resilien.
China memang berada di pusat ekonomi dunia. Tetapi pusat bukan hanya simbol kekuatan. Ia juga titik tempat risiko terkumpul. Tantangan terbesar bukan sekadar mempertahankan dominasi, melainkan memastikan bahwa kekuatan tersebut tidak berubah menjadi sumber kerentanan global.





