Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana untuk kembali mengekspor ikan patin ke Arab Saudi guna memenuhi kebutuhan konsumsi selama musim haji dan umrah.
Plt Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Machmud, mengatakan Indonesia pernah melakukan ekspor ikan patin ke Arab Saudi pada 2019, sebelum pandemi COVID-19.
“Kita itu pernah ekspor patin ke Arab-Saudi Tahun 2019 sebelum COVID-19 Itu pernah ekspor untuk hajian, sekitar hampir 300 ton kita ekspor patin dalam bentuk fillet dan cut portion,” kata Machmud di Kantor KKP, Kamis (19/2).
Mahfud meyakini ikan patin bisa kembali mendarat di Arab Saudi sebab beberapa komoditas seperti beras asam Indonesia juga sudah bisa memenuhi kebutuhan jemaah haji.
Dia menuturkan, ikan patin merupakan salah satu komoditas utama yang dikonsumsi oleh jemaah haji di Arab Saudi, selain daging, ayam, dan telur.
“Nah ikannya yang paling banyak memang adalah ikan patin. Jadi ikan patin, kemudian ada tuna kaleng, cakalang kaleng juga ada di sana. Sehingga, dan saat ini paling banyak patinnya dari Vietnam,” jelasnya.
Menurut Machmud, Indonesia pernah mengirimkan sekitar 300 ton ikan patin pada 2019 untuk kebutuhan haji. Namun, pasca-pandemi COVID-19, ekspor tersebut sempat terhenti. Kini, KKP berupaya untuk memenuhi berbagai persyaratan yang ditetapkan oleh otoritas Arab Saudi agar ekspor ikan patin Indonesia dapat kembali terlaksana.
Selain untuk kebutuhan haji, peluang ekspor ikan patin juga cukup besar untuk konsumsi jemaah umrah.
Berdasarkan perkiraan, untuk 200 ribu jemaah haji, Indonesia diminta sekitar 600 hingga 700 ton ikan patin. Namun, untuk umrah, jumlahnya bisa lebih besar lagi, mengingat menu konsumsi yang bergiliran dan lebih bervariasi.
“Jadi tergantung dari menunya. Karena menu itu kan bergiliran, tidak hanya ikan. Terus ada konsumsi yang lain juga,” imbuhnya.
Proses Persetujuan SFDA dan Tim TerpaduSementara itu, Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu) KKP, Ishartini, mengungkapkan untuk mempercepat proses ekspor hasil budidaya ke Arab Saudi, Menko Pangan Zulkifli Hasan telah membentuk tim khusus untuk mengelola ekosistem pangan haji dan umrah.
Tim ini melibatkan KKP sebagai bagian dari upaya memenuhi persyaratan dan memastikan kualitas produk yang diekspor. Saat ini tim tengah bernegosiasi dengan Saudi Food and Drug Authority (SFDA) untuk bisa memasukkan ikan produk budidaya.
“Memang kita belum mendapatkan approval, namun seluruh persyaratan yang diminta oleh SFDA sudah kita penuhi,” tuturnya.
Dia optimistis ekspor ikan patin dan produk budidaya lainnya dari Indonesia dapat segera masuk ke pasar Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan pangan jemaah haji dan umrah.
Dengan adanya upaya tersebut, diharapkan Indonesia bisa kembali menjadi pemasok utama ikan patin untuk konsumsi haji dan umrah, mengurangi ketergantungan Arab Saudi pada pasokan ikan dari negara lain, seperti Vietnam.
“Jadi kita tinggal menunggu saja Mudah-mudahan dengan adanya tim terpadu untuk ekosistem haji dan umrah ini produk budidaya bisa segera bisa memasuki pasar Saudi Arabia,” tutupnya.





