Di banyak lokasi bencana, satu pola berulang dan mudah dikenali jika diamati dari dekat. Saat listrik padam, logistik belum tiba, dan data korban masih simpang siur, penggerak pertama justru jaringan ibu ibu setempat.
Mereka membuka dapur darurat, mengatur giliran memasak, mendata anak dan lansia, berbagi obat seadanya, dan memastikan tidak ada warga terlewat. Mereka mengetahui kondisi kehamilan, kehilangan anggota keluarga, dan trauma tidur warga sekitar. Banyak informasi sensitif beredar melalui percakapan antarperempuan, bukan melalui laporan resmi.
Pengetahuan itu lahir dari kedekatan sehari-hari. Rapat koordinasi resmi biasanya menyusul kemudian. Pada tahap itulah komposisi meja penentu arah sering berubah. Perempuan hadir di lapangan, tetapi tidak otomatis hadir sebagai pengambil keputusan.
Fenomena tersebut bukan kebetulan dan bukan sekadar persoalan jumlah perempuan di ruang rapat. Ada bias lama tentang sumber pengetahuan strategis dalam krisis. Model kepemimpinan darurat terlalu lama dipersempit menjadi urusan komando dan kendali.
Ukuran strategis dilekatkan pada kecepatan perintah dan ketegasan struktur. Pengalaman merawat, mengatur kebutuhan keluarga, dan menjaga jaringan sosial ditempatkan sebagai urusan tambahan.
Cara pandang seperti ini terlihat rapi di atas kertas, tetapi sering keliru di lapangan. Realitas krisis menunjukkan bahwa detail sosial menentukan apakah bantuan benar-benar terpakai, perlindungan terasa, dan pemulihan berjalan.
Sudut pandang pengalaman perempuan memperlihatkan gambaran krisis yang berbeda dari laporan ringkas situasi. Krisis tidak berhenti pada kerusakan fisik dan jumlah korban. Krisis berarti lonjakan jam kerja perawatan, tekanan mental berkepanjangan, dan risiko sosial tambahan. Rumah rusak tidak menghentikan kebutuhan makan.
Sekolah tutup tidak menghentikan kebutuhan belajar. Anggota keluarga sakit tetap membutuhkan perhatian harian. Dalam banyak keluarga terdampak, perempuan menjaga fungsi dasar kehidupan tetap berjalan di tengah gangguan. Seluruh kerja tambahan itu jarang masuk hitungan kebijakan. Status darurat bisa dicabut, tetapi beban perawatan tidak ikut selesai.
Definisi keamanan membentuk arah respons. Pendekatan sempit memusatkan perhatian pada kendali wilayah dan stabilitas situasi. Pendekatan berbasis pengalaman memusatkan perhatian pada rasa aman sehari-hari. Penerangan lokasi pengungsian, keamanan toilet, ruang privat bagi ibu menyusui, jalur aman distribusi bantuan, dan mekanisme pelaporan kekerasan menjadi penentu rasa aman.
Banyak pengambil keputusan menganggap aspek tersebut sebagai detail teknis. Pengalaman perempuan menunjukkan bahwa detail tersebut menentukan apakah warga merasa terlindungi atau terancam. Perbedaan antara aman administratif dan aman nyata sering muncul tepat di sana.
Kesadaran global tentang pentingnya keterlibatan perempuan dalam penanganan krisis sudah berkembang cukup lama. Resolusi Dewan Keamanan PBB 1325 tahun 2000 menegaskan perlunya partisipasi perempuan dalam pencegahan konflik dan pemulihan pascakrisis.
Latar belakang resolusi tersebut berupa evaluasi kegagalan pemulihan di berbagai wilayah konflik akibat tidak masuknya suara perempuan dalam proses keputusan. Pendekatan human security juga menguatkan arah pemikiran serupa.
Ukuran keamanan bergeser dari kendali negara menuju keselamatan hidup manusia sehari hari. Status aman tidak cukup ditentukan oleh pernyataan resmi jika warga masih hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian.
Kajian politik dan keamanan juga lama mengangkat persoalan penghapusan pengalaman perempuan dari analisis. Cynthia Enloe (1989) menunjukkan bahwa pengalaman perempuan sering dikeluarkan dari hitungan karena dikategorikan domestik dan tidak strategis.
Banyak keputusan politik besar berdiri di atas kerja sosial perempuan yang tidak pernah diakui sebagai faktor penentu. Mengabaikan wilayah pengalaman tersebut menghasilkan pembacaan krisis setengah lengkap sejak awal.
Konteks bencana memperlihatkan logika yang sama. Kerja perawatan, stabilisasi emosi keluarga, dan pengaturan logistik kecil menjadi fondasi ketahanan komunitas. Tanpa fondasi itu, bantuan sebesar apa pun tidak cukup.
Contoh konkret terlihat pada banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Proses pemulihan di sejumlah wilayah masih berlangsung hingga sekarang. Banyak keluarga menjalani masa transisi panjang tanpa kepastian penuh.
Dalam situasi seperti itu, perempuan memegang peran utama dalam adaptasi harian. Anggaran keluarga disusun ulang. Pola konsumsi diubah. Perawatan anggota keluarga rentan diperketat. Bantuan tidak selalu datang teratur dan membutuhkan pengelolaan ketat di tingkat rumah tangga.
Suara perempuan terdampak berulang kali menyoroti sanitasi, keamanan hunian sementara, dan perlindungan anak. Daftar prioritas resmi tidak selalu menempatkan kebutuhan tersebut di baris awal. Kebutuhan paling terasa sering diperlakukan sebagai tahap berikutnya.
Kaburnya PerspektifNarasi keberhasilan respons bencana biasanya menonjolkan kecepatan dan skala distribusi. Ukuran tersebut penting tetapi tidak cukup. Banyak program terlihat berhasil dalam laporan, tetapi meninggalkan celah rasa aman di lapangan.
Bantuan tersedia belum tentu aman diakses perempuan. Hunian sementara tersedia belum tentu layak bagi kebutuhan keluarga. Kelemahan seperti ini jarang muncul dari kurangnya niat. Sumber masalah lebih sering berasal dari cara pandang yang terlalu sempit sejak tahap perencanaan. Perspektif perempuan jarang dipakai sebagai kacamata utama saat desain respons disusun.
Krisis juga memperlihatkan satu kenyataan penting tentang pembagian risiko. Dampak kebijakan darurat tidak pernah seragam, tetapi keputusan sering dibuat seolah konsekuensinya sama bagi semua orang.
Pengalaman perempuan menunjukkan bahwa satu keputusan relokasi bisa berarti tambahan jam kerja harian karena sumber air atau sumber mata pencaharian yang menjadi lebih jauh. Penempatan hunian tanpa sekat bisa berarti peningkatan risiko kekerasan berbasis gender. Dapur dan MCK kolektif juga membangun konsekuensi jadwal pembagian penggunaan yang terkadang tidak mudah dalam prakteknya. Jadwal distribusi bantuan bisa berbenturan dengan tanggung jawab perawatan anak dan lansia.
Dampak turunan seperti ini tidak terlihat di peta logistik, tetapi terasa di kehidupan sehari hari. Kualitas keputusan publik sangat ditentukan oleh kemampuan membaca perbedaan dampak tersebut sejak awal. Perspektif perempuan menyediakan lensa analitis untuk melihat perbedaan itu.
Banyak kegagalan respons bukan terjadi karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kesalahan asumsi tentang cara warga menjalani hidup. Asumsi netral sering berarti asumsi maskulin. Desain respons tampak efisien, tetapi tidak selalu adil dalam praktik.
Struktur KeputusanPujian terhadap ketangguhan perempuan dalam krisis sering muncul dalam pidato dan pemberitaan. Narasi tersebut memberi pengakuan moral, tetapi tidak otomatis menggeser struktur kewenangan.
Ketangguhan lalu diperlakukan sebagai sumber daya sosial yang selalu siap menutup celah. Layanan terlambat ditopang kerja perawatan. Distribusi tidak rapi dirapikan jaringan komunitas. Sistem tertolong, tetapi pola keputusan jarang berubah. Kontribusi diakui, pengaruh tetap terbatas.
Keyakinan lama menganggap struktur komando paling kaku akan menghasilkan keputusan paling tepat. Pengalaman lapangan berkali kali menunjukkan keterbatasan anggapan tersebut. Banyak kekeliruan muncul akibat kurangnya penyerapan informasi sosial mikro.
Sumber informasi terdekat dengan warga sering berasal dari perempuan di tingkat komunitas. Posisi sumber tersebut kerap ditempatkan sebagai pelapor, bukan penentu prioritas. Forum memberi kesempatan bicara tanpa memberi daya putus. Kehadiran tidak identik dengan pengaruh.
Penambahan jumlah perempuan di jabatan formal juga bukan jaminan perubahan otomatis. Indikator keberhasilan yang sempit akan menghasilkan pola keputusan sempit siapa pun pemimpinnya. Perubahan menuntut pergeseran cara membaca risiko. Pengalaman perempuan perlu diperlakukan sebagai sumber pengetahuan strategis. Status strategis berarti masuk dalam perumusan masalah dan penentuan prioritas, bukan sekadar sesi konsultasi.
Caroline Criado Perez (2019) menunjukkan bahwa bias data menghasilkan bias kebijakan. Pengalaman perempuan yang tidak tercatat menghasilkan kebutuhan perempuan yang tidak terbaca. Situasi krisis memperbesar dampak bias tersebut.
Pendataan tanpa perspektif perawatan menghasilkan distribusi tidak tepat guna. Desain layanan tanpa sudut pandang perempuan menghasilkan akses rendah. Angka terlihat memadai, kenyataan di lapangan sering berbeda.
Perspektif perempuan dalam pengambilan keputusan krisis bukan agenda simbolik. Perspektif tersebut merupakan instrumen ketepatan kebijakan. Pembacaan risiko menjadi lebih dini. Pemetaan kebutuhan menjadi lebih rinci. Dampak jangka panjang lebih terhitung. Pendekatan tersebut bukan pendekatan lunak. Pendekatan tersebut lebih presisi dan lebih bertanggung jawab.
Krisis selalu memperlihatkan jarak antara kerja nyata dan kuasa menentukan arah. Perempuan terus muncul sebagai penggerak utama di lapangan. Struktur keputusan masih membatasi peran pada tingkat operasional.
Masalah utama tidak terletak pada kapasitas perempuan, tetapi pada definisi kepemimpinan yang terlalu sempit. Situasi darurat menuntut ketepatan membaca risiko dari seluruh sudut pengalaman. Mengabaikan perspektif perempuan bukan sekadar tidak adil. Mengabaikan perspektif tersebut adalah keputusan yang buruk.




