Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang rebound menguji kisaran 8.440–8.503 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (20/2/2026), setelah ditutup di zona merah pada sesi sebelumnya. Sejumlah saham seperti AMMN, CMRY, TINS, dan TKIM masuk dalam radar rekomendasi analis.
Tim analis MNC Sekuritas mencatat IHSG melemah 0,43% ke level 8.274 pada Kamis (19/2/2026), disertai tekanan jual. Meski demikian, pergerakan indeks telah mencapai target minimal yang sebelumnya diproyeksikan dan tertahan oleh indikator MA20.
Dalam skenario terbaik, selama IHSG mampu bertahan di atas level 8.170, indeks masih berpeluang melanjutkan penguatan untuk membentuk bagian dari wave (c) dari wave [x] menuju rentang 8.440–8.503.
“Meski begitu, waspadai potensi koreksi ke area 8.059–8.119,” tulis tim analis MNC Sekuritas dalam riset harian, Jumat (20/2/2026).
Untuk perdagangan hari ini, level support IHSG diperkirakan berada di 8.170 dan 8.025, sedangkan resistance di kisaran 8.408 dan 8.596.
AMMN menguat 1,99% ke 7.675 dengan dominasi volume pembelian dan mampu bertahan di atas cluster MA20 dan MA200. Selama harga berada di atas 7.300 sebagai stop loss, posisinya diperkirakan berada pada bagian wave [iii] dari wave C.
- Buy on Weakness: 7.450–7.625
- Target Price: 7.875, 8.050
- Stop loss: <7.300
CMRY terkoreksi 0,93% ke 5.350 dengan tekanan jual yang masih dominan meski volume menipis. Saat ini posisinya diperkirakan berada pada bagian wave [ii] dari wave 5.
Baca Juga
- Analis Ungkap Nasib Laju IHSG saat BI Tahan Suku Bunga
- BI Tahan Suku Bunga 4,75%, IHSG Intip Peluang Pemulihan
- BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75%, Ke Mana Arah IHSG Selanjutnya?
- Buy on Weakness: 5.125–5.275
- Target Price: 5.575, 5.850
- Stop loss: <5.050
TINS menguat 1,01% ke 3.990 disertai peningkatan volume pembelian. Pergerakannya diperkirakan tengah membentuk bagian wave 4 dari wave (5).
- Buy on Weakness: 3.700–3.850
- Target Price: 4.440, 4.670
- Stop loss: <3.400
TKIM naik 2,78% ke 7.400 dengan volume beli meningkat dan berhasil menembus cluster MA20 dan MA60. Saat ini posisinya diperkirakan berada di awal wave (iii) dari wave [c].
- Buy on Weakness: 7.175–7.275
- Target Price: 7.625, 7.825
- Stop loss: <6.975
Sebelumnya, keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 4,75% dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap laju pasar saham domestik.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menilai kebijakan tersebut tidak menimbulkan guncangan bagi pasar, tetapi juga belum cukup kuat menjadi katalis penguatan IHSG. Menurutnya, keputusan BI cenderung berdampak netral hingga sedikit positif.
“Surplus perdagangan dan proyeksi NPI yang tetap sehat menurunkan risiko eksternal sehingga downside IHSG relatif terbatas. Namun tanpa penurunan suku bunga, akselerasi reli lebih bergantung pada pertumbuhan laba dan arus dana asing,” jelas Liza dalam risetnya, Kamis (19/2/2026).
Ia menambahkan, ruang penurunan suku bunga di masa depan tetap terbuka dan dapat menjadi bantalan kebijakan ketika tekanan global mereda. Dengan demikian, kebijakan menahan suku bunga saat ini dinilai bukan katalis instan bagi pasar, melainkan penguat fondasi kepercayaan investor.
Liza menilai peluang IHSG kembali menguat menuju level 9.000 masih terbuka, terutama jika inflasi tetap terkendali serta surplus perdagangan dan neraca pembayaran terjaga stabil.
“Momentum musiman Ramadan–Lebaran, belanja pemerintah awal tahun, serta potensi pelonggaran likuiditas global jika Federal Reserve mulai quantitative easing dapat mendorong IHSG ke level 9.000,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan skenario tersebut tetap memiliki risiko. Sikap hawkish bank sentral global berpotensi menahan penurunan suku bunga dan menghambat aliran dana asing ke pasar berkembang. Selain itu, isu reformasi pasar serta persepsi premi risiko domestik juga masih menjadi perhatian.
“Penahanan suku bunga BI bukan katalis reli, tetapi memperkuat fondasi stabilitas. Kunci menuju 9.000 ada pada kombinasi foreign flow, earnings, dan perbaikan sentimen global,” tegasnya.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





