Kopi telah menjelma gaya hidup global, tetapi di kebun-kebun tropis tempat ia tumbuh, musim berubah menjadi ancaman. Suhu menembus 30 derajat celsius berhari-hari, hujan tak menentu, dan bunga kopi berguguran sebelum menjadi buah. Pada 2025, Indonesia mencatat lebih dari seratus hari panas yang berisiko merusak tanaman kopi, dan lonjakan suhu itu kini terasa hingga ke harga kopi dunia yang melonjak tajam.
Dalam setahun terakhir, harga biji kopi di Indonesia naik sekitar 15 persen. Di pasar global, lonjakannya lebih tajam lagi, hampir 46 persen. Harga kopi dari sekitar 2,63 dollar Amerika Serikat (AS) per kilogram pada 2023 menjadi 4,86 dollar AS per kilogram pada 2025. Kenaikan ini bukan sekadar gejolak dagang atau permainan spekulasi. Ia berkelindan dengan krisis iklim yang merambat pelan dari atmosfer ke akar tanaman.
Kopi tumbuh optimal di wilayah yang dikenal sebagai “sabuk kopi” dunia, daerah tropis di sekitar khatulistiwa dengan suhu relatif stabil di bawah 30 derajat celcius dan curah hujan cukup. Ketika suhu naik di atas ambang batas ini, tanaman kopi mengalami stres panas yang dapat mengurangi hasil panen, memengaruhi kualitas biji kopi, dan meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit. Secara bersamaan, dampak-dampak ini dapat mengurangi pasokan dan kualitas kopi serta berkontribusi pada harga yang lebih tinggi secara global.
Jenis arabika sangat sensitif, sedikit kenaikan suhu di atas 30 derajat celcius dapat menggeser cita rasa dan produktivitasnya. Robusta lebih tangguh, tetapi tetap memiliki batas ketika suhu melebihi ambang ini. Padahal, biji kopi dari dua spesies tanaman ini, yaitu arabika dan robusta, merupakan sebagian besar pasokan kopi global.
Intergovernmental Panel on Climate Change telah lama mengingatkan bahwa perubahan suhu dan pola hujan meningkatkan risiko gagal panen pada komoditas tropis. Sebuah studi dalam jurnal Climatic Change (2015) bahkan memperkirakan bahwa tanpa adaptasi serius, luas lahan yang cocok untuk kopi global bisa menyusut hingga 50 persen pada 2050. Artinya, peta kopi dunia perlahan bisa bergeser, atau mengecil.
Dan tanda-tanda itu, semakin dekat saat ini.
Melewati ambang panas
Laporan More Coffee-Harming Heat Due to Carbon Pollution dari Climate Central pada Rabu (18/2/2026) menyebutkan bahwa polusi karbon telah menambah rata-rata 57 hari gelombang panas di lima negara pemasok kopi terbesar dunia, yaitu Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia. Padahal, kelimanya menyumbang sekitar tiga perempat pasokan kopi global.
“Perubahan iklim akan berdampak pada kopi kita. Hampir setiap negara penghasil kopi utama kini mengalami lebih banyak hari dengan suhu panas ekstrem yang dapat merusak tanaman kopi, mengurangi hasil panen, dan memengaruhi kualitas. Seiring waktu, dampak ini dapat menyebar dari perkebunan ke konsumen, hingga memengaruhi kualitas dan biaya kopi yang Anda minum setiap hari,” kata Kristina Dahl, Wakil Presiden Bidang Sains Climate Central, menyertai laporan ini.
Climate Central menganalisis suhu harian selama lima tahun terakhir (2021-2025) untuk memahami seberapa sering perubahan iklim mendorong suhu melewati ambang batas panas 30 derajat celcius yang merusak kopi di 25 negara di seluruh sabuk kopi dunia.
Untuk analisis ini, para peneliti menghitung jumlah hari tambahan dengan panas yang merusak kopi yang dialami negara-negara ini setiap tahun karena perubahan iklim. Analisis ilmu atribusi ini mencakup data suhu yang diamati dan perkiraan suhu yang akan terjadi di dunia tanpa polusi karbon yang berasal dari Indeks Pergeseran Iklim Climate Central.
Hasilnya menunjukkan, tak hanya di lima negara produsen utama, semua 25 negara penghasil kopi yang mewakili 97 persen produksi global, mengalami lebih banyak suhu panas yang merusak tanaman kopi. Perubahan iklim menyebabkan rata-rata, setiap negara mengalami 47 hari tambahan per tahun dengan suhu yang merusak tanaman kopi yang tidak akan terjadi tanpa polusi bahan bakar fosil.
Brasil, negara penghasil kopi terbesar di dunia, menghadapi rata-rata 70 hari tambahan dengan suhu panas yang merusak tanaman kopi setiap tahunnya karena perubahan iklim.
Indonesia sendiri, yang berkontribusi sekitar 6 persen suplai dunia, mengalami rata-rata 129 hari suhu panas yang berisiko merusak tanaman kopi pada 2025, dengan puluhan hari di antaranya dikaitkan langsung dengan perubahan iklim.
Sentra kopi lumpuh, mengakibatkan petani kehilangan mata pencaharian utama dan terganggunya rantai pasok kopi.
Tak hanya tambahan paparan panas, perubahan iklim juga meningkatkan kerentanan tanaman kopi menghadapi bencana. Anomali siklon Senyar yang memicu banjir dan longsor pada November 2025 lalu telah merusak perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh, yang selama ini menjadi salah satu produsen utama arabika Indonesia.
Lebih dari 13.000 hektar kebun kopi Arabika di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah hancur akibat bencana ini. Sentra kopi lumpuh, mengakibatkan petani kehilangan mata pencaharian utama dan terganggunya rantai pasok kopi.
Petani di garis depan
Bagi petani kopi, perubahan iklim memang bukan lagi akan, namun sudah mereka alami. Bunga yang rontok sebelum jadi buah, biji yang tak terisi penuh, dan kualitas yang turun sebelum sampai ke penggilingan, hingga bencana banjir dan longsor yang mengancurkan perkebunan menjadi ancaman yang kian nyata.
“Dengan analisis ini, kami hanya melihat tanaman kopi, tetapi perubahan iklim juga memengaruhi tanaman dan petani lain di mana-mana, dengan efek domino pada harga pangan dan mata pencaharian,” kata Dahl.
Di balik grafik harga yang menanjak, ada wajah-wajah petani kecil. Sekitar 80 persen kopi dunia diproduksi oleh petani kecil, yang menyumbang sekitar 60 persen pasokan global. Menanggapi laporan ini, Dejene Dadi, Manajer Umum Oromia Coffee Farmers Cooperatives Union (OCFCU), sebuah koperasi petani kecil yang merupakan salah satu produsen dan eksportir kopi terbesar di Ethiopia, mengatakan, "Petani kopi di Ethiopia sudah merasakan dampak panas ekstrem."
Ethiopia adalah tempat asal-usul kopi dunia. Namun, kini, kopi arabika Ethiopia, yang merupakan hasil utama mereka, sangat sensitif terhadap sinar matahari langsung yang kian panas. "Tanpa naungan yang cukup, pohon kopi menghasilkan lebih sedikit biji dan menjadi lebih rentan terhadap penyakit," kata dia.
Untuk melindungi pasokan kopi, Dadi meminta adanya dukungan kepada para petani kopi agar bisa beradaptasi dengan perubahan iklim. Namun dukungan adaptasi iklim yang mereka terima sangat terbatas.
Menurut analisis Cilmate Central, pada 2021, rata-rata bantuan adaptasi untuk petani kopi di dunia hanya setara 2,19 dollar AS per hari untuk satu hektar lahan, lebih murah dari secangkir kopi di banyak kota besar di dunia.
Ketika musim hujan datang tak menentu dan kemarau memanjang, petani menghadapi produktivitas yang turun, serangan hama meningkat, dan biaya produksi membengkak. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat bahwa perubahan iklim turut memperluas penyebaran penyakit seperti karat daun kopi (coffee leaf rust), yang sempat menghantam Amerika Latin pada awal 2010-an dan menyebabkan kerugian besar. Panas ekstrem dan penyakit menjadi kombinasi yang sulit ditangani tanpa teknologi, pembiayaan, dan akses informasi iklim.
Ironisnya, ketika harga dunia naik, tak selalu petani yang paling diuntungkan. Rantai pasok yang panjang membuat margin terbesar sering berhenti di hilir, di perdagangan dan ritel, sementara risiko terbesar tetap tinggal di hulu.
Kembali ke agroforestri
Sebagaimana disampaikan Dejene Dadi, tanaman kopi saat ini membutuhkan lebih banyak perlindungan tanaman-tanaman peneduh lain untuk mencegah paparan panas langsung. Itu artinya, hutan di sekitar perkebunan kopi perlu dijaga.
Di Indonesia, salah satu strategi adaptasi yang didorong adalah agroforestri, yaitu menanam kopi di bawah naungan pohon lain. Sistem ini menciptakan iklim mikro yang lebih stabil, menjaga kelembapan tanah, dan meredam suhu ekstrem.
Yosi Amelia, Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan mengatakan, pendekatan agroforestri bisa menjaga stabilitas ekologi kebun dalam konteks perubahan iklim. Sistem kopi dengan pohon naungan mampu menciptakan iklim mikro yang lebih stabil, menjaga kelembaban tanah, serta mengurangi dampak suhu ekstrem dan variabilitas curah hujan.
Praktik ini sejatinya bukan hal baru. Di Gayo, Toraja, hingga Flores, kebun kopi tradisional sejak lama berdampingan dengan pohon pelindung. Selain menjaga produktivitas, sistem ini membantu penyimpanan karbon dan melindungi keanekaragaman hayati. Ia memperlihatkan bahwa solusi kadang sudah ada dalam praktik lokal, tinggal diperkuat oleh kebijakan dan pembiayaan.
“Tantangan terbesar justru terletak pada tata kelola perkebunan kopi. Sebagian besar kopi Indonesia diproduksi oleh petani kecil dengan akses terbatas terhadap penyuluhan, pembiayaan, informasi iklim, dan pasar yang adil. Tanpa sistem tata kelola yang kuat, upaya adaptasi akan berjalan sporadis dan sulit mencapai skala yang dibutuhkan,” kata Yosi.
Tanpa dukungan sistemik, adaptasi ini akan berjalan sporadis dan dinilai tidak akan cukup untuk menghadapi gelombang panas yang mengancam produsen utama kopi dunia. Kenaikan harga 15 hingga 46 persen saat ini mungkin terasa sebagai angka di struk belanja atau menu kedai kopi. Tetapi di baliknya ada rantai panjang yang terhubung langsung dengan suhu bumi.
Lonjakan harga kopi ini menjadi barometer rapuhnya sistem pangan global. Ketika suhu naik, yang ikut memanas bukan hanya kebun, melainkan harga, ketimpangan, dan masa depan jutaan petani kecil.





