Umat Islam telah memasuki bulan Ramadhan 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Februari 2026. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, ibadah puasa dijalankan dengan menahan lapar dan dahaga sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Ketika mentari terbenam dan waktu Magrib tiba, berbuka puasa menghadirkan kebahagiaan yang tak terkira.
Berbuka puasa bukan sekadar momentum mengisi kembali energi tubuh, tetapi juga saat yang tepat untuk mengucap syukur dan memanjatkan doa. Dalam ajaran Islam, waktu berbuka termasuk salah satu waktu mustajab. Rasulullah SAW bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: seorang pemimpin yang adil, seorang yang berpuasa saat berbuka dan doa orang yang terzalimi, doanya diangkat di atas awan dan pintu-pintu langit dibukakan.” (HR Tirmidzi no. 2449)
Karena itu, membaca Doa Buka Puasa Ramadhan menjadi bagian penting dalam menyempurnakan ibadah puasa. Isi doa pada dasarnya tidak terbatas selama mengandung makna kebaikan. Imam al-Nawawi (w. 676 H) dalam karyanya Al-Adzkar merangkum lima ragam doa berbuka yang bersumber dari berbagai riwayat sahabat Nabi SAW.
Waktu berbuka menjadi momentum untuk memohon ampunan, keberkahan, serta diterimanya amal ibadah. Membaca Doa Buka Puasa Ramadhan menjadi wujud pengakuan bahwa segala kekuatan dalam menjalankan puasa berasal dari pertolongan Allah SWT.
Berikut lima doa yang disebutkan Imam al-Nawawi dalam Al-Adzkar.
1. Doa Saat Dahaga HilangDoa pertama berasal dari riwayat Abu Daud dari Sahabat Ibnu Umar RA. Rasulullah SAW, dalam riwayat tersebut dikisahkan membaca doa berikut saat berbuka:
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
(Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru in syaa Allah)
Artinya: “Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah.” (HR Abu Daud no. 2010)
2. Doa Syukur atas Rezeki BerbukaDoa kedua juga diriwayatkan oleh Abu Daud dari Mu’adz bin Zahrah. Rasulullah SAW juga membaca doa ini saat berbuka puasa
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
(Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu)
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.” (HR Abu Daud no. 2011)
Di tengah kebiasaan masyarakat, doa ini kerap ditambahkan dengan kalimat berikut:
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
(Allahummalakasumtu wabika aamantu wa’alarizqika afthortu birohmatikaya ar-hamarrahimin)
Artinya: “Ya Allah Dzat yang Maha Pemurah dari segalanya, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rizki dan kasih sayang-Mu aku berbuka.”
Penambahan tersebut tidak menjadi masalah selama maknanya baik. Sebagai bagian dari Doa Buka Puasa Ramadhan, bacaan ini menegaskan bahwa puasa dan rezeki berbuka sepenuhnya bersumber dari Allah SWT.
3. Doa Pengakuan atas Pertolongan AllahDoa ketiga berasal dari riwayat Ibnu Sunni dari Mu’adz bin Zahrah:
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أعانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ
(Alhamdulillahilladzi a’aananii fashamtu, wa razaqanii faafthartu)
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang menolongku maka aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.” (HR Ibnu Sunni)
Bacaan ini menunjukkan sikap tawadhu seorang hamba yang menyadari bahwa keberhasilan menjalankan puasa adalah berkat pertolongan Allah SWT.
4. Doa Memohon Diterimanya PuasaMasih dari riwayat Ibnu Sunni, namun melalui Sahabat Ibnu Abbas RA, terdapat doa berikut:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنا، وَعلى رِزْقِكَ أَفْطَرْنا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ
(Allahumma shumnaa, wa ‘alaa rizqika aftharnaa, fataqabbal minna innaka antas samii’ul ‘aliim)
Artinya: “Ya Allah, karena Kamu kami berpuasa, dan dengan rizki-Mu kami berbuka, maka terimalah (puasa) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (HR Ibnu Sunni)
Bacaan doa ini menitikberatkan pada harapan agar ibadah yang dijalankan diterima dan diberi ganjaran oleh Allah SWT.
5. Doa Memohon AmpunanDoa kelima berdasarkan riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Sunni dari Ibnu Umar RA:
اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي
(Allahumma inni asaluka birahmatikallatii wasi’at kulla syaiin antaghfira lii)
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”
Adab Berdoa yang Baik dan BenarSelain mengetahui ragam Doa Buka Puasa Ramadan, penting pula memahami adab berdoa yang baik dan benar.
Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa adab berdoa yang dianjurkan:
- Memulai dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi: Mengawali doa dengan memuji Allah SWT dan membaca shalawat merupakan bentuk penghormatan sebelum menyampaikan permohonan.
- Menghadap kiblat dan mengangkat tangan: Meski tidak wajib, adab ini dianjurkan dalam banyak riwayat sebagai bentuk kesungguhan dalam berdoa.
- Berdoa dengan penuh keyakinan: Doa hendaknya dipanjatkan dengan hati yang yakin bahwa Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.
- Tidak tergesa-gesa: Doa sebaiknya dibaca dengan tenang dan khusyuk, tidak sekadar formalitas sebelum menyantap hidangan.
- Menggunakan bahasa yang baik dan penuh harap: Isi doa tidak terbatas, selama mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat.
Kelima bacaan Doa Buka Puasa Ramadhan tersebut dapat diamalkan sesuai kemampuan dan kenyamanan masing-masing. Tidak perlu merasa risau mengenai riwayat mana yang paling sahih, karena seluruh doa tersebut disebutkan dalam literatur ulama seperti Imam al-Nawawi dalam Al-Adzkar.
Apabila terasa berat membaca seluruhnya sekaligus ketika berbuka, cukup memilih satu atau dua doa yang paling mudah dihafal dan dipahami maknanya. Yang terpenting adalah ketulusan hati dalam memohon kepada Allah SWT.
Dengan mengamalkan Doa Buka Puasa Ramadhan serta menjaga adab dalam berdoa, momen berbuka tidak hanya menjadi waktu melepas lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan memperkuat hubungan spiritual dan meraih keberkahan Ramadhan 1447 Hijriah.




