Mengenal Roehana Koeddoes, Pendiri Surat Kabar Perempuan Pertama di Indonesia

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Sejarah mencatat perempuan bernama Roehana Koeddoes sebagai wartawati pertama di Indonesia. Tidak hanya itu, perempuan asal Koto Gadang ini juga disebut sebagai pelopor pendidikan untuk perempuan di daerah asalnya.

Wajahnya sempat muncul dalam Google Doodle pada 2021. Sejak saat itu, namanya mulai dikenal oleh sebagian masyarakat, meskipun mungkin masih ada yang belum mengenal kiprahnya lebih jauh.

Mengenal sosok Roehana Koeddoes

Roehana Koeddoes lahir pada 20 Desember 1884 di Koto Gadang dari keluarga terpelajar yang cukup moderat pada masanya. Ayahnya, Muhammad Rasjad Maharaja Soetan, merupakan pegawai pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang menjabat sebagai kepala jaksa. Sementara itu, ibunya bernama Kiam.

Ia memiliki privilese berupa dukungan penuh dari keluarga untuk mengembangkan minatnya dalam membaca dan menulis. Roehana berkesempatan mengakses berbagai buku, surat kabar, hingga majalah yang dibelikan oleh ayahnya. Lingkungan yang kaya literasi ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan intelektualnya.

Sejak usia lima tahun, Roehana telah akrab dengan bahasa dan dunia bacaan. Dari sini kecintaannya terhadap menulis mulai tumbuh dan menyelimuti ambisinya.

Karier Roehana Koeddoes

Roehana tidak menempuh pendidikan formal, tapi ia punya kemampuan yang mumpuni soal menulis. Kemahirannya dalam merangkai kata kemudian ia wujudkan melalui kiprahnya sebagai wartawati pertama di Indonesia.

Karier jurnalistiknya dimulai pada 1908 di surat kabar Poetri Hindia. Di sini, Roehana tidak hanya menulis, tetapi juga melakukan peliputan dan menyusun beritanya sendiri. Selain aktif di media tersebut, ia juga rajin mengirimkan tulisan ke berbagai surat kabar lain.

Setelah dari Poetri Hindia, Roehana bekerja di surat kabar Oetoesan Melajoe yang telah terbit sejak 1911. Kinerjanya mendapat penilaian positif dari pendirinya, Datuk Sutan Maharaja. Melihat kapasitas dan konsistensinya dalam menulis, Roehana kemudian didorong untuk mendirikan surat kabar yang secara khusus membahas isu-isu perempuan.

Dorongan tersebut terwujud pada 12 Juli 1912, ketika Roehana menerbitkan surat kabarnya sendiri yang diberi nama Soenting Melajoe. Meski dalam proses penerbitannya mendapat dukungan dari Datuk Sutan Maharaja, susunan redaksi surat kabar ini sepenuhnya dikelola oleh perempuan, dengan Roehana sebagai pemimpin redaksi.

Roehana Koeddoes Jadi Perempuan Pertama yang Memimpin Surat Kabar

Surat kabar Soenting Melajoe menjadi media pertama di Indonesia yang dipimpin dan ditulis oleh perempuan. Isinya berputar pada isu perempuan dalam bentuk tulisan artikel, berita, sajak, hingga tajuk rencana.

Dikutip dari buku Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau (1850–1945) karya Yuliandre Darwis, empat halaman Soenting Melajoe secara konsisten memuat perdebatan dan pandangan perempuan Hindia Belanda mengenai pendidikan, kesehatan, agama, hingga budaya di setiap edisinya.

Meskipun menyajikan isu perempuan yang menarik dalam setiap lembarnya, perjalanan Soenting Melajoe berhenti pada Januari 1921.

Mendirikan Sekolah Khusus Perempuan

Selain aktif di dunia jurnalistik, Roehana juga berkontribusi besar dalam bidang pendidikan. Pada 1911, ia mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) yang diperuntukkan bagi kaum perempuan. Di sekolah ini, para perempuan diajarkan membaca, menulis, dan berhitung, serta berbagai keterampilan kerajinan.

Selain menjadi tempat pendidikan, sekolah ini berperan sebagai wadah pemberdayaan ekonomi perempuan di Koto Gadang. KAS juga mengelola sistem simpan pinjam untuk membantu para perempuan mengembangkan usaha yang akan dijalankan.

Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Selama hidupnya, Roehana memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan jurnalistik dan pendidikan perempuan di Indonesia. Atas jasa-jasanya tersebut, namanya diusulkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama Pemerintah Kabupaten Agam pada 2017.

Namun, dalam prosesnya, namanya sempat tersisih pada seleksi final oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Kementerian Sosial. Setelah penantian dua tahun, di 2019—Roehana akhirnya resmi dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Buka Puasa Ramadhan 2026 Jabodetabek Selama Sebulan Penuh
• 10 jam lalukatadata.co.id
thumb
Evakuasi Kereta Bandara di Stasiun Poris Selesai, Lalu Lintas dan Perjalanan Kembali Normal
• 2 jam laludisway.id
thumb
Get The Look: Inspirasi Outfit Bukber yang Sopan dan Simpel ala Melodi Laksani
• 59 menit lalubeautynesia.id
thumb
Akui Menyesal, Inara Rusli Sampaikan Permintaan Terbuka ke Wardatina Mawa
• 2 jam lalucumicumi.com
thumb
Ini Alasan Polisi Tak Menahan Richard Lee Usai Pemeriksaan sebagai Tersangka
• 34 menit lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.