EtIndonesia. Seorang perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah menerima bantuan pemerintah sebesar 2.000 yuan. Dia menggunakan uang itu untuk membeli 50 pasang kaus kaki, lalu menjualnya di pasar dengan harga 100 yuan per pasang. Setelah dikurangi modal, dia memperoleh keuntungan total 3.000 yuan.
Sementara itu, seorang penerima bantuan berpenghasilan rendah lainnya berpikir berbeda. Dia menganggap 2.000 yuan itu hanya cukup untuk biaya hidup sementara. Uang tersebut dia habiskan untuk kebutuhan sehari-hari—beras, minyak, garam, dan lain-lain. Namun dia menyisakan 100 yuan untuk membeli tiket lotre.
Jumlah uangnya sama, sama-sama 2.000 yuan. Yang pertama mengubah uang menjadi aset melalui jual beli, sedangkan yang kedua hanya menukarnya dengan biaya hidup. Secara kasat mata, hidupnya memang terasa terbantu, tetapi uang itu segera habis tanpa bekas.
Hal paling menyedihkan dari orang miskin bukanlah karena dia tidak punya uang, melainkan karena uangnya tidak pernah berubah dari biaya hidup menjadi modal.
Orang miskin bukan tidak punya modal untuk berinvestasi, melainkan tidak memiliki kesadaran untuk berinvestasi.
Perjalanan Waktu dan Perbedaan Masa Depan
Mari kita bayangkan apa yang terjadi selanjutnya pada dua orang ini.
Dengan modal 2.000 yuan untuk usaha kaus kaki, dalam satu bulan dia bisa memperoleh 5.000 yuan pendapatan, dengan keuntungan 3.000 yuan. Dari keuntungan itu, dia kembali mengambil 2.000 yuan untuk diputar lagi. Bulan berikutnya, dia kembali untung 3.000 yuan. Pada bulan ketiga, total keuntungannya sudah mencapai 9.000 yuan.
Beberapa tahun kemudian, dia bisa mempekerjakan orang lain, membangun “kerajaan kaus kaki”, dan akhirnya keluar dari kemiskinan.
Faktanya, cara berpikir orang miskin dan orang kaya memang sangat berbeda.
Kebanyakan orang, jika diberi 2.000 yuan, akan membeli beras atau garam.Diberi 4.000 yuan, mereka membeli ikan atau daging.Diberi 10.000 yuan, mereka membeli pakaian yang lebih bagus dan modis. Dan uang terakhir yang tersisa—bahkan 100 yuan pun akan dipakai membeli kupon undian.
Bagi mereka, cara menggunakan uang hanya bertujuan satu: “memperbaiki kondisi hidup saat ini.”
Bahkan jika tiba-tiba memperoleh 10 juta yuan, yang terpikir hanyalah segera membeli rumah dan mobil, lalu mengumumkan kepada dunia bahwa dia bukan orang miskin lagi.
Padahal, cara kita membelanjakan uanglah yang menentukan apakah kita miskin atau kaya.
Konsumsi yang Menguras, Bukan Menumbuhkan
Ada banyak barang yang tidak menambah nilai, malah terus menguras uang.
Contohnya mobil. Setelah membeli mobil, kita harus menanggung biaya bensin, asuransi, perawatan, perbaikan, bahkan biaya parkir. Jika uang hanya terus keluar tanpa pernah masuk, sebanyak apa pun uang yang kita miliki, pasti akan habis.
Orang miskin miskin bukan karena tidak punya modal, melainkan karena kesadaran investasinya kabur.
Jika seseorang memiliki rencana dan konsep investasi yang jelas, bank justru penuh dengan dana.
Karena tidak memiliki kemampuan, pengalaman, dan keterampilan dalam mengelola uang, orang miskin terjebak dalam lingkaran setan: yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Ketika orang miskin meniru kemewahan orang kaya, itu seperti katak yang menggembungkan perut untuk menandingi kerbau—konyol dan menyedihkan.
Langkah pertama menuju kekayaan adalah mengubah sebagian konsumsi yang bersifat beban hidup menjadi konsumsi yang bersifat aset.
Jika langkah pertama ini pun tidak pernah ditempuh, maka seseorang hanya bisa menghabiskan hidupnya dalam kemiskinan.
Hanya Selapis Tipis Perbedaannya
Antara kaya dan miskin, hanya ada selapis tipis perbedaan. Coba renungkan:
Siswa pintar makan—siswa nakal juga makan.
Siswa pintar tidur—siswa nakal juga tidur.
Siswa pintar melihat lawan jenis bisa berdebar dan tersipu—siswa nakal pun sama, bahkan mungkin detak jantungnya lebih kencang.
Kehidupan siswa pintar dan siswa bermasalah 99% sebenarnya sama. Perbedaannya hanya 1%.
Begitu pula antara miliarder dan pengemis— perbedaannya juga hanya 1%.
Jika seseorang tidak mampu menembus batas pola pikirnya sendiri, dia tidak akan pernah mampu melakukan hal besar.
Cara berpikir menentukan nasib, metode melahirkan kekayaan. Kondisi finansial pada dasarnya berakar dari pandangan sebuah keluarga terhadap uang dan kekayaan.
Renungan & Hikmah Cerita
Saat membaca artikel ini, pikiran pertama yang terlintas di benak saya adalah: orang pertama itu mungkin sudah keburu kelaparan sebelum 50 pasang kaus kakinya terjual.
Sementara orang kedua, meski uangnya habis, nyawanya terselamatkan. Selama masih hidup, harapan selalu ada.
Dalam kehidupan nyata, tidak mungkin segalanya berjalan semulus cerita— “beli 50 pasang kaus kaki, sehari laku semua, langsung untung 3.000 yuan.”
Berbisnis tidak pernah seratus persen menang. Tanpa pengalaman, tidak pandai membaca pembeli, gerak lamban, peluang untuk benar-benar menghasilkan uang dari bisnis sesungguhnya sangat kecil.
Namun jika dipikir lebih dalam, maksud penulis bukanlah soal teknis berdagang, melainkan ingin menegaskan bahwa perbedaan manusia tidak ditentukan oleh kondisi luar, tetapi oleh dunia batinnya.
Dunia batin—pola pikir dan sikap mental—itulah yang benar-benar menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang.
Jika seseorang hanya bergantung pada bantuan luar, sementara batinnya tidak bergerak, maka sebesar apa pun bantuan itu, ia akan kembali jatuh miskin.
Sebaliknya, jika batinnya aktif dan berusaha, maka meski tanpa bantuan luar, ia mampu menemukan jalan dan menciptakan peluang untuk berhasil.
Di bagian akhir, tulisan ini memberi satu sudut pandang lain yang sangat menarik:
Ketika melihat seseorang kelaparan, jangan hanya memberinya ikan dan joran— ajarkan juga cara memancingnya. Jika tidak, ia bisa saja memegang joran namun tetap mati kelaparan.
Catatan: Memancing itu perlu keterampilan. Tanpa kemampuan, bahkan menemukan ikan pun bisa menjadi masalah. (jhn/yn)





