Jakarta (ANTARA) - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai proyek hilirisasi Danantara berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif melalui peningkatan produktivitas, investasi, serta perbaikan distribusi manfaat ekonomi dalam jangka menengah hingga panjang.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti dihubungi di Jakarta, Jumat menyampaikan bahwa desain Danantara sebagai dana investasi strategis pemerintah dapat memperkuat kapasitas produksi nasional dan memperluas basis pertumbuhan ekonomi.
Proyek yang dijalankan kata dia, diarahkan untuk mengoptimalkan aset dan ekonomi nasional sehingga meningkatkan efisiensi produksi, termasuk pada aspek logistik, biaya operasional, dan alokasi modal yang lebih tepat sasaran.
Berdasarkan simulasi kebijakan fiskal dan makroekonomi yang digunakan Indef, implementasi proyek hilirisasi Danantara diproyeksikan meningkatkan output produk domestik bruto (PDB) secara signifikan, bahkan mendekati sekitar 3 persen di atas baseline pada fase awal sebelum stabil di kisaran lebih tinggi dalam jangka panjang.
Kenaikan ini kata dia didorong terutama oleh akumulasi kapital dan peningkatan produktivitas total faktor produksi (TFP) yang memperkuat kapasitas ekonomi.
"Ini menunjukkan pertumbuhan yang persisten, bukan lonjakan sementara," katanya.
Selain itu, ia menyampaikan, konsumsi agregat rumah tangga juga diperkirakan meningkat secara bertahap seiring kenaikan pendapatan riil dan produktivitas.
Meski terdapat penyesuaian konsumsi dalam jangka pendek akibat perubahan pola tabungan dan investasi, kondisi tersebut dinilai sebagai respons transisional menuju manfaat ekonomi yang lebih besar di masa depan.
Indef juga melihat dampak distribusi dari kebijakan ini menunjukkan adanya respons di berbagai kelompok masyarakat dari sisi pendapatan, termasuk peningkatan penawaran tenaga kerja yang relatif lebih tinggi pada kelompok berpendapatan rendah.
Ini katanya, mencerminkan peluang peningkatan pendapatan dan partisipasi ekonomi yang lebih luas, sehingga memperkuat karakter inklusif dari pertumbuhan yang dihasilkan.
"Setelah periode penyesuaian, upah bergerak naik secara stabil dan berkelanjutan, seiring dengan penguatan kapasitas produksi dan aktivitas ekonomi," katanya.
Di sisi fiskal, pembentukan Danantara dinilai tetap menjaga keberlanjutan anggaran negara.
Pihaknya menilai rasio utang terhadap PDB bergerak dekat dengan baseline, sementara penerimaan pajak berpotensi meningkat seiring ekspansi basis pajak akibat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, bukan karena kenaikan tarif.
Indef menekankan bahwa keberhasilan Danantara dalam menciptakan pertumbuhan inklusif sangat bergantung pada kualitas tata kelola, seleksi proyek yang tepat, serta konsistensi kebijakan pendukung.
Adapun BPI Danantara menyiapkan 20 proyek hilirisasi strategis dengan total investasi mencapai 26 miliar dolar AS, serta menyerap lebih dari 600 ribu tenaga kerja.
Sebelumnya, Danantara pada Jumat (6/2/2026) melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I, dengan rincian sebagai berikut:
- Proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat (SGAR 1 dan SGAR 2), dengan total investasi 3 miliar dolar AS dan peningkatan kapasitas produksi di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
- Proyek bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, yang memproduksi etanol 30 ribu kilo liter per tahun
- Proyek biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah, yang memproduksi avtur hingga 6.000 barel per hari.
- Fasilitas integrated poultry di Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat, yang bisa menambah produksi 1,5 juta ton daging ayam, 1 juta ton telur, dan menciptakan 1,46 juta lapangan kerja baru.
- Pabrik garam dan mechanical vapor recompression (MVR) di Gresik, Manyar, dan Sampang, yang akan menambah kapasitas produksi PT Garam sebesar 380 ribu ton per tahun, sekaligus memperkuat swasembada garam.
Baca juga: Kadin sebut proyek hilirisasi Danantara pacu daya saing industri
Baca juga: Danantara groundbreaking 6 proyek hilirisasi senilai 7 miliar dolar AS
Baca juga: Mentan tekankan hilirisasi peternakan di Danantara stabilkan harga
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti dihubungi di Jakarta, Jumat menyampaikan bahwa desain Danantara sebagai dana investasi strategis pemerintah dapat memperkuat kapasitas produksi nasional dan memperluas basis pertumbuhan ekonomi.
Proyek yang dijalankan kata dia, diarahkan untuk mengoptimalkan aset dan ekonomi nasional sehingga meningkatkan efisiensi produksi, termasuk pada aspek logistik, biaya operasional, dan alokasi modal yang lebih tepat sasaran.
Berdasarkan simulasi kebijakan fiskal dan makroekonomi yang digunakan Indef, implementasi proyek hilirisasi Danantara diproyeksikan meningkatkan output produk domestik bruto (PDB) secara signifikan, bahkan mendekati sekitar 3 persen di atas baseline pada fase awal sebelum stabil di kisaran lebih tinggi dalam jangka panjang.
Kenaikan ini kata dia didorong terutama oleh akumulasi kapital dan peningkatan produktivitas total faktor produksi (TFP) yang memperkuat kapasitas ekonomi.
"Ini menunjukkan pertumbuhan yang persisten, bukan lonjakan sementara," katanya.
Selain itu, ia menyampaikan, konsumsi agregat rumah tangga juga diperkirakan meningkat secara bertahap seiring kenaikan pendapatan riil dan produktivitas.
Meski terdapat penyesuaian konsumsi dalam jangka pendek akibat perubahan pola tabungan dan investasi, kondisi tersebut dinilai sebagai respons transisional menuju manfaat ekonomi yang lebih besar di masa depan.
Indef juga melihat dampak distribusi dari kebijakan ini menunjukkan adanya respons di berbagai kelompok masyarakat dari sisi pendapatan, termasuk peningkatan penawaran tenaga kerja yang relatif lebih tinggi pada kelompok berpendapatan rendah.
Ini katanya, mencerminkan peluang peningkatan pendapatan dan partisipasi ekonomi yang lebih luas, sehingga memperkuat karakter inklusif dari pertumbuhan yang dihasilkan.
"Setelah periode penyesuaian, upah bergerak naik secara stabil dan berkelanjutan, seiring dengan penguatan kapasitas produksi dan aktivitas ekonomi," katanya.
Di sisi fiskal, pembentukan Danantara dinilai tetap menjaga keberlanjutan anggaran negara.
Pihaknya menilai rasio utang terhadap PDB bergerak dekat dengan baseline, sementara penerimaan pajak berpotensi meningkat seiring ekspansi basis pajak akibat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, bukan karena kenaikan tarif.
Indef menekankan bahwa keberhasilan Danantara dalam menciptakan pertumbuhan inklusif sangat bergantung pada kualitas tata kelola, seleksi proyek yang tepat, serta konsistensi kebijakan pendukung.
Adapun BPI Danantara menyiapkan 20 proyek hilirisasi strategis dengan total investasi mencapai 26 miliar dolar AS, serta menyerap lebih dari 600 ribu tenaga kerja.
Sebelumnya, Danantara pada Jumat (6/2/2026) melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I, dengan rincian sebagai berikut:
- Proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat (SGAR 1 dan SGAR 2), dengan total investasi 3 miliar dolar AS dan peningkatan kapasitas produksi di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
- Proyek bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, yang memproduksi etanol 30 ribu kilo liter per tahun
- Proyek biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah, yang memproduksi avtur hingga 6.000 barel per hari.
- Fasilitas integrated poultry di Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat, yang bisa menambah produksi 1,5 juta ton daging ayam, 1 juta ton telur, dan menciptakan 1,46 juta lapangan kerja baru.
- Pabrik garam dan mechanical vapor recompression (MVR) di Gresik, Manyar, dan Sampang, yang akan menambah kapasitas produksi PT Garam sebesar 380 ribu ton per tahun, sekaligus memperkuat swasembada garam.
Baca juga: Kadin sebut proyek hilirisasi Danantara pacu daya saing industri
Baca juga: Danantara groundbreaking 6 proyek hilirisasi senilai 7 miliar dolar AS
Baca juga: Mentan tekankan hilirisasi peternakan di Danantara stabilkan harga





