FAJAR, JAKARTA – Misteri hilangnya winger PSM Makassar, Ricky Pratama, dalam skuad melawan Persija terungkap. Pemain 22 tahun tersebut sedang berurusan hukum dengan Polda Sulsel.
Dia dipastikan absen dalam laga krusial melawan Persija Jakarta malam ini. Ia diduga terlibat kasus penganiayaan terhadap pacarnya yang kini tengah diselidiki pihak berwajib.
Publik sepak bola Makassar sempat bertanya-tanya mengenai hilangnya nama Ricky Pratama dalam beberapa laga terakhir Pasukan Ramang. Teka-teki tersebut akhirnya terjawab; pemain berlabel Timnas U-22 ini sedang tersandung masalah serius.
Ricky dilaporkan ke Polda Sulawesi Selatan pada Minggu (15/2/2026) atas dugaan kekerasan terhadap seorang perempuan berinisial AD. Kasus ini sebelumnya sempat memicu kegaduhan di media sosial.
Pelatih PSM Makassar, Tomas Trucha, memberikan konfirmasi bahwa sang pemain tidak diboyong ke Jakarta guna menghadapi Macan Kemayoran. Trucha menegaskan bahwa pihak klub sepenuhnya menyerahkan proses ini kepada pihak kepolisian. Memilih untuk kooperatif terhadap jalannya penyelidikan.
“Pemain dan klub bekerja sama dengan pihak berwenang. Sekarang, biarkan kepolisian menyelidiki dan memberikan umpan balik kepada kami,” ujar Tomas Trucha dalam konferensi pers sebelum pertandingan.
Fokus Tim dan Seleksi Pemain
Kehilangan satu opsi di lini serang tentu menjadi tantangan tersendiri, namun Trucha memilih untuk bersikap pragmatis. Ia menekankan bahwa fokus utamanya saat ini adalah memaksimalkan 32 pemain yang tersedia dan siap secara mental maupun fisik untuk bertarung di lapangan hijau.
Ricky Pratama sendiri sudah tidak terlihat dalam daftar susunan pemain sejak PSM ditumbangkan Dewa United di kandang sendiri.
Dengan situasi hukum yang masih berjalan, Trucha belum bisa memastikan kapan penyerang mudanya itu bisa kembali merumput.
Dampak Kasus terhadap Karier
Kasus yang menimpa Ricky Pratama bukan sekadar masalah pribadi, melainkan ujian besar bagi integritas pemain dan citra klub.
Masalah hukum yang menimpa pemain inti di tengah kompetisi dapat memecah fokus tim. Manajemen PSM harus bekerja ekstra keras untuk memastikan moral pemain lain tidak anjlok, terutama setelah hasil minor di laga-laga sebelumnya.
Ricky adalah salah satu talenta potensial yang dimiliki PSM dan Indonesia. Dia merupakan pemain berlabel Timnas Indonesia U-23.
Dengan adanya proses hukum di Polda Sulsel, momentum perkembangannya terancam terhenti. Jika terbukti bersalah, sanksi disiplin dari klub atau federasi biasanya menanti di luar hukuman pidana.
Langkah Tomas Trucha untuk memarkir Ricky adalah keputusan yang tepat secara etika profesional. Klub menunjukkan bahwa mereka tidak menoleransi tindakan kekerasan di luar lapangan.
Hal ini sekaligus memberikan ruang bagi pemain untuk menyelesaikan tanggung jawab hukumnya tanpa mengganggu persiapan tim. (*)





