Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan rencana disetopnya impor solar pada tahun ini tetap berjalan, meski terdapat kesepakatan pembelian produk BBM dari hasil negosiasi tarif resiprokal dengan Amerika Serikat (AS).
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan pembelian komoditas migas dari AS itu untuk menyeimbangkan neraca perdagangan antar kedua negara, namun tidak membatalkan kebijakan apa pun terkait kemandirian energi.
"Akhirnya memang kita harus bersepakat untuk membeli BBM dari Amerika. Tapi tidak melepaskan bahwa kita tetap harus mengedepankan kemandirian energi kita, dalam hal yang komitmen Pak Menteri untuk setop impor solar dan lainnya tetap jalan. Ini satu hal yang berbeda," ujar Anggia saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (20/2).
Meski begitu, Anggia enggan menjelaskan lebih lanjut terkait kesepakatan di sektor energi lainnya, seperti kerja sama di industri mineral kritis, pembangunan pembangkit nuklir, dan impor bioetanol dari AS.
"Itu kan semua masih berproses ya, masih bernegosiasi semua, kita tunggu aja nanti delegasi balik, apa hasil keputusan dan kerja sama seperti apa yang sudah dilakukan dengan Amerika, pasti nanti akan disampaikan ke publik," kata Anggia.
Pemerintah Indonesia dan AS menyepakati Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang menetapkan tarif resiprokal 19 persen bagi sejumlah produk Indonesia ke AS. Kesepakatan diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington, D.C.
Di sektor energi, kesepakatan ini mencakup pembelian komoditas energi hingga pembangunan reaktor nuklir. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengatakan impor komoditas energi dari AS senilai USD 15 miliar per tahun, tercantum dalam 11 Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang diteken pada Kamis (19/2) malam waktu AS.
"Ada kesepakatan untuk melakukan impor gas dan crude oil nilainya 15 miliar dolar per tahunnya dan juga adanya rencana untuk lebih meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi terutama di dalam hal ini di bidang investasi," ungkap Rosan saat konferensi pers, Jumat (20/2).
Dalam dokumen ART, Indonesia akan mengimpor komoditas energi AS senilai USD 15 miliar, mencakup pembelian LPG senilai USD 3,5 miliar, minyak mentah senilai USD 4,5 miliar, dan pembelian bensin olahan senilai USD 7 miliar. Hal ini juga termasuk meningkatkan impor batu bara metalurgi AS untuk mendukung pembuatan baja dan industrialisasi lokal.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan tidak akan melakukan impor BBM jenis solar C48 sepanjang 2026. Alasannya, kebutuhan solar dalam negeri sudah ditopang oleh implementasi program campuran biodiesel B40 dan B60.
Meski begitu, Bahlil menjelaskan pemerintah masih bakal melakukan impor solar jenis C51 pada 2026 karena volume kebutuhan yang relatif kecil serta keterbatasan kesiapan kilang minyak dalam negeri untuk memenuhi permintaan nasional.





