FAJAR, MAKASSAR — Refleksi satu tahun Pemerintahan Munafri Arifuddin dan Aliyah Mustika Ilham (MULIA) menjadi panggung evaluasi. Sekaligus ruang kritik bagi wali kota dan wakil wali kota.
Hal itu tergambar dalam Talksow “1 Tahun Pemerintahan MULIA: Unggul, Inklusif, Aman dan Berkelanjutan”. Dihelat di Tribun Lapangan Karebosi, Jumat (20/2/2026).
Di balik angka-angka positif yang ditampilkan, muncul beberapa catatan dari kalangan akademisi. Mengingatkan pekerjaan rumah (PR) pemerintahan MULIA.
Sosiolog Dr Sawedy Muhammad S.Sos., M.Sc menilai, capaian indikator makro memang menunjukkan tren positif. Namun, menurutnya, pembangunan kota tak bisa hanya diukur dari deretan angka statistik.
Dalam refleksinya, Sawedy menggarisbawahi perlunya riset mendalam terkait perilaku anak muda di Makassar. Dia menilai kerap mudah tersulut emosi dan terjebak dalam konflik kelompok.
Fenomena ini, kata dia, tidak bisa disikapi secara reaktif. Melainkan harus melalui pendekatan ilmiah dan kebijakan berbasis data.
Selain itu, ia menekankan pentingnya langkah sistematis untuk mengurai persoalan kemacetan di Kota Makassar.
Pertumbuhan kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan, serta tata kelola transportasi publik yang belum optimal. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani.
“Harus ada upaya yang sistematis untuk mengurangi kemacetan di Makassar. Ini menyangkut kualitas hidup warga,” katanya dalam talkshow.
Persoalan banjir juga tak luput dari sorotan. Menurutnya, penanganan banjir membutuhkan strategi jangka panjang berbasis tata ruang, pengelolaan drainase, serta kesadaran kolektif masyarakat terhadap lingkungan.
“Masih ada fenomena strategis, aktual dan kritis yang perlu kita diskusikan bersama. Ini bukan untuk menjatuhkan, tapi sebagai masukan agar Makassar terus bergerak,” katanya.
Ia berharap, refleksi satu tahun ini menjadi momentum evaluasi substantif bagi wali kota dan seluruh jajaran pemerintahannya. (irm)





