YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Jejak biru indigo yang pernah menjadi komoditas perdagangan global kini dihadirkan kembali dalam ruang seni kontemporer.
Melalui Pameran Seni Print Kain Cap Biru Santung, Bentara Budaya Yogyakarta mengajak publik menelusuri sejarah panjang teknik tutup celup—sebuah metode pewarnaan kain kuno yang tak hanya menghubungkan Tiongkok dengan Nusantara, tetapi juga merekam pertukaran budaya lintas peradaban selama berabad-abad.
Pameran yang berlangsung pada 15–28 Februari 2026 ini mengangkat kekayaan visual tekstil tradisional Tiongkok, khususnya dari wilayah Santung (Shandong).
Fokus utama pameran terletak pada teknik resist dyeing atau tutup celup yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu sebagai metode pewarnaan kain berbasis pola dengan prinsip menutup sebagian permukaan kain sebelum proses pencelupan warna dilakukan.
Baca Juga: Fadli Zon Buka Pameran “Satu Tanah, Seribu Ketangguhan” di Bentara Budaya Jakarta
Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran bersumber dari dokumentasi historis klasik, salah satunya buku Gambar-Gambar Kain Tjap Biru Tiongkok terbitan Pustaka Bahasa Asing Peking pada 1956.
Publikasi tersebut merekam ragam motif serta teknik pewarnaan kain cap biru dari berbagai provinsi di Tiongkok, seperti Hunan, Zhejiang, Jiangsu, Hubei, Hebei, Anhui, hingga Shandong.
Kurator Bentara Budaya, Hermanu, dalam pengantarnya menjelaskan seni tekstil Tionghoa telah berakulturasi dengan budaya Nusantara sejak berabad-abad silam.
Melalui pameran ini, Bentara Budaya tidak hanya memperkenalkan kekayaan visual kain cap biru, tetapi juga membuka ruang dialog teknik antara tradisi tutup celup Tiongkok dan batik Nusantara.
“Tutup celup merupakan teknik kuno yang telah dikenal sejak zaman Firaun di Mesir dan menyebar ke Asia, termasuk China. Prinsipnya menutup bagian kain sebelum dicelup warna. Teknik batik Nusantara pun menggunakan prinsip serupa," kata Hermanu.
Ia juga menyoroti penggunaan bahan-bahan tradisional dalam pembuatan kain cap biru, seperti karton, lem kanji, dan pewarna alami nila.
Penggunaan material tersebut dinilai menjadi pengingat akan pentingnya praktik tekstil yang lebih ramah lingkungan di tengah dominasi pewarna sintetis dalam industri modern.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya
Sumber : Kompas TV
- Pameran Kain Cap Biru Santung
- Bentara Budaya Yogyakarta
- akulturasi batik
- teknik tutup celup
- resist dyeing
- kain indigo





