Ekonom Ungkap Alasan Neraca Pembayaran RI Terburuk Sejak 2004

cnbcindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita
Foto: Suasana Bundaran HI saat CFD. (Dok. Detikcom/Taufiq Syarifudin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2025 menunjukkan defisit terparah dalam dua dekade terakhir, tepatnya sejak 2004. Berdasarkan data Bank Indonesia, NPI 2025 tercatat defisit US$7,8 miliar. Kondisi ini berbanding terbalik dengan surplus US$ 7,2 miliar pada 2024.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan bahwa defisit NPI tersebut menandakan kebutuhan devisa untuk membiayai ekonomi dan transaksi keuangan terlampau besar dibanding devisa masuk.

"Defisit NPI 2025 sebesar sekitar USD $7,8 miliar menandakan bahwa sepanjang tahun tersebut kebutuhan devisa untuk membiayai aktivitas ekonomi dan transaksi keuangan lebih besar daripada pasokan devisa yang masuk," ujar Josua kepada CNBC Indonesia pada Jumat (20/2/2026).


Baca: Berdarah-Darah! Neraca Pembayaran RI Terburuk dalam 20 Tahun

Josua pun membeberkan ada dua dampak dari defisit NPI yang sangat lebar ke nilai tukar rupiah.

"Pertama, defisit NPI memperbesar risiko pelemahan rupiah karena permintaan valuta asing untuk impor, pembayaran pendapatan investasi, dan arus keluar modal cenderung lebih dominan dibanding pasokan dari ekspor, pariwisata, remitansi, serta arus masuk investasi," imbuhnya.

Sementara dampak kedua ketika tekanan rupiah meningkat, premi risiko dan biaya lindung nilai ikut naik, volatilitas pasar keuangan mudah membesar, dan ruang pelonggaran kebijakan moneter bisa menyempit karena bank sentral perlu menjaga stabilitas nilai tukar serta meredam inflasi impor.

Solusi memperbaiki NPI, menurut Josua, idealnya menargetkan dua sumber utama tekanan, yakni transaksi berjalan dan transaksi modal dan finansial, tanpa mengorbankan pertumbuhan secara berlebihan.

Baca: Siap-Siap! Besok Ada Pengumuman Besar, Berpotensi Guncang RI

Pertama, dari sisi transaksi berjalan, fokusnya adalah memperkuat kualitas dan daya saing ekspor bernilai tambah, mempercepat perbaikan logistik dan kemudahan usaha agar ekspor manufaktur lebih tahan terhadap siklus harga komoditas, serta mendorong penerimaan devisa jasa melalui pemulihan pariwisata dan penguatan kapasitas jasa domestik yang selama ini banyak menyedot devisa.

Kemudian, Josua juga melihat dari sisi transaksi modal dan finansial, prioritasnya menggeser sumber pembiayaan eksternal ke arus masuk yang lebih stabil seperti investasi langsung, yang sangat bergantung pada kepastian kebijakan, tata kelola yang kredibel, dan kepercayaan investor.

"Ketika faktor-faktor ini membaik, kebutuhan mempertahankan stabilitas rupiah lewat kebijakan penyangga menjadi lebih ringan."

Josua juga mengatakan bahwa secara operasional, koordinasi pemerintah dan bank sentral juga perlu memastikan kebutuhan pembiayaan valas dikelola hati-hati, memperluas pendalaman pasar keuangan domestik, dan memperkuat budaya lindung nilai agar permintaan devisa tidak melonjak mendadak saat terjadi guncangan.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Industri Kelapa Sawit Kian Berperan Strategis Bagi Ekonomi RI

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
1.800 Produk RI Bebas Tarif Impor 0% dari AS, Pengusaha Happy
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Berita Populer: BUMN Impor 35 Ribu Pick Up; Global NCAP Kritik Chery
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Pertamina Patra Niaga Ikut Tandatangani Kesepakatan di Washington DC, Amankan Pasokan Minyak Mentah dan LPG 2026
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Terungkap! Eks Kapolres Bima Diduga Terima Setoran Rp 2,8 Miliar dari Bandar Narkoba
• 21 jam laluliputan6.com
thumb
TNI Gencarkan Pembersihan SDN di Tapteng Demi Percepat Aktivitas Belajar
• 11 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.