Tirai-tirai yang terpasang di rumah makan saat Ramadan punya cerita sendiri. Seperti dituturkan pemilik warung makan di kawasan Jakarta Selatan.
Suci (40), salah satu pemilik Warung Tegal (Warteg) di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, mengaku pemasangan tirai di warungnya merupakan ikhtiar dia untuk menghormati orang-orang yang berpuasa.
Suci berharap tirai itu bisa melindungi pandangan mereka yang berpuasa dari makanan atau juga orang yang sedang makan di warungnya.
Suci yakin mereka yang berpuasa tidak akan tergoda, tapi dia menghormati mereka dengan menutup wartegnya dengan tirai.
Selain itu juga, kata Suci, tirai itu juga menjaga pelanggan yang tak berpuasa agar tidak malu saat makan siang.
"Ya kan menghargai yang puasa gitu. Terus kadang yang makan juga katanya malu kan lagi bulan puasa gitu," ujar Suci, Jumat (20/2).
Saat kumparan mampir ke warung makan milik Suci, ada dua orang pelanggan di dalam yang sedang menyantap makanan.
Kata Suci, sebenarnya di hari biasa, saat jam makan siang warung makannya ramai. Di bulan Ramadan ini memang ada perubahan pola pelanggan. Lebih banyak saat jelang buka dan sahur.
Tirai ini sendiri menyelimuti Warteg milik Suci sejak pagi hingga jelang buka puasa.
"Jam 5-an kita mulai dicabut. Kadang kalau misalnya masih malu juga, 'Bu pasang aja', ya sudah enggak apa-apa. Entar nunggu buka puasa baru dicabut gitu," ungkap Suci.
Meski Suci turut berpuasa, tapi warung makannya ini tetap buka karena satu-satunya mata pencaharian keluarga. Ia pun meniatkan Warteg miliknya diperuntukkan bagi orang-orang yang memang tidak menjalankan puasa.
"Kita kan buka juga buat yang enggak puasa niatnya gitu. Kalau misalkan tutup kan kasihan yang enggak puasa mau cari warung di mana," tutur Suci.
Tirai juga menyelimuti warteg milik Aryanto (40) yang berada di Jalan Cempaka II, Jakarta Selatan. Tirai oranye tampak senada dengan warna Warteg miliknya yang diniatkan agar orang-orang di luar tak mengenali pelanggannya yang makan siang.
"Ya umumnya sih kita buat nutupin orang yang makan doang supaya orang lewat juga enggak begitu lihat sih. Yang lewat pun enggak ngenalin yang di dalem itu siapa," kata Aryanto.
Meski begitu, hanya segelintir saja orang yang datang makan di tempatnya saat siang.
"Ya kayak gini aja tuh, kosong gitu entar ada satu, dua, satu, dua, gitu aja," ungkap Aryanto.
Aryanto mengaku Warteg miliknya kini ramai saat sahur dan jam buka puasa tiba. Oleh karena itu, ia pun mengubah jam memasaknya dari yang sebelumnya pagi menjadi menyesuaikan jam berpuasa sahur dan berbuka.
"Jadi biasanya itu puasa jam 3 (pagi) masak, terus jam 10 malam, jam 10 itu sudah mulai masak," ujar Aryanto.
Namun berbeda dengan salah satu warung kopi (Warkop) di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan. Pegawai di sini, Dana (27) justru mengaku Warkop di sini ramai dikunjungi siang hari di tengah bulan Ramadan.
"Kalau siang malah rame ya. Kalau malam jadi sepi pas bulan puasa," kata Dana.
"Kalau bulan-bulan biasa kan ramainya malam. Kebalik," imbuhnya.
Warkop yang ditutup tirai putih ini akan dicabut ketika sahur dan buka jam puasa tiba.
Dalam operasinya selama 24 jam, Dana mengaku para pelanggan ramai membeli mi instan dan minuman di kala siang selama dua hari terakhir puasa ini.
"Indomie sama es sih, kebanyakan," ungkap Dana.





