Dakwah NU di Abad Kedua: Menavigasi di Tengah Badai Kesenjangan Digital

republika.co.id
9 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh KH Imam Jazuli Lc., MA*

 

Baca Juga
  • BI Optimalkan Insentif bagi Bank yang Turunkan Suku Bunga Kredit
  • Perang Melawan 'Scroll' dan 'Mood' Mahasiswa: Mengapa Jurnal Ilmiah Tetap Terjebak di Layar Kaca?
  • KPK Ungkap Alasan tak Bisa Lagi Cegah Bos Maktour Fuad Hasan ke Luar Negeri

Nahdlatul Ulama (NU) telah menapakkan kakinya di abad kedua. Sebuah pencapaian sejarah yang luar biasa, di mana fondasi tradisi Aswaja An-Nahdliyah berhasil dirawat melintasi zaman. Namun, memasuki milenium kedua, tantangan yang dihadapi tidak lagi sekadar fisik-kultural, melainkan teknologis-ideologis.

Salah satu tantangan paling mendesak dan krusial bagi NU saat ini adalah kesenjangan digital. Dunia dakwah kini tidak hanya berada di atas mimbar masjid atau surau pesantren. Kiblat audiens telah beralih ke layar kaca digital: smartphone, media sosial, dan platform konten instan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Tragisnya, dalam kecepatan siber, konten-konten moderat yang mengusung Islam wasathiyah (moderat) seringkali kalah cepat dibanding narasi ekstrem dan radikal. Narasi ekstrem seringkali disajikan dalam kemasan visual yang bombastis dan menarik, menyasar generasi muda yang membutuhkan jawaban agama secara cepat, instan, namun mendalam.

Kebutuhan umat, khususnya Nahdlin akan bimbingan agama yang solutif di era digital ini belum sepenuhnya terpenuhi oleh gerakan dakwah konvensional yang cenderung lambat dan kurang adaptif.

Strategi Kebudayaan Cyber

Kesenjangan digital bukan hanya soal siapa yang punya akses internet dan siapa yang tidak. Dalam konteks NU, ini adalah gap kemampuan antara narasi moderasi yang berakar pada khazanah kitab kuning dengan kecepatan narasi ekstrimisme di ruang siber. Jika narasi moderat kalah cepat, maka ruang publik maya akan didominasi oleh pemahaman yang kaku, eksklusif, dan mudah menyalahkan, yang pada akhirnya mengancam keharmonisan beragama.

Solusi ke depan adalah jihad literasi digital. NU perlu membangun ekosistem di mana setiap Nahdliyin adalah agen moderasi. Jika narasi ekstremisme adalah virus di ruang siber, maka konten moderasi yang estetis dan mendalam adalah vaksinnya.

l

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bersaing dengan Timnas Indonesia di FIFA Series 2026, Jadi Kesempatan Bulgaria Turunkan Pemain Minim Pengalaman
• 8 jam lalubola.com
thumb
Ketua BEM UGM Ngaku Diteror, Natalius Pigai: Orang yang Menantang MBG Tak Punya Hari Nurani
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Polemik Bising Lapangan Padel Ganggu Warga Gandaria Selatan
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Tarif Nol Persen Kedelai dan Gandum AS, Airlangga Pastikan Tak Picu Inflasi
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Emas Antam Hari Ini Naik Rp28.000/Gram
• 19 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.