- Samad Husein bertugas menjaga keamanan di gerbang Masjid Istiqlal selama 12 jam setiap hari sejak pukul delapan pagi.
- Siti Khoirun Nissa (Nissa) baru mulai bekerja membersihkan toilet dan membagikan takjil di masjid tersebut sejak pukul 14.00 WIB.
- Kedua pekerja tersebut menjalankan kewajiban puasa Ramadhan sambil menghadapi tantangan fisik seperti rasa lelah dan haus saat bekerja.
Suara.com - Sejak pagi, langit Jakarta tak benar-benar cerah. Hujan turun bergantian dengan gerimis, menyisakan udara lembap yang menggantung hingga siang hari.
Di bawah atap tenda berwarna biru, Samad Husein sesekali keluar dari pos jaga menuju gerbang Masjid Istiqlal untuk mengatur kendaraan roda empat yang keluar-masuk. Ia sudah berseragam lengkap krem dan cokelat sejak pukul delapan pagi, menyambut jemaah yang datang sekaligus memastikan situasi tetap aman.
Di bulan Ramadhan, ritme kerjanya tak berubah. Ia tetap siaga selama 12 jam.
“Ini kan bulan suci Ramadhan. Bulan itu kan bulan suci yang wajib. Di bulan suci ini kan lebih baik untuk berbanyak ibadah,” ujarnya saat ditemui di gerbang Masjid Istiqlal pada Jumat (20/2/2026).
Bagi Samad, menjalankan tugas keamanan dan ibadah puasa bukan dua hal yang dipertentangkan. Ia menyebut keduanya sebagai kewajiban yang berjalan beriringan.
“Selama ini juga saya menjalankan, saya jalan pekerja ini untuk sambil kerja dan berpuasa. Itu ya menjalankan kewajiban, karena saya juga niat,” katanya.
Namun, ia tak menampik tantangan fisik yang menyertai.
“Kalau untuk yang saya rasain sih, rasa ngantuk pasti. Tapi ya mau gimana lagi, menjalankan kewajiban saya,” tutur pria yang tinggal di Bekasi Utara itu.
“Kalau untuk yang namanya nasi lapar atau haus sih pasti ada, tapi karena dalam hati untuk niat,” tambahnya.
Baca Juga: Menjelang Berbuka, Warga Ramai Berburu Takjil di Masjid Agung Sunda Kelapa Menteng
Gerbang Masjid Istiqlal, tempat Samad Husein bekerja. (Suara.com/Dinda Pramesti K)Setiap hari, Samad bertugas dari pukul 08.00 hingga 20.00 WIB. Setelah itu, ia pulang-pergi Bekasi–Jakarta.
“Masuk dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Kerjanya 12 jam,” katanya.
Jika hari sebelumnya ia berbuka bersama keluarga, kali ini ia berencana berbuka bersama rekan kerja dan jemaah di masjid.
“Hari ini mungkin sama teman-teman, sama jemaah-jemaah yang di Istiqlal. Insya Allah bisa berbuka puasa bareng-bareng,” ujarnya.
Di balik pengamanan yang tampak tenang di halaman masjid, ada ruang lain yang tak pernah benar-benar sepi: toilet perempuan.
Di sanalah Siti Khoirun Nissa atau biasa disapa Nissa (20), menjalani hari pertamanya membantu pembagian takjil sekaligus membersihkan toilet di Masjid Istiqlal.
“Baru. Ini hari pertama,” kata Nissa singkat ketika ditanya soal pekerjaannya.
Ia mulai bekerja sejak pukul 14.00 hingga 21.00 WIB. Sebelum waktu pembagian takjil tiba, ia lebih dulu membersihkan toilet.
“Dari jam 2 sampai jam 9. Ngepel dulu. Bantu di toilet,” ujarnya, saat ditemui Jumat (20/2/2026).
Siti Khoirun Nissa, petugas kebersihan di Masjid Istiqlal. (Suara.com/Dinda Pramesti K)Ramadhan membuat aktivitas di area tersebut meningkat. Jemaah datang silih berganti untuk berwudhu dan menggunakan fasilitas sebelum berbuka maupun shalat tarawih. Artinya, lantai harus lebih sering dipel dan kebersihan dijaga ekstra.
Meski demikian, Nissa mengaku menikmati peran barunya.
“Puasa, alhamdulillah. Senang bisa bantu-bantu,” katanya.
Ia mengetahui kesempatan membantu di masjid dari ayahnya yang juga bekerja di sana.
“Dari papa. Papa aku kerja di sini,” tuturnya.
Setiap sore sekitar pukul 16.00 WIB, ia bersiap membagikan takjil kepada jemaah. Namun, pembagian itu tak selalu berjalan mulus.
“Ada tadi, kemarin. Minta takjil lagi, cuma kan disuruh satu-satu ya. Ada yang ngaku-ngaku belum dibagi,” katanya mengenang kejadian hari sebelumnya.
Meski menghadapi situasi semacam itu, Nissa tetap melanjutkan tugasnya hingga waktu berbuka tiba. Setelah itu, ia pulang ke rumahnya di kawasan Citayam bersama sang ayah.
Di satu sisi masjid, Samad menjaga keamanan agar jemaah dapat beribadah dengan tenang. Di sisi lain, Nissa memastikan fasilitas tetap bersih dan layak digunakan.
Keduanya menjalani puasa di tengah jam kerja panjang, dengan tantangan fisik yang nyata seperti rasa lelah, kantuk, dan haus, tetapi tetap bertahan dengan niat yang sama.
“Yang penting udah dalam hati, udah niat,” kata Samad.
Ramadhan di Istiqlal bukan hanya tentang ribuan orang yang memadati shaf shalat atau berbuka bersama. Namun juga tentang mereka yang tetap berdiri, mengepel, dan berjaga agar ibadah orang lain dapat berlangsung tanpa gangguan.
Reporter: Dinda Pramesti K




