Terkini, Makassar — Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tahun 2026 tetap berada pada jalur stabil, meski dihadapkan pada sejumlah tantangan, khususnya di sektor investasi dan infrastruktur.
Kepala Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan bahwa ekonomi Sulsel pada 2026 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,0 hingga 5,8 persen (year on year). Proyeksi tersebut disampaikan dalam bincang-bincang media yang berlangsung di House of Rewako Makassar, Jumat 20 Februari 2026.
Menurut Rizki, proyeksi tersebut mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan domestik yang masih dinamis, termasuk tantangan pada sisi investasi serta belum optimalnya kinerja beberapa lapangan usaha utama.
“Pertumbuhan ekonomi Sulsel 2026 kami perkirakan tetap stabil di kisaran 5,0–5,8 persen, namun memang ada beberapa tantangan yang perlu menjadi perhatian, terutama terkait investasi dan kinerja sejumlah sektor usaha,” ujarnya.
Efisiensi Investasi Masih Jadi PRSalah satu sorotan utama Bank Indonesia adalah tingkat efisiensi investasi yang masih relatif rendah. Hal ini tercermin dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang masih lebih tinggi dibandingkan negara tetangga.
“ICOR Indonesia masih lebih tinggi dibanding Malaysia dan Vietnam. Ini menunjukkan bahwa investasi di dalam negeri, belum sepenuhnya efisien,” kata Rizki.
Berdasarkan paparan BI, meskipun efisiensi investasi di Sulsel menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa tahun terakhir, ketergantungan pada pembiayaan tertentu serta perlambatan belanja pemerintah daerah berpotensi menahan laju Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ke depan.
Infrastruktur Jalan Hambat Minat InvestorSelain efisiensi investasi, Rizki juga menyoroti keterbatasan infrastruktur, khususnya akses jalan, yang masih menjadi penghambat masuknya investor ke sejumlah daerah di Sulsel.
Ia mencontohkan kasus investor di sektor rumput laut yang menghadapi kendala serius meskipun potensi lahannya tersedia.
“Di Bone, ada investor rumput laut yang sebenarnya sudah siap masuk. Lahannya ada, tetapi akses jalannya sangat sulit. Jaraknya jauh dan kondisi jalan kurang mendukung untuk akses kendaraan,” ungkapnya.
Menurut Rizki, persoalan infrastruktur seperti ini membuat biaya investasi menjadi lebih mahal dan menurunkan daya tarik daerah sebagai tujuan penanaman modal.
Konsumsi dan Inflasi Tetap TerjagaDi sisi lain, BI Sulsel menilai konsumsi rumah tangga masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. Inflasi Sulsel pada 2026 juga diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran 2,5 ±1 persen, seiring penguatan koordinasi pengendalian inflasi dan menjaga pasokan pangan.
“Selama daya beli masyarakat terjaga dan inflasi tetap terkendali, konsumsi domestik akan terus menopang pertumbuhan ekonomi Sulsel,” jelas Rizki.
Dorong Sinergi dan Percepatan Belanja ProduktifKe depan, Bank Indonesia mendorong penguatan sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga keuangan untuk mempercepat realisasi belanja produktif, memperbaiki kualitas infrastruktur, serta mendorong diversifikasi ekonomi.
“Perbaikan infrastruktur dasar dan peningkatan efisiensi investasi menjadi kunci agar potensi ekonomi Sulsel bisa dimaksimalkan pada 2026 dan seterusnya,” pungkasnya.




