Bos Pertamina Jamin Impor Energi US$ 15 M dari AS Tetap Lewat Tender

wartaekonomi.co.id
7 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri memastikan, komitmen belanja energi senilai US$ 15 miliar atau setara Rp253 triliun dari Amerika Serikat (AS), akan dijalankan dengan prinsip transparansi penuh.

Simon menegaskan, meski ini merupakan tindak lanjut perjanjian tarif timbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS, prosedur pengadaan tetap mengikuti aturan korporasi yang ketat.

Ia menjamin prosesnya bakal dilakukan secara terbuka.

"Teknis yang kami lakukan ini adalah business as usual."

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Ikut Tandatangani Kesepakatan di Washington DC, Amankan Pasokan Minyak Mentah dan LPG 2026

"Jadi, sudah seperti yang kami jalankan selama ini."

"Yang kami jalankan selama ini tentunya proses ini akan melalui mekanisme tender dan bidding."

"Jadi tidak ada penunjukan langsung," tegas Simon di AS, Jumat (20/2/2026).

Simon menjelaskan, langkah ini bukan sekadar urusan diplomasi.

Selain memenuhi komitmen bilateral, pembelian energi ini sangat krusial untuk menjaga napas pasokan energi nasional ditengah trend natural decline.

"Kami juga telah melakukan sosialisasi tentang persyaratan sekaligus prosedur untuk menjadi bagian dari mitra Pertamina."

Baca Juga: Jaga Pasokan BBM Imlek dan Ramadan 2026, Pertamina Perkuat 'Benteng' Bawah Laut

"Ini yang terus kami lakukan dengan mitra-mitra yang ada di Amerika Serikat, dan tentunya terbuka, transparan," jelasnya.

Tak hanya soal transparansi, Simon juga menyinggung strategi diversifikasi.

Dengan menambah porsi dari Amerika Serikat, Pertamina memiliki posisi tawar yang lebih kuat untuk mendapatkan harga terbaik di pasar global.

"Kita juga harus memperbanyak sumber, agar kita memastikan memperoleh harga yang paling kompetitif."

"Dengan demikian, tadi selain sumber dari Asia Tenggara, Middle East, dan juga dari Afrika, kita juga melihat peluang yang besar sumber dari Amerika Serikat," paparnya.

Salah satu komoditas yang bakal digenjot adalah LPG.

Baca Juga: Pasca Insiden Pesawat Kargo, Pertamina Patra Niaga Siapkan Armada Pengganti untuk Jaga Pasokan BBM

Simon memproyeksikan porsi impor LPG dari AS akan melonjak signifikan.

Jika sebelumnya berada di kisaran 57%, maka ke depan kemungkinan bisa meningkatkan di level 70%.

Saat ini, Pertamina tengah mematangkan aspek administrasi dan perizinan bersama pemerintah.

Simon memastikan semangat transformasi di tubuh Pertamina akan menjaga proyek ini tetap sesuai koridor hukum yang berlaku di kedua negara.

Rencananya, realisasi belanja energi ini akan mulai dieksekusi dalam kurun waktu 90 hari ke depan, sejalan dengan rampungnya negosiasi antara RI dan AS.

"Pertamina dengan berbagai masukan dari semua pihak, yang tentunya peduli agar supaya proses dapat dilakukan sesuai prosedur, compliance sesuai aturan yang benar," tambah Simon. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masih Muda Tapi Detak Jantung Tak Teratur? Hati-hati Aritmia!
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
AS-Indonesia Sepakat Perkuat Pengembangan Rantai Pasok Mineral Strategis
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Seorang Anak Dicabuli Keluarga Sendiri, LPSK Siapkan Perlindungan Sampai Pulih
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Bandar Narkotika Penyuap AKBP Didik Resmi Jadi Tersangka, Polda NTB Masih Lakukan Pencarian
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, RI Siap Negosiasi Ulang
• 50 menit laluviva.co.id
Berhasil disimpan.