Bisnis.com, SURABAYA – Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional Surabaya terpantau semakin 'pedas', di mana saat ini harga bahan pangan tersebut terpantau telah dipatok hingga seharga Rp125.000 per kilogram.
Maysaroh pedagang cabai di Pasar Pucang Anom Surabaya membeberkan bahwa banderol cabai rawit saat ini bahkan lebih tinggi bila dibanding daging ayam dan daging sapi. Harga daging sapi kualitas terbaik hanya berkisar Rp110.000 per kilogram.
"Cabai rawit kalau harganya normal hanya Rp60.000 sampai Rp70.000 per kilogram. Sekarang sudah Rp125 ribu, lebih mahal dari daging ayam per kilogram Rp38 ribu dan daging sapi kualitas terbaik Rp110.000 per kilogram," ujar Maysaroh, Jumat (20/2/2026).
Berbanding terbalik dengan cabai rawit, perempuan berusia 56 tahun ini mengungkap harga-harga bahan pokok lainnya pada minggu pertama bulan Ramadan 1447 masih relatif terpantau stabil.
"Lain-lainnya masih normal, sayur normal. Hanya ada sedikit beda itu di bawang merah, harga bawang merah naik Rp5.000, dari harga normal Rp40 ribu sekarang menjadi Rp45.000," paparnya.
Menurut Maysaroh, dinamika harga cabai rawit sukar diprediksi bahkan sejak waktu yang lampau. Ia mencontohkan malam ini harganya bisa turun, tetapi pada dini hari hingga pagi hari tiba-tiba sudah menanjak tajam.
"Ya kalau katanya tengkulak yang nyetok itu, harga baik gara-gara stoknya kurang, gak ada stok banyak," imbuhnya.
Sementara itu, harga cabai rawit juga tampak melonjak di Pasar Keputran Surabaya. Salah satu bandar cabai Sarjuni menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Salah satu penyebabnya, tutur dia, dipengaruhi oleh kondisi petani cabai yang enggan melakukan aktivitas panen saat menginjak awal bulan Ramadan. Ia mengklaim saat ini para kaum tani masih sibuk mengikuti adat-tradisi di tempatnya masing-masing dalam rangka menyongsong bulan suci.
"Penyebabnya karena petani cabai jarang ada yang panen saat hari pertama atau awal-awal bulan puasa Ramadan. Ya kami bersyukur meskipun harganya mahal, saat ini masih banyak permintaan dari pembeli," jelas Sarjuni.
Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jawa Timur Nanang Triatmoko membeberkan meningkatnya harga cabai di pasaran saat ini salah satunya dipicu oleh faktor meningkatnya permintaan sementara kondisi stok saat ini relatif stagnan.
“Permintaan meningkat, sementara stok tidak berubah. Itu yang menyebabkan harga naik dalam sepekan terakhir,” ungkap Nanang.
Dirinya juga mengaku heran dengan lonjakan harga di tingkat konsumen. Pasalnya, banderol cabai rawit merah yang dipatok petani rata-rata masih seharga Rp70 ribu per kilogram, sementara cabai merah besar hanya sekitar Rp24.000 per kilogram.
Menurutnya, selisih harga yang jomplang tersebut kemungkinan terjadi di rantai distribusi. Selain itu, lanjut Nanang, kendala produksi akibat faktor cuaca dan serangan penyakit tanaman juga turut memengaruhi pasokan bahan pangan itu.
"Petani masih menghadapi kendala penyakit antraknosa dan curah hujan yang tinggi. Ini berdampak pada kualitas dan jumlah produksi,” beber Nanang.
Pihaknya pun berharap kondisi cuaca dapat segera membaik agar produksi cabai dapat normal seperti sebelumnya sehingga harga di pasaran dapat segera dikendalikan.




