Menelusuri 3 Masjid Tertua di Cirebon yang Masih Berdiri

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, CIREBON- Di pesisir utara Jawa Barat (Indonesia), jejak penyebaran Islam abad ke-15 masih bisa dilacak melalui bangunan-bangunan ibadah yang tetap bertahan di tengah modernisasi Kota dan Kabupaten Cirebon. Masjid-masjid kuno di wilayah ini bukan sekadar tempat salat, melainkan penanda fase penting lahirnya peradaban Cirebon sebagai simpul perdagangan, dakwah, dan kebudayaan.

Dari dinding bata merah yang tak diplester hingga atap tumpang khas arsitektur Jawa, tiap detail menghadirkan cerita panjang tentang pertemuan budaya lokal, Tionghoa, hingga pengaruh kerajaan Islam awal. Berikut daftarnya;

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid yang berdiri di kawasan Kompleks Keraton Kasepuhan, Jalan Kasepuhan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat ini diyakini dibangun pada 1489. Letaknya menyatu dengan lingkungan keraton, menegaskan hubungan erat antara kekuasaan politik dan penyebaran agama di masa awal Kesultanan Cirebon.

Dari halaman depan, kesan pertama yang muncul adalah kesederhanaan. Tidak ada kubah besar seperti masjid modern. Atapnya berbentuk limasan bertingkat (atap tumpang tiga), ditopang tiang-tiang kayu besar di ruang utama. Pintu masuknya relatif rendah. Siapa pun yang melangkah masuk akan otomatis menundukkan kepala—sebuah simbol penghormatan yang terasa kuat secara spiritual maupun filosofis.

Di dalam ruang salat utama, cahaya matahari masuk dari sela-sela ventilasi kayu dan jendela kecil. Lantainya masih mempertahankan nuansa lama, dengan permukaan yang terasa sejuk. Mihrabnya sederhana, namun sarat nilai historis. Mimbar kayu ukir menunjukkan pengaruh seni Jawa klasik, dengan ornamen yang tidak berlebihan.

Baca Juga

  • Ini Dia 5 Masjid Terbesar di Dunia, Berniat Salat di Sana?
  • Ruang CCTV Masjid Istiqlal Terbakar, Damkar Pastikan Tak Ada Korban Jiwa
  • Ramadan di Nusantara, Menag Tekankan Peran Masjid IKN sebagai Simbol Persatuan

Pantauan pada waktu Zuhur menunjukkan masjid ini tetap hidup sebagai pusat ibadah warga sekitar dan peziarah. Beberapa wisatawan terlihat memotret detail arsitektur, sementara jemaah lokal berbaur tanpa sekat. Area serambi menjadi ruang pertemuan informal, tempat warga berbincang setelah salat.

Keberadaan Masjid Agung Sang Cipta Rasa menjadikannya bukan sekadar bangunan tua, tetapi simpul identitas kota. Ia menjadi destinasi utama wisata religi Cirebon karena menyatukan sejarah kesultanan, peran ulama, dan kesinambungan tradisi hingga kini.

Masjid Merah Panjunan

Sekitar 2 kilometer dari pusat kota, tepatnya di Jalan Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, berdiri masjid berukuran relatif kecil dengan ciri paling mencolok, dinding bata merah tanpa lapisan semen. Inilah Masjid Merah Panjunan, yang oleh warga setempat kerap disebut “Masjid Abang”

Bangunan ini langsung memikat dari luar. Dinding bata merahnya mengingatkan pada arsitektur Majapahit. Pintu gerbangnya melengkung, dengan ornamen yang memperlihatkan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa. Ukurannya tidak besar, tetapi justru di situlah daya tariknya, intim, hangat, dan sarat sejarah.

Memasuki ruang dalam, suasana terasa teduh. Tiang-tiang kayu menopang atap tumpang dua. Tidak ada ornamen berlebihan. Keheningan ruangannya memberi kesan kontemplatif. Pada sudut tertentu terlihat detail keramik dan ukiran yang menunjukkan percampuran budaya pesisir.

Pantauan sore hari memperlihatkan aktivitas warga yang tetap memanfaatkan masjid ini untuk salat berjamaah. Anak-anak mengaji di serambi, sementara beberapa peziarah dari luar kota datang khusus untuk melihat langsung bangunan yang telah berusia lebih dari lima abad tersebut.

Masjid Merah Panjunan menegaskan karakter Cirebon sebagai kota pelabuhan yang terbuka pada interaksi budaya. Bata merahnya menjadi saksi bisu pertemuan saudagar, ulama, dan masyarakat lokal dalam membentuk wajah Islam pesisir yang moderat dan adaptif.

Masjid Pejlagrahan

Tak jauh dari kawasan Keraton Kasepuhan, tepatnya di Jalan Pejlagrahan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, berdiri masjid mungil yang sering luput dari perhatian wisatawan. Masjid Pejlagrahan memiliki ukuran lebih kecil dibanding dua masjid sebelumnya, namun nilai sejarahnya tidak kalah penting.

Ciri khasnya adalah pintu masuk yang rendah. Setiap orang yang masuk harus menunduk. Struktur bangunannya sederhana, didominasi kayu dan tembok tua yang telah beberapa kali dipugar tanpa menghilangkan bentuk asli. Atapnya masih mempertahankan model tradisional tanpa kubah.

Di dalam, ruang salatnya hanya mampu menampung puluhan orang. Tidak ada ornamen mencolok, tetapi aura historisnya terasa kuat. Dindingnya memancarkan nuansa kusam yang justru mempertegas usianya. Suasana di dalam terasa hening, jauh dari hiruk-pikuk kota.

Saat dipantau pada pagi hari, masjid ini digunakan warga sekitar untuk salat Subuh dan pengajian rutin. Beberapa peziarah datang dengan pakaian sederhana, duduk lama dalam diam. Lingkungannya yang relatif tenang membuat tempat ini cocok bagi mereka yang mencari suasana reflektif.

Masjid Pejlagrahan menjadi simbol kedekatan dakwah dengan masyarakat pesisir. Skala bangunannya yang kecil justru menunjukkan pendekatan yang membumi—agama hadir di tengah kehidupan sehari-hari nelayan dan warga biasa, bukan hanya dalam lingkup elite keraton.

Jejak tiga masjid kuno tersebut memperlihatkan satu benang merah: Islam di Cirebon tumbuh melalui proses kultural, bukan sekadar simbol monumental. Tidak ada kemegahan berlebihan, tetapi ada kesinambungan tradisi yang terjaga lebih dari lima abad.

Bagi wisatawan, rute kunjungan bisa dimulai dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa di kompleks keraton, berlanjut ke Masjid Pejlagrahan yang masih satu kawasan, lalu menuju Masjid Merah Panjunan. Jarak antar lokasi relatif dekat dan bisa ditempuh kurang dari 15 menit berkendara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jokowi Bicara di Forum Bloomberg di India, Eks PM Inggris Hadir
• 21 jam laludetik.com
thumb
3 Catatan Marcos Reina setelah Persik Ditekuk Bhayangkara FC di BRI Super League: Menyorot Kinerja Wasit Yudi Nurcahya
• 1 jam lalubola.com
thumb
Link Live Streaming BRI Super League: Semen Padang Vs Malut United
• 19 jam lalubola.com
thumb
Masjid Raya Singkawang, Jejak Sejarah 1870-an yang Tetap Kokoh Hingga Kini
• 16 jam lalutvrinews.com
thumb
Kakek Pedagang Mainan di Deli Serdang Cabuli Siswi SD, Korban Capai 28 Orang
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.