EtIndonesia. Pada Kamis (19 Februari), Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam acara pembukaan Board of Peace bahwa Amerika Serikat siap menyediakan dana bagi PBB dengan tujuan memperkuat fungsinya, agar lembaga tersebut dapat beroperasi secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Ia menggunakan istilah “menghidupkan kembali” untuk menggambarkan arah kebijakan ke depan, seraya mengatakan bahwa PBB memiliki potensi besar, namun selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Trump menyebut bahwa Komite Perdamaian, sampai batas tertentu, akan mengawasi PBB guna memastikan organisasi itu berfungsi dengan semestinya. Amerika Serikat akan memberikan dukungan finansial untuk menjamin kelengkapan fasilitasnya.
Trump juga memuji sumber daya manusia di internal PBB, mengatakan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Ia menilai PBB pada akhirnya harus menjalankan peran yang semestinya, dan hari itu akan menjadi hari yang besar.
Perlu dijelaskan latar belakangnya. Amerika Serikat selama ini merupakan penyumbang terbesar anggaran PBB. Namun, selama masa pemerintahan Trump, AS menolak membayar iuran wajib untuk anggaran reguler dan anggaran misi penjaga perdamaian PBB, serta secara signifikan mengurangi sumbangan sukarela kepada berbagai badan PBB.
Pada 11 Februari 2026, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengungkapkan di Jenewa bahwa Amerika Serikat akan membayarkan sejumlah dana dalam beberapa minggu ke depan, namun sekaligus menuntut reformasi PBB.
Ia mengatakan kepada media bahwa AS akan terus memberikan tekanan agar PBB meningkatkan efisiensi, dan menuntut lembaga-lembaga tersebut untuk menyelesaikan setidaknya jumlah pekerjaan yang sama dengan sumber daya yang lebih sedikit.
Trump juga menyampaikan pernyataan serupa bulan lalu, dengan mengatakan bahwa PBB seharusnya bertanggung jawab dalam menyelesaikan konflik dan perang, namun kenyataannya belum demikian. (hui)
Sumber : NTDTV.com




