DEMENSIA sering kali dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang lansia. Namun, fakta medis menunjukkan bahwa penurunan fungsi kognitif ini juga bisa menyerang mereka yang berada di usia produktif. Kondisi ini dikenal sebagai Young Onset Dementia (YOD) atau demensia onset muda.
YOD merujuk pada kondisi demensia yang muncul sebelum seseorang menginjak usia 65 tahun. Meskipun secara statistik paling sering berkembang pada usia 45-65 tahun, penyakit ini tetap dapat menyerang orang dari segala usia, termasuk mereka yang masih berusia 30-an.
Mengapa Diagnosis Demensia Usia Muda Sering Terlambat?Salah satu tantangan terbesar dalam menangani demensia usia muda adalah masalah diagnostik. Penelitian menunjukkan bahwa penderita YOD sering menghadapi keterlambatan diagnosis antara 3 hingga 5 tahun. Hal ini terjadi karena gejala awal YOD sering kali tidak berupa gangguan ingatan yang drastis, melainkan perubahan perilaku yang disalahpahami sebagai masalah kesehatan mental, stres kerja, atau depresi.
Baca juga : 9 Gejala Demensia yang Sering Terjadi dalam Kehidupan Sehari-hari, Waspadai Tanda Awalnya
Kondisi ini semakin kompleks karena penderita biasanya masih berada dalam usia produktif. Mereka sering kali masih memiliki tanggung jawab besar, seperti merawat anak-anak yang masih kecil atau mengurus orang tua mereka (sandwich generation), sehingga dampak psikososialnya jauh lebih berat dibandingkan demensia pada lansia.
Penyebab Penyakit Young Onset DementiaPenyebab YOD jauh lebih beragam jika dibandingkan dengan demensia pada lansia. Secara garis besar, penyebabnya dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok:
1. Demensia Primer- Alzheimer: Penumpukan protein amiloid di otak yang mengganggu komunikasi antar sel.
- Demensia Frontotemporal (FTD): Kerusakan pada lobus frontal dan temporal otak yang mengatur kepribadian.
- Demensia Vaskular: Gangguan kognitif akibat masalah aliran darah ke otak.
- Gaya hidup tidak sehat (merokok, konsumsi alkohol tinggi, kurang aktivitas fisik).
- Cedera kepala traumatis akibat kecelakaan atau olahraga berat.
- Infeksi sistem saraf seperti HIV atau Neurosyphilis.
- Penyakit neurologis lainnya seperti Huntington atau Parkinson.
Faktor keturunan memiliki peran yang lebih kuat pada demensia usia muda dibandingkan pada lansia. Mutasi gen tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini lebih awal.
Baca juga : Kenali Demensia dan Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter
Gejala yang Perlu DiwaspadaiGejala demensia usia muda sangat bergantung pada jenis demensia dan bagian otak yang terpengaruh. Berikut adalah perbedaan gejalanya:
Tanda-Tanda Alzheimer Usia Muda- Gangguan memori jangka pendek yang mengganggu aktivitas harian.
- Kesulitan menemukan kata yang tepat saat berkomunikasi.
- Disorientasi waktu dan tempat.
- Perubahan perilaku dan kepribadian yang drastis.
- Kehilangan empati dan kontrol diri (disinhibisi).
- Apatis atau kehilangan minat pada hobi yang sebelumnya disukai.
- Munculnya perilaku berulang atau obsesif.
Meskipun tidak ada jaminan mutlak untuk mencegah demensia, pilihan gaya hidup sehat sejak usia muda dapat menurunkan risiko secara signifikan. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang disarankan oleh para ahli:
Aspek Kesehatan Tindakan Pencegahan Fisik Olahraga rutin minimal 150 menit per minggu. Kebiasaan Berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol. Kognitif Aktif bersosialisasi dan terus melatih otak dengan hal baru. Medis Mengelola tekanan darah tinggi, kolesterol, dan diabetes. Keamanan Melindungi kepala dari benturan dan menjaga kesehatan indra (pendengaran/penglihatan).Kesadaran akan gejala awal dan penerapan gaya hidup sehat adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman demensia di usia muda. Jika Anda atau orang terdekat menunjukkan perubahan perilaku yang tidak wajar, segera konsultasikan dengan dokter spesialis saraf untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pertanyaan Sering DiajukanApakah demensia usia muda bisa sembuh?
Hingga saat ini, sebagian besar jenis demensia bersifat progresif dan belum ada obat untuk menyembuhkannya secara total. Namun, deteksi dini membantu pemberian terapi untuk memperlambat gejala.
Apakah stres bisa menyebabkan demensia?
Stres kronis dapat berdampak buruk pada kesehatan otak, namun biasanya stres lebih sering menjadi faktor pemicu atau memperburuk kondisi yang sudah ada daripada menjadi penyebab tunggal. (Alzheimer's Society/Medical Journal of Australia/Z-10)





