Warna kulitnya kuning. Menjadi buah yang paling dicari pada saat bulan Ramadan. Timun suri namanya.
Di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, buah timun suri nampak berjejer dengan bentuknya yang lonjong. Keberadaannya yang hanya saat Ramadan diakui oleh salah satu pedagang buah di pasar ini, Salim (53).
"Tiap tahun, setiap bulan puasa doang," kata Salim pada Sabtu (21/2).
Salim mengungkapkan bahwa timun suri merupakan buah yang dijual secara musiman. Menurutnya bila bukan Ramadan, buah ini sukar untuk ditemui kecuali di daerah-daerah.
"Jarang ada. Jarang yang jualan. Kecuali di kampung ya mungkin masih ada aja kalau di kampung," ujar Salim.
Buah timun suri, kata Salim, merupakan buah yang memang khas saat Ramadan. Menurut Salim, rasanya yang adem membuat buah ini menjadi pilihan berbuka puasa.
"Kalau di Jakarta mungkin ya memang tradisinya begitu, puasa aja. Buat rujak gitu, buat buka puasa. Soalnya dia paling enak ini, paling adem. Ya kalau buat buka puasa itu paling bagus," ungkap Salim.
Hal tersebut terbukti oleh salah satu pembeli di lapak buah milik Salim, yaitu Idrus (60). Idrus yang membeli dua buah timun suri ini mengaku membelinya karena sensasi rasa adem ke tenggorokan dan perut.
"Tenggorokan kita pas buka pake Timun Suri kan enak gitu. Ya rasanya adem di tenggorokan, ke perut juga adem," ucap Idrus.
Setiap bulan puasa tiba, Idrus selalu membeli buah ini selama dua hari sekali. Keluarga Idrus selalu senang ketika dibawakan buah yang hanya ada setahun sekali ini.
"Anak, di rumah pada suka, justru seneng kalau keluarga dibawain timun suri tuh," tutur Idrus.
Meski begitu, Ramadan kali ini pasokan buah timun suri tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal itu diutarakan oleh salah satu pedagang buah yang lain, Asep (45).
Asep biasanya mendapatkan pasokan buah timun suri sebanyak 1,5 ton per tiga hari. Namun kali ini pasokannya berkurang.
"Enggak ada barangnya. (Berkurang) lima puluh persen," ungkap Asep.
Menurut Asep, hal ini disebabkan karena hujan yang intens turun beberapa saat sebelum dan mulai Ramadan. Hal itu membuat buah timun suri tidak muncul dan pasokannya dari Pandeglang berkurang.
"Curah hujannya terlalu tinggi. Jadi enggak keluar buah. Cuma daun aja yang ijo," ujar Asep.
Hal senada juga dirasakan oleh Salim yang mendapatkan pasokan dari Serang. Ia mengaku jumlah buah timun suri yang dijualnya berbeda dari tahun sebelumnya secara jumlah.
"Sekarang berkurang. Jauh, berbeda. Karena ya hujannya seharian semalam kan pas munggah itu," kata Salim.
Biasanya ia menyetok buah timun suri sebanyak 1 ton sejak tiga hari sebelum Ramadan. Hal yang tidak dilakukannya pada edisi Ramadan kali ini.
"Kalau tiga hari lagi puasa, nyetok paling seton. Kalau sekarang ini enggak," tutur Salim.
"Karena di kampungnya juga enggak ada," imbuhnya.
Hal itu berimbas terhadap harga penjualan buah timun sari. Biasanya Salim mendapatkannya Rp 5 ribu per kilo, kini Rp 6 ribu bahkan lebih.
"Minimalnya paling nyampe Jakarta tuh lima ribu. Kalau sekarang di kampungnya aja udah enam ribu, kadang-kadang gak dapet," ungkap Salim.
Oleh karena itu, Salim pun menjual dalam rentang harga Rp 10 sampai 15 ribu untuk satu kilo.
"Biasa ini aja 10 sampe 15 ribu sekilo. Harga ya tergantung barang keadaannya," ujarnya.





