Capaian itu tak lepas dari kolaborasi dan kontribusi dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah kabupaten/kota hingga perguruan tinggi di wilayahnya.
Atas kolaborasi yang baik tersebut, Luthfi memberikan penghargaan kepada masing-masing pemerintah kabupaten/kota terbaik dan perguruan tinggi. Kategori kabupaten/kota terbaik diberikan kepada Kabupaten Banyumas, Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Pemalang, Kota Magelang, dan Kabupaten Magelang.
Sementara kategori perguruan tinggi terbaik diberikan kepada Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Muria Kudus (UMK), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
"Gubernur bukan superman, melainkan harus menggunakan super tim dalam rangka melakukan pembangunan di wilayah kita. Provinsi dengan 35 kabupaten/kota dan segala aspek yang ada, perlu adanya collaborative government (pemerintahan kolaboratif) yang harus kita ciptakan," kata Luthfi dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).
Hal tersebut ia katakan saat acara Anugerah Collaborative Award 2026 di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Jumat (20/2).
Karenanya, lanjut Luthfi, kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting. Salah satu di antaranya adalah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Satu tahun terakhir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng telah menjalin kerja sama dengan 44 perguruan tinggi. Di mana masing-masing perguruan tinggi telah menyumbangkan ide, gagasan, dan hasil risetnya untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Jateng.
Pada tahun 2026 ini, sebanyak 73 perguruan tinggi juga menandatangani kerja sama (MoU) dengan Pemprov Jateng. Penandatanganan dilakukan pada acara Anugerah Collaborative Government tersebut. Di luar itu, masih ada sekitar 123 perguruan tinggi yang nanti juga akan menjalin kerja sama dalam rangka membangun di Jateng.
Melalui kolaborasi itu, Luthfi menyatakan, Jateng mampu mendapatkan beberapa capaian positif selama 2025. Di antaranya, sebagai lumbung pangan, sepanjang 2025 produktivitas padi di Jateng mencapai sekitar 9,5 juta ton.
Selanjutnya pertumbuhan ekonomi Jateng pada 2025 mencapai 5,37% atau di atas rata-rata nasional. Hal itu juga diikuti dengan penurunan angka kemiskinan yang saat ini tercatat 9,39% dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) saat ini sekitar 4,66%.
Selain itu, angka kemiskinan di wilayah ini juga mengalami penurunan. Jumlah penduduk miskin Jateng pada September 2025 sebanyak 3,34 juta orang, turun 21,87 ribu orang dibanding Maret 2025, dan turun 51,52 ribu orang dibanding September 2024 yang sebanyak 3,40 juta orang
Bukan hanya itu, nilai realisasi investasi Jateng pada tahun 2025 mencapai Rp88,50 triliun, terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun, serta Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun. Diketahui, angka ini menjadi capaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Dari nilai investasi itu, terdapat sebanyak 105.078 proyek yang terealisasi, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang
"Salah satu investasi yang kita kejar adalah padat karya, ini untuk mereduksi angka pengangguran terbuka, tapi tidak menutup juga untuk padat modal," kata Luthfi.
Terkait investasi ini, Pemprov Jateng juga mengajak pemerintah kabupaten/kota untuk memberikan insentif kepada para investor yang telah berkontribusi. Di antaranya adalah relaksasi pajak, khususnya bagi investasi yang mengutamakan ekonomi hijau.
(prf/ega)





