Gelar Diskusi Publik, DPP GMNI Kupas Tuntas Disorientasi Fungsi Kementerian

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) menyelenggarakan Diskusi Publik bertema "Disorientasi Fungsi Kementerian: Antara Ambisi Politik dan Kepentingan Nasional" di Jakarta, pada Rabu, 18 Februari 2026.

Diskusi ini ditujukan agar kementerian dapat fokus terhadap pelaksanaan program kerja yang sudah dicanangkan. Bukan hanya dijadikan batu loncatan ambisi politik kekuasaan. 

Baca Juga :
DPD GMNI Jakarta: Kita Berdiri untuk Bela Kaum Marhaen
DPP GMNI 2025-2028 Dikukuhkan, Setia Pada Barisan Rakyat

Dalam diskusi yang dipandu oleh Ainun Samidah, Ketua Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI itu,  hadir para pembicara yakni Pengamat Politik Ray Rangkuti, Pengamat Sosial Hizkia Darmayana, Ketua Bidang Pertanian dan Perikanan DPP GMNI Ferdinando Saferi, serta Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DPP GMNI Adi Suherman Tebwaiyanan.

Ray Rangkuti menyatakan hubungan antara para Menteri Kabinet Merah Putih dengan rakyat telah diatur dalam konstitusi (UUD 1945). 

Dalam konteks keislaman, ada Fiqh Siyasah yang mengatur seluk-beluk tata negara berdasarkan prinsip syariat Islam untuk mewujudkan kemaslahatan rakyat. Salah satu yang diatur dalam fiqh siyasah itu adalah hubungan pemimpin dan rakyat.

"Nah dalam hal ini relasi yang seharusnya terbangun adalah pelayanan yang total dari pemerintah kepada rakyat sebagai tuannya, karena dalam demokrasi rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi," ujar Ray dalam keteranganya dikutip Sabtu, 21 Februari 2026.

Sementara Pengamat Sosial Hizkia Darmayana menyatakan, terjadinya disorientasi kementerian disebabkan adanya benturan antara perspektif etis-ideologis dengan perspektif praktis-realistis dikalangan para menteri.

Benturan itu terjadi karena kepentingan  politik para menteri terkadang bertentangan dengan nilai-nilai etis yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945. 

"Benturan itu tampak ketika ada kebijakan atau pernyataan para Menteri yang tak selaras dengan nilai-nilai etis dalam Pancasila dan UUD 1945, sebagai dasar dan konstitusi negara kita," ungkap Hizkia.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Pertanian dan Perikanan DPP GMNI Ferdinando Saferi mengungkapkan problematika kementerian telah ada sejak dahulu.

Problematika itu biasanya muncul ketika kebijakan para menteri tak mendatangkan kemaslahatan bagi rakyat. 

"Persoalannya adalah ketika problematika itu muncul secara berulang dari masa ke masa, seperti ketika ada menteri yang tak produktif, sehingga kementerian mengalami disorientasi fungsi.  Hal itu yang perlu kita kaji dalam diskusi ini," ujarnya.

Baca Juga :
Audiensi Bersama Pimpinan DPR, GMNI Sampaikan 5 Tuntutan Ini
Kongres Tandingan di Bandung Dinilai Inkonstitusional dan Ancam Persatuan GMNI
Kongres XXII GMNI Ditutup, Ketum Sujahri Sampaikan Pesan Ini

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Karhutla dominasi bencana Kepri, BNPB salurkan bantuan alat mitigasi
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Tumbang 2-1 dari Persija Jakarta, Pelatih PSM Makassar Curhat Terkait VAR Tak Berfungsi di JIS
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemain asing Persijap Jepara sebut lawan Persebaya seperti laga final
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Menlu Sugiono Pastikan Tak Ada Operasi Militer Pasukan Perdamaian yang Dikirim ke Gaza
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Berkah Ramadan di Masjid Agung Sunda Kelapa: Cerita Pedagang Gorengan Mengais Rezeki Demi Mudik
• 23 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.