EtIndonesia. Seorang pria Amerika memanfaatkan akhir pekan untuk mengajak anaknya yang berusia sembilan tahun memancing.
Di tepi sungai terpampang sebuah papan peringatan bertuliskan: “Waktu memancing dari pukul 09.00 hingga 16.00.”
Sesampainya di sungai, sang ayah mengingatkan anaknya agar membaca dengan saksama tulisan pada papan peringatan itu. Anak tersebut memahami dengan jelas bahwa memancing hanya diperbolehkan sampai pukul empat sore.
Mereka mulai memancing sejak pukul 10.30. Sekitar pukul 15.47, tiba-tiba anak itu melihat ujung jorannya melengkung hampir menyentuh permukaan air. Tarikan dari bawah air sangat kuat. Dia segera memanggil ayahnya untuk membantu—tanda bahwa mereka kemungkinan besar mendapatkan ikan besar.
Sang ayah membantu menarik senar sambil memanfaatkan momen itu untuk mengajari anaknya cara “bertarung” dengan ikan besar. Setelah beberapa kali tarik dan ulur, akhirnya mereka berhasil mengangkat seekor ikan besar: panjang sekitar 65 cm, lebar 22 cm, dan berat sekitar 3–4 kilogram.
Sang ayah memegang ikan itu dengan kedua tangan, menikmatinya bersama sang anak. Anak itu tampak sangat gembira dan bangga.
Namun tiba-tiba, sang ayah melirik jam tangannya. Senyumnya menghilang.
Dengan wajah serius dia berkata: “Sayang, coba lihat jam. Sekarang sudah pukul 16.12. Menurut aturan, kita hanya boleh memancing sampai pukul empat. Artinya, kita harus melepaskan ikan ini kembali ke sungai.”
Anak itu segera melihat jam di pergelangan tangannya—benar, pukul 16.12.
Namun dia tidak setuju dan berkata: “Kan waktu ikan ini menyambar umpan belum jam empat. Seharusnya ikan ini boleh kita bawa pulang.”
Sambil berkata demikian, anak itu menatap ayahnya dengan wajah penuh harap dan nada memohon.
Namun sang ayah menjawab tegas : “Aturannya hanya sampai pukul empat. Kita tidak boleh melanggarnya. Terlepas dari kapan ikan ini menggigit umpan, faktanya kita mengangkatnya setelah lewat pukul empat. Karena itu, ikan ini harus kita lepaskan.”
Anak itu kembali memohon : “Ayah, kali ini saja ya. Ini pertama kalinya aku mendapat ikan sebesar ini. Ibu pasti senang. Lagi pula, tidak ada orang yang melihat. Bolehlah kita bawa pulang.”
Sang ayah menjawab dengan tegas : “Tidak boleh hanya karena tidak ada yang melihat lalu kita melanggar aturan.Jangan lupa, Tuhan melihat. Dia tahu apa yang kita lakukan.”
Sambil berkata demikian, ayah dan anak itu bersama-sama melepaskan ikan tersebut kembali ke sungai.
Dengan mata berkaca-kaca, anak itu memandang ikan besar itu berenang menjauh. Dia tidak berkata apa-apa lagi, hanya diam-diam membereskan peralatan pancing bersama ayahnya dan pulang.
Lebih dari sepuluh tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi seorang pengacara yang sangat bereputasi.
Di ruang tamu kantornya tergantung sebuah papan bertuliskan : “Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak. Selebihnya berasal dari si jahat.”
(Bible, Injil Matius 5:37)
Setiap klien yang datang kepadanya, dia minta untuk membaca kalimat tersebut terlebih dahulu.
Lalu dia berkata: “Jika saya menemukan bahwa Anda menyembunyikan fakta atau tidak jujur, saya akan langsung menolak membela Anda. Karena saya tidak bisa membela orang yang tidak jujur. Itu bertentangan dengan iman dan suara hati saya.”
Pengacara itu bernama George Hamilton, berpraktik di Kota New York.
Kalimatnya yang paling terkenal adalah: “Saya tidak pernah memutarbalikkan fakta. Saya hanya mengatakan kebenaran apa adanya, karena Tuhan mengetahui setiap kata yang saya ucapkan.”
Kisah ini diambil dari United Daily News, dan berdasarkan pengalaman penulis, bukan cerita fiktif.
Suatu kali, ketika berwisata ke Pulau Vancouver di pantai barat Kanada, penulis berhenti di tepi laut untuk menikmati pemandangan. Tak jauh dari situ, beberapa remaja sedang memancing.
Tampak seorang remaja berhasil menangkap seekor kepiting. Namun dia tidak langsung memasukkannya ke wadah tangkapan. Dia justru mengeluarkan penggaris, mengukurnya, lalu—di luar dugaan—melemparkan kepiting itu kembali ke laut.
Karena penasaran, penulis mendekat. Dia melihat sebuah papan peringatan di tepi pantai bertuliskan: “Hanya kepiting dengan panjang di atas 15 cm yang boleh ditangkap.”
Tanpa perlu bertanya, jelaslah bahwa remaja itu mendapati kepiting yang dia tangkap tidak mencapai ukuran minimum, sehingga dia dengan sadar melepaskannya kembali ke laut.
Dari dua kisah ini, kita dapat melihat teladan masyarakat negara maju Barat dalam hal ketaatan hukum dan kepedulian terhadap kelestarian alam. Hal ini mencerminkan kualitas pendidikan dan moral publik yang—jujur diakui—masih jauh tertinggal dibandingkan kita di Indonesia.
Jika Anda adalah ayah dari anak yang menangkap ikan besar itu, apakah Anda akan meminta anak Anda melepaskannya kembali ke sungai?
Ataukah justru akan terjadi sebaliknya— ketika anak, karena ajaran di sekolah tentang menaati hukum, berniat melepaskan ikan itu, Anda malah berkata : “Tidak apa-apa. Kita menangkapnya sebelum jam empat, dan toh tidak ada yang melihat. Ikan ini seharusnya milik kita.”
Dengan pemahaman saya tentang masyarakat kita, saya percaya kebanyakan orangtua akan memilih cara kedua.
Jika Anda adalah pengacara George Hamilton, apakah Anda sanggup menolak klien yang datang membawa uang, demi menuntut kejujuran dan membela perkara sesuai nurani?
Bukankah itu berarti melepaskan banyak peluang bisnis dan “bermusuhan” dengan dompet sendiri?
Sebagai orangtua, teladanilah ayah dalam kisah ini— mendidik anak dengan memberi contoh nyata.
Sebagai pelaku usaha, teladanilah George Hamilton— bertransaksi dengan prinsip kejujuran dan mencari rezeki yang benar.
Sebagai atasan, teladanilah pula George Hamilton— mendidik bawahan bukan hanya soal keterampilan kerja, tetapi juga akhlak dan integritas dalam hidup.
Renungan
Mendidik anak harus dimulai sejak usia dini, dan pendidik harus memberi teladan lebih dulu. Dengan begitu, anak akan tumbuh dengan kebiasaan taat aturan.
Ingatlah, orang tua dan orang dewasa adalah contoh hidup yang paling sering ditiru anak-anak.
Sebelum menegur anak karena perilaku atau kebiasaan buruk, ada baiknya kita bercermin terlebih dahulu— jangan-jangan, kebiasaan itu justru mereka pelajari dari kita sendiri. (jhn/yn)





