FAJAR, MAKASSAR — Sepak bola kerap menghadirkan ironi yang sulit dijelaskan dengan angka. Bagi Sheriddin Boboev, malam di Jakarta International Stadium menjadi salah satu momen itu. Ia mencetak gol perdana bersama PSM Makassar, namun selebrasi yang seharusnya penuh kebahagiaan justru terasa hampa setelah timnya pulang dengan kekalahan 1-2 dari Persija Jakarta.
Gol pertama biasanya menjadi awal cerita indah bagi seorang penyerang. Tetapi bagi Boboev, gol itu seperti potongan kebahagiaan yang terhenti di tengah jalan. Ia berlari merayakan penyama kedudukan, sementara di sudut pikirannya tersimpan harapan bahwa momen tersebut bisa menjadi titik balik pertandingan. Kenyataannya berkata lain.
Penyerang asal Tajikistan itu juga tengah menjalani fase adaptasi yang tidak biasa. Ramadan 2026 menjadi pengalaman pertamanya berpuasa di Indonesia sejak resmi bergabung dengan PSM pada 6 Februari 2026, tepat di hari terakhir bursa transfer paruh musim Super League 2025–2026. Datang sebagai wajah baru di tengah kompetisi yang sudah berjalan, ia harus menyesuaikan diri dengan ritme permainan, lingkungan baru, sekaligus ibadah puasa di negara berbeda.
Boboev mengaku tidak mengalami kesulitan berarti. Pengalamannya bermain di Malaysia pada 2021 bersama Penang FA menjadi bekal penting. Iklim tropis yang serupa membuat tubuhnya tidak terlalu terkejut menghadapi cuaca Indonesia. Baginya, perbedaan terbesar justru datang dari detail kecil seperti makanan dan ritme pertandingan.
Ia mengatakan bahwa adaptasi masih berlangsung, tetapi dari laga ke laga kondisinya semakin membaik. Cuaca di negara asalnya berbeda, sehingga tubuhnya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Namun soal puasa, ia menegaskan hal itu bukan hambatan bagi performanya di lapangan.
Pernyataan itu bukan sekadar kata-kata. Di Jakarta, ia membuktikannya lewat aksi nyata. Diturunkan sejak menit pertama sebagai winger kanan, Boboev tampil aktif membuka ruang dan membantu serangan PSM. Puncaknya terjadi pada menit ke-37 ketika sepakan keras rekannya gagal diamankan sempurna kiper Persija. Bola liar jatuh di hadapannya, dan tanpa ragu ia menyambarnya menjadi gol.
Itulah gol perdananya di kompetisi Indonesia. Sebuah momen penting bagi pemain berusia 26 tahun yang baru beberapa pekan mengenakan seragam Juku Eja. Namun sepak bola sering menolak berjalan sesuai skenario pribadi pemain.
PSM gagal mempertahankan momentum. Kesalahan di babak kedua membuat Persija berbalik unggul dan mengunci kemenangan. Ketika peluit panjang berbunyi, papan skor menunjukkan hasil yang kontras dengan perasaan Boboev. Ia mencetak gol, tetapi timnya kalah.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Boboev tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai pertandingan berjalan baik dan PSM tampil kompetitif sepanjang laga. Menurutnya, timnya tidak pantas pulang tanpa poin. Namun ia menerima hasil tersebut sebagai bagian dari realitas sepak bola yang tidak selalu adil.
Bagi seorang striker, gol adalah bahasa utama. Tetapi bagi Boboev, malam itu mengajarkan bahwa gol tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Ada kalanya ia justru menjadi pengingat tentang peluang yang hilang.
Situasi ini juga menggambarkan fase yang sedang dialami PSM musim ini. Tim mampu bersaing dan menciptakan momen positif, tetapi sering kehilangan konsentrasi pada saat krusial. Gol Boboev menjadi simbol harapan, sementara kekalahan menjadi pengingat bahwa perjalanan masih panjang.
Ramadan pertamanya di Indonesia pun berjalan dalam nuansa reflektif. Ia belajar menyeimbangkan tuntutan profesional sebagai pesepak bola dengan ibadah yang dijalaninya. Adaptasi terhadap budaya baru, makanan yang lebih pedas, serta atmosfer kompetisi yang intens menjadi bagian dari proses yang ia nikmati perlahan.
Di tengah semua itu, Boboev memilih melihat ke depan. Ia percaya performanya akan terus meningkat seiring waktu dan pemahaman terhadap permainan tim semakin matang. Gol perdana hanyalah awal, meski datang dengan rasa yang pahit.
Sepak bola selalu memberi kesempatan kedua. Dan bagi Sheriddin Boboev, gol di Jakarta mungkin bukan kisah kemenangan, tetapi bisa menjadi fondasi untuk cerita yang lebih besar bersama PSM Makassar di pertandingan-pertandingan berikutnya.





