TABLOIDBINTANG.COM - Industri hiburan China lagi-lagi bikin kejutan. Di tengah ketatnya persaingan drama televisi dan serial streaming berbiaya besar, justru muncul pemain baru yang tidak datang dari studio raksasa atau deretan aktor papan atas. Ia datang dari teknologi. Dari algoritma. Dari AI.
Belakangan, drama pendek berbasis kecerdasan buatan mulai membanjiri platform video pendek seperti Douyin dan Kuaishou.
Formatnya singkat, sering kali hanya satu hingga tiga menit per episode, dengan alur cepat dan konflik yang langsung menghantam emosi penonton.
Yang bikin tercengang, biaya produksinya disebut-sebut hanya setara Rp4–5 jutaan.
Namun beberapa judul mampu meraih ratusan juta penayangan dan menghasilkan pendapatan miliaran rupiah lewat iklan serta sistem pembelian episode lanjutan.
Fenomena ini sebenarnya lahir dari gelombang yang lebih dulu meledak: micro-drama vertikal. Sejak 2022, drama format layar ponsel ini memang sudah mendominasi pasar China.
Studio seperti Crazy Maple Studio bahkan sukses membawa model bisnis tersebut ke pasar global melalui aplikasi ReelShort.
Ketika AI generatif semakin canggih, mulai dari pembuatan visual karakter, latar digital, pengolahan suara, hingga asistensi penulisan naskah, biaya produksi pun makin ditekan.
Tidak perlu menyewa lokasi mahal, tidak perlu membayar aktor terkenal, bahkan tidak perlu kru besar.
Beberapa proyek yang dipromosikan sebagai drama pendek berbasis AI menghadirkan judul-judul seperti “Digital Warlord: Rise of the Code Kingdom”, “The Virtual Immortal”, hingga kisah romansa fantasi bertema kerajaan dan kultivasi.
Genre fantasi, xianxia, reinkarnasi, dan balas dendam miliarder tetap jadi primadona. Visualnya memang kadang terlihat terlalu sempurna, kulit tanpa pori, armor yang simetris, gerakan sedikit kaku, tetapi justru di situlah identitas estetikanya terbentuk.
Penonton sadar ini bukan drama konvensional, tapi mereka tetap menonton.
Ledakan ini tidak bisa dilepaskan dari peran algoritma. Platform seperti Douyin dirancang untuk mempertahankan perhatian dalam hitungan detik.
Drama AI disusun dengan hook ekstrem di tiga detik pertama dan cliffhanger tajam di akhir episode.
Jika satu judul gagal, produser tinggal memproduksi judul lain karena risikonya kecil. Model bisnisnya cepat dan agresif.
Di sisi lain, perusahaan teknologi besar seperti Tencent dan Baidu juga berlomba mengembangkan model AI generatif mereka.
Ekosistemnya saling mendukung. Teknologi berkembang, konten bertambah, platform makin padat, dan penonton terus digiring oleh rekomendasi algoritma.
Apakah ini ancaman bagi aktor manusia? Pertanyaan itu mulai ramai dibahas. Jika karakter digital bisa diciptakan tanpa bayaran besar, suara bisa direkayasa, dan ekspresi bisa diprogram, maka struktur biaya industri jelas berubah.
Namun sejarah menunjukkan, setiap revolusi teknologi selalu memicu penyesuaian, bukan pemusnahan total. Ketika web series muncul, televisi tidak mati. Ketika streaming hadir, bioskop tetap bertahan dengan formatnya sendiri.
Drama pendek AI mungkin bukan akhir dari aktor manusia. Tapi ia jelas membuka pintu baru: kreator independen kini bisa masuk industri tanpa modal ratusan juta. Penulis bisa menguji ide dengan cepat. IP bisa diproduksi dalam hitungan minggu, bukan tahun.
Satu hal yang pasti, fenomena ini bukan sekadar tren iseng. Ia lahir dari kombinasi budaya konsumsi cepat, algoritma platform, dan teknologi generatif yang semakin matang.
Dengan modal beberapa juta rupiah, sebuah drama bisa menembus ratusan juta tayangan tanpa membayar aktor manusia.
Revolusi atau gelembung sesaat? Waktu yang akan menjawab.




