Sosrokartono dan Kartini
Hampir semua orang mengenal atau setidaknya tahu siapa itu Raden Ajeng Kartini. Ia adalah seorang yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan dan berusaha membebaskan perempuan Indonesia dari kungkungan tradisi dan adat istiadat lokal yang mengekang perempuan.
Untuk menghormati perjuangannya, R. A. Kartini diangkat sebagai pahlawan nasional dan hari lahirnya kita peringati sebagai Hari Kartini. Perjuangan R. A. Kartini dimulai dari sebuah kamar tempat ia dipingit. Di kamar tersebut ia mulai membaca buku-buku pemberian kakak kandungnya yang juga menjadi inspirasi dan penyemangat bagi perjuangannya, Raden Mas Panji Sosrokartono.
Raden Mas Panji Sosrokartono atau Sosrokartono–demikian biasanya namanya ditulis–adalah seseorang yang hidup melampaui zamannya. Sosrokartono lahir di Jepara, pada 10 April tahun 1877. Ia lahir dari keluarga bangsawan, ia putra dari R. M. Ario Sosrodiningrat, bupati Jepara dan cucu dari Tjondronegoro Hadiningrat IV, bupati Demak. Ayah dan kakek Sosrokartono terkenal progresif dan lebih sadar akan pentingnya pendidikan dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin lain sezamannya.
Menurut catatan B. H. M. Vlekke, kakek dari Sosrokartono, Tjondronegoro Hadiningrat IV yang saat itu menjabat sebagai Bupati Demak, memperbolehkan anak-anaknya, salah satunya adalah R. M. Ario Sosrodiningrat untuk mengenyam pendidikan gaya Belanda. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan R. M. Ario Sosrodiningrat bisa menduduki jabatan seorang Bupati Jepara di kemudian hari. Sosrokartono kecil yang tumbuh di keluarga seperti itu menjadi terbiasa dengan buku-buku, pendidikan gaya Belanda, dan alam pemikiran barat.
Sosrokartono sejak kecil dikenal sebagai seorang anak yang brilian. Ia dikenal di lingkungan pertemanannya sebagai seseorang yang selalu memberikan nasihat dan wejangan. Sosrokartono juga akrab dengan orang-orang yang lebih tua darinya. Ia dikenal baik oleh orang-orang di daerahnya. R. M. Ario Sosrodiningrat juga selalu mendatangkan guru-guru les privat untuk anak-anaknya sejak mereka masih kecil dan Sosrokartono mampu mengerti semua pelajaran yang diajarkan guru-gurunya tersebut dengan baik.
Kemudian, semenjak bersekolah di HBS Semarang, Sosrokartono juga sudah terbiasa membaca buku-buku dari berbagai bahasa yang bahkan menurut ukuran HBS merupakan buku-buku yang tergolong berat. Setelah lulus dari HBS, Sosrokartono kemudian melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Pada masa itu, Sosrokartono merupakan salah satu dari sebagian kecil pribumi yang pergi mengenyam pendidikan ke Belanda.
Sosrokartono awalnya belajar Teknik Sipil di Polytechnische School di Delft. Kemudian setelah dua tahun, ia pindah untuk mendalami minatnya ke Leiden untuk belajar filsafat dan kesusasteraan timur di Fakultas Sastra Timur, Leiden. Di Eropa, ia masih dikenal sebagai seseorang yang sangat brilian, beberapa orang mengatakan bahwa ia menguasai dua puluh lebih bahasa asing dan belasan bahasa lokal nusantara.
Berpegang Teguh Pada TradisiMeskipun sudah terbiasa dengan nilai-nilai, budaya, dan alam pemikiran barat sedari kecil, bahkan merupakan anak yang berprestasi dalam ukuran pendidikan barat, Sosrokartono tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai agama yang juga ditanamkan padanya oleh ayahnya sejak kecil di Jepara.
Meskipun memiliki status sebagai seorang bangsawan dan kemampuan ekonomi yang sangat cukup, ia tidak pernah berbuat seenaknya. Hal itu terlihat dari sikapnya, yang meskipun mengejar pendidikan ala barat setinggi-tingginya dan berteman dengan banyak anak-anak eropa, ia tidak ikut terbawa arus dalam pergaulan ala barat seperti minum-minum dan berpesta. Baginya, semuanya itu tidak ada manfaatnya dan tidak sesuai dengan nilai-nilai tradisi dan agama.
Dalam perjalanannya di Eropa, suatu kali ia pernah diundang sebagai pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda di Gent, Belanda. Ia kemudian menyampaikan pidatonya yang berjudul “Het Nederlandsch in Indie” yang berarti “Bahasa Belanda di Hindia”. Isu yang ingin ia bawakan adalah bahwa pengajaran dan penggunaan Bahasa Belanda di kalangan pribumi Hindia Belanda harus diperluas. Ia ingin agar semua pribumi mampu untuk mengenyam pendidikan yang pada saat itu hanya tersedia dalam bahasa Belanda. Bagi para pribumi, ia menekankan pentingnya berbahasa Belanda dan pentingnya pengetahuan:
Namun, ia juga menekankan agar adat istiadat dan budaya tradisional tetap melekat pada diri mereka semua. Pada pidatonya, ia menyampaikan:
Sosrokartono mengajarkan kita satu hal penting, kemajuan pemikiran tidak harus selalu berbanding terbalik dengan adat istiadat, tradisi, dan agama. Kesemuanya itu bisa berjalan beriringan. Pikiran harus terus bebas, pengetahuan harus terus diperkaya, tetapi adat, tradisi, dan agama harus tetap dijunjung tinggi.





