Sekitar satu abad lalu, ketika pandemi influenza 1918 menewaskan antara 50 hingga 100 juta orang di seluruh dunia, umat manusia juga dihadapkan pada penyakit baru yang tak kalah misterius.
Dilansir IFL Science, penyakit itu dikenal sebagai encephalitis lethargica (EL), yang pertama kali menyebar di Eropa pada musim dingin 1916. Dokter asal Wina, Constantin von Economo, menjadi sosok pertama yang mendeskripsikan penyakit ini setelah sejumlah pasien datang dengan gejala neurologis yang ganjil.
Pasien-pasien tersebut awalnya didiagnosis dengan berbagai penyakit, mulai dari meningitis, multiple sclerosis, hingga delirium. Namun, tak satu pun diagnosis itu sepenuhnya cocok. Ada satu gejala baru yang mencolok, yakni lethargy atau rasa kantuk yang luar biasa. Inilah yang membuat penyakit tersebut dikenali sebagai fenomena baru.
EL dikategorikan dalam fase akut dan kronis, meski dalam praktiknya kedua fase seringkali saling tumpang tindih.
Gejala Mirip Flu, Berujung Lumpuh dan KematianDalam fase akut, EL biasanya diawali gejala mirip flu, seperti badan lemas, demam ringan, radang tenggorokan, menggigil, sakit kepala, vertigo, hingga muntah. Setelah itu, gejala neurologis muncul, kadang sangat cepat.
Sebuah tinjauan ilmiah tahun 2017 mencatat kasus seorang gadis yang tiba-tiba mengalami hemiplegia (kelumpuhan satu sisi tubuh) saat berjalan pulang dari konser. Dalam waktu 30 menit ia tertidur, dan meninggal 12 hari kemudian.
Salah satu bentuk EL yang paling khas adalah tipe somnolent-ophthalmoplegic. Pasien mengalami rasa kantuk ekstrem dan bisa tidur dalam waktu sangat lama. Namun, mereka relatif mudah dibangunkan dan tetap sadar terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka selama kondisi tidur tersebut.
Angka kematian pada tipe ini bahkan melebihi 50 persen, lebih tinggi dibandingkan bentuk EL lainnya. Meski begitu, pasien yang selamat cenderung mengalami lebih sedikit dampak jangka panjang dibandingkan tipe lain.
Diperkirakan, EL menyebabkan lebih dari setengah juta kematian. Seiring waktu, kondisi pasien menjadi semakin memilukan. Ahli saraf Oliver Sacks, yang merawat pasien EL di Beth Abraham Hospital, New York, pada 1960-an, menggambarkan pengalaman itu dalam bukunya Awakenings.
Menurutnya, para pasien tetap sadar dan mengetahui apa yang terjadi di sekitar mereka, tetapi tidak sepenuhnya terjaga. Mereka duduk diam sepanjang hari tanpa bicara, tanpa energi, tanpa inisiatif, tanpa hasrat.
“Mereka tidak menyampaikan maupun merasakan kehidupan, mereka seperti hantu yang tak berwujud dan pasif seperti zombie,” tulis Sacks.
Seperti pandemi modern COVID-19, EL juga mengalami kemunculan varian baru dalam beberapa tahun setelah wabah awal. Di Italia dan Swedia antara tahun 1919 hingga 1920, muncul strain baru dengan fase hiperkinetik (gerakan tak terkendali) dan insomnia. Pasien juga mengalami nyeri saraf hebat yang tidak merespons morfin.
Manifestasi hiperkinetik ini mencakup kejang cepat (mioklonus), gerakan tak sadar seperti chorea, distonia, tremor, hingga gangguan pada otot diafragma dan perut. Banyak pasien mengalami kekakuan anggota tubuh dan tidak bisa bergerak dalam waktu lama. Bagi yang selamat dari fase awal, bahaya belum berakhir. Komplikasi sering muncul bertahun-tahun kemudian.
Fase kronis EL ditandai dengan parkinsonisme atau gejala mirip penyakit Parkinson, disertai gangguan tidur, kelainan gerakan mata, gangguan bicara dan pernapasan, serta gangguan psikiatri. Bahkan, dalam dekade setelah epidemi, diperkirakan hingga 50 persen kasus parkinsonisme terkait dengan riwayat ensefalitis. Hingga kini, penyebab pasti EL masih belum diketahui.
Salah satu teori awal menyebut virus influenza 1918 sebagai pemicunya. Waktu kemunculan dan berakhirnya kedua wabah yang hampir bersamaan membuat banyak orang menganggap keduanya saling terkait. Namun, penelitian di sejumlah kota di AS pada 1918 hingga 1923 tidak menemukan hubungan langsung, kedua penyakit tampak muncul secara terpisah.
Sebagian epidemiolog masih mencurigai adanya keterkaitan tidak langsung, misalnya kerusakan saraf akibat influenza yang baru tampak setelah waktu tertentu. Studi yang lebih baru terhadap sampel jaringan otak pasien menduga bahwa enterovirus, kelompok virus yang juga mencakup polio dan menular melalui kontak dengan cairan tubuh penderita, kemungkinan menjadi penyebabnya.
Kendati demikian, belum ada konsensus ilmiah yang benar-benar memastikan etiologi penyakit ini. Pada 1927, setelah menewaskan sekitar 500.000 orang, EL perlahan berhenti menyebar dan nyaris menghilang.
Menghilangnya penyakit ini tentu kabar baik. Namun, tanpa mengetahui penyebab pastinya, para ilmuwan tak bisa memastikan seberapa besar kemungkinan penyakit serupa muncul kembali di masa depan.
Sebuah studi menyebut, jika penyebab klasik EL belum dapat diidentifikasi secara pasti, maka kemunculannya kembali dalam konteks pandemi influenza di masa depan tetap mungkin terjadi.
Di sisi lain, jika itu benar-benar terjadi, para peneliti menyebut ada satu sisi terang, yakni kesempatan untuk akhirnya mengungkap penyebab EL dengan metode ilmiah modern, dan mungkin menutup salah satu misteri medis paling membingungkan dalam sejarah.





