Menjaga Nyawa Adalah Ibadah: Kapan Pasien Perlu Memilih Fidyah daripada Puasa?

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Ramadan sering menjadi bulan penuh semangat ibadah. Sahur bersama, berbuka ramai-ramai, lalu tarawih hingga larut malam. Namun di balik tembok rumah sakit, Ramadan terasa berbeda.

Ada pasien yang sahurnya digantikan infus.

Ada yang berbukanya bukan dengan kurma, melainkan obat.

Ada pula yang menatap jam dengan rasa bersalah karena tubuhnya tak sanggup menahan lapar.

Bagi banyak pasien, muncul pertanyaan yang sunyi tapi berat:

“Apakah saya berdosa jika tidak berpuasa?”

Ketika Sakit Bukan Alasan, tapi Ujian

Dalam ajaran agama, sakit bukan penghalang ibadah—namun juga bukan alasan untuk menyiksa diri. Justru di situlah hadir keringanan (rukhsah) sebagai bentuk kasih sayang Tuhan kepada manusia.

Puasa tidak pernah dimaksudkan untuk membahayakan nyawa. Dalam praktik pendampingan pasien, ada kondisi medis yang memang membuat puasa berisiko, seperti:

– Pasien yang harus minum obat teratur di siang hari

– Pasien yang membutuhkan cairan infus untuk mencegah dehidrasi

– Pasien dengan penyakit kronis yang kondisinya bisa memburuk bila berpuasa

Dalam situasi ini, memaksakan diri bukanlah ketakwaan—melainkan mengabaikan amanah tubuh.

Antara Mengganti Puasa atau Membayar Fidyah

Banyak pasien bingung harus memilih qadha atau fidyah. Padahal prinsipnya sederhana dan penuh belas kasih.

Jika sakit bersifat sementara—misalnya pascaoperasi, infeksi berat, atau kondisi yang secara medis dapat pulih—maka puasa bisa diganti di hari lain saat tubuh sudah sehat.

Namun jika sakit bersifat kronis dan kecil kemungkinan sembuh total, sehingga secara medis tidak lagi mampu berpuasa di masa depan, maka fidyah menjadi bentuk ibadah pengganti yang dibolehkan.

Bukan pengurangan pahala. Bukan bentuk keringanan murahan. Melainkan jalan ibadah yang sah dan mulia.

Menjaga Tubuh Juga Bentuk Taat

Sering kali pasien merasa iman mereka berkurang karena tidak mampu menjalankan puasa seperti orang lain. Padahal bertahan hidup dalam kondisi sakit adalah perjuangan besar.

Semua itu adalah ibadah yang tidak kalah nilainya. Tuhan tidak mengukur cinta-Nya dari kuatnya tubuh seseorang, tetapi dari ketulusan hati dalam menjalani ujian hidup.

Ramadan Tidak Sama untuk Semua Orang

Jika hari ini kita diberi kesehatan untuk berpuasa penuh, maka bersyukurlah—dan berempatilah. Karena ada orang lain yang sedang kuat bukan untuk beribadah seharian, melainkan kuat untuk bertahan hidup satu hari lagi.

Jangan menghakimi mereka yang tidak berpuasa.

Jangan membandingkan tingkat keimanan.

Setiap orang punya medan ujian masing-masing.

Penutup

Bagi para pasien yang menjalani Ramadan dari ranjang rumah sakit, ketahuilah: Tuhan tidak meninggalkan Anda. Ia sedang menerima ibadah Anda dalam bentuk lain — kesabaran, ikhtiar, dan menjaga nyawa yang dititipkan-Nya.

Karena dalam ajaran yang penuh kasih, menjaga kehidupan adalah ibadah yang paling luhur. Dan dalam sunyi rumah sakit, pahala tetap mengalir tanpa harus menahan lapar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Detik-detik 3 Pelajar Asyik Swafoto Tertemper KA Argo Merbabu di Batang dan Meninggal Dunia
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Kapolri tegaskan akan terus perkuat sinergitas dan dukung hak buruh
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Madrid Tersandung, Hansi Flick Minta Barcelona Bangkit Saat Hadapi Levante untuk Kudeta Musuh Bebuyutan
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Menlu Negara Muslim Dunia Kecam Dubes AS soal Hak Israel Kuasai Timur Tengah
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Shayne Pattynama Tidak Sabar Bertandang ke Markas Malut United: Dekat Kampung Halaman sang Ayah
• 1 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.