Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Hak Asasi Manusia RI (HAM) Natalius Pigai balas sentilan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto terkait pengiriman surat kepada UNICEF (United Nations Children's Fund) soal tuntutan kuat untuk penghentian atau pembatalan program MBG.
Sebelumnya diberitakan, surat BEM UGM kepada UNICEF menyinggung tragedi pilu siswa kelas IV SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT yang diduga mengakhiri hidup lantaran tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000,00.
Surat ini diunggah di akun pribadi Tiyo di media sosial Instagram, Jumat (6/2/2026) dan viral di dunia maya.
Masih dalam surat yang tertanggal 5 Februari 2026 tersebut, termuat kritik keras terhadap prioritas anggaran pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam isi surat itu, insiden tewasnya siswa berinisial YBR itu adalah bukti nyata kegagalan negara dalam melindungi hak anak atas pendidikan dan kebutuhan dasar.
Ada ironi yang tersirat dalam surat berbahasa Inggris dan ditujukan kepada Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell ini.
Satu sisi, ada anak SD kehilangan nyawa karena ketiadaan biaya untuk membeli buku dan pena, tetapi di sisi lain pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto justru menggelontorkan dana besar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditengarai juga mengambil porsi besar dari anggaran pendidikan.
Adapun anggaran MBG 2026 dirancang mencapai Rp335 triliun untuk tahun 2026 saja.
Dari angka tersebut, sebanyak Rp223 triliun diambilkan dari anggaran pendidikan di Anggaran Pengeluaran dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang totalnya Rp769,1 triliun.
Kemudian, Ketua BEM UGM juga kembali viral setelah videonya berorasi di Bundaran UGM pada Jumat (13/2/2026) beredar di dunia maya.
Dalam orasinya, Tiyo mengenakan kaus warna hitam dengan tulisan besar yang berbunyi Maling Berkedok Gizi, sebuah plesetan sebagai bentuk protes terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia pun mempertanyakan besarnya anggaran untuk program MBG, sedangkan penerimanya dinilai tidak tepat sasaran.
"Total MBG itu kawan-kawan, Rp335 triliun [pada] 2026. Itu artinya, setiap hari Rp1,2 triliun uang kita dirampok untuk MBG. Apakah 82 juta anak-anak Indonesia itu butuh MBG?" jelas Tiyo.




