Jakarta, VIVA – Aktor papan atas Vino G Bastian kembali menantang dirinya lewat peran yang lebih sunyi namun menghantam emosi dalam film Tanah Runtuh. Di proyek terbarunya ini, Vino tidak hanya memerankan figur pemimpin yang tegas, tetapi juga menghadirkan transformasi batin yang perlahan tumbuh lewat relasi dengan dua anak kecil di tengah situasi sosial yang rapuh.
Film ini disutradarai oleh Rudi Soedjarwo dan diproduksi oleh Denny Siregar Production. Kolaborasi ini menjadi pertemuan kembali setelah kesuksesan Sayap-Sayap Patah, namun dengan pendekatan yang jauh lebih personal dan intim. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Dalam unggahan Instagram resmi rumah produksi @dennysiregarproduction, ditegaskan arah emosional film ini.
“Kisah tentang dua anak kecil yang bertahan di dunia yang tidak selalu ramah. Tentang janji yang dipegang, dan empati yang tidak boleh runtuh,” tulis akun mengiringi unggahan video trailer film Tanah Runtuh, dikutip Minggu 22 Februari 2026.
Vino berperan sebagai sosok pemimpin yang ditugaskan ke wilayah dengan kondisi tidak stabil. Ia digambarkan tenang, rasional, dan terbiasa mengambil keputusan dalam tekanan. Namun pertemuannya dengan dua kakak beradik—salah satunya anak dengan Down syndrome—menjadi titik balik perjalanan karakternya.
Alih-alih sekadar menjalankan tugas, tokoh yang diperankan Vino memilih untuk tetap mendampingi mereka. Keputusan itu bukan tanpa risiko, tetapi justru di situlah sisi kemanusiaannya tumbuh. Relasi yang terbangun memperlihatkan bahwa kekuatan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari ketegasan, tetapi juga dari kemampuannya menjaga empati.
“Tanah Runtuh bukan tentang bencana besar, tapi tentang luka-luka kecil yang sering tak terlihat," tulis @dennysiregarproduction, dalam unggahan lainnya di Instagram.
Kalimat tersebut seolah merangkum pendekatan film yang lebih mengandalkan gestur, suasana, dan interaksi hening antar karakter ketimbang dialog panjang atau dramatika berlebihan.
Kisah dua anak ini menjadi jantung narasi. Perjalanan mereka bukan sekadar fisik, tetapi emosional—tentang bertahan, saling menguatkan, dan menemukan tempat berpijak di tengah ketidakpastian. Film ini juga secara tegas menolak stigma bahwa anak dengan Down syndrome adalah beban. Sebaliknya, mereka digambarkan sebagai individu yang utuh dan memiliki peran penting dalam membentuk perjalanan orang-orang di sekitarnya.




