- Bagaimana para presiden mewariskan pemikirannya?
- Apa warisan gagasan Presiden Sukarno yang mendunia?
- Bagaimana publik mengingat Presiden Soeharto yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan?
- Apa warisan Presiden BJ Habibie dalam mengatasi krisis?
- Bagaimana Presiden Abdurrahman Wahid mewariskan keteladanan ihwal kekuasaan?
- Apa semangat yang digelorakan Presiden Megawati Soekarnoputri?
- Bagaimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginspirasi generasi penerus?
- Apa visi dan warisan Presiden Joko Widodo soal infrastruktur?
Sejumlah presiden yang pernah memimpin Indonesia tidak berhenti mengabdi bagi negara meskipun masa jabatannya berakhir. Para tokoh bangsa tersebut melanjutkan pengabdian pada ranah gagasan dengan mendirikan lembaga pemikir (think tank). Sebuah upaya mewariskan pemikiran dalam rupa kajian terkait isu-isu strategis yang relevan dengan persoalan bangsa.
Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie dan keluarganya mendirikan The Habibie Center pada 10 November 1999. Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga mempunyai lembaga pemikir serupa bernama Wahid Institute, yang kini lebih dikenal dengan nama Wahid Foundation.
Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri pada tahun 2009 mendirikan Megawati Institute. Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pada 2017 mendirikan The Yudhoyono Institute.
Dijuluki ”Singa Podium”, Presiden pertama RI Sukarno atau Bung Karno dikenal dengan pidato-pidato yang monumental. Pidato Bung Karno berjudul ”To Build the World Anew” menggetarkan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1960.
Gagasan-gagasan bernas presiden pertama Indonesia itu tertuang di dalamnya, salah satunya membangun dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Pidato Sukarno menjadi 1 dari 64 warisan dokumenter yang ditetapkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menjadi Ingatan Kolektif Dunia atau Memory of the World oleh UNESCO, Rabu (24/5/2023).
Pemerintahan Soeharto, yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan, bergulir selama lebih dari tiga dekade, pada 1966-1998. Era yang disebut Orde Baru itu kerap diingat sebagai periode pembangunan dengan adanya program wajib belajar, swasembada pangan, pengentasan rakyat miskin, dan pembangunan infrastruktur.
Selain sebagai Bapak Pembangunan, Soeharto pun disebut sebagai ikon stabilitas ekonomi oleh sebagian masyarakat. Namun, bagi sebagian kalangan lain, gelar tersebut justru berisiko mengaburkan sejarah kelam kekuasaan Orde Baru yang identik dengan nuansa korupsi, kolusi, dan nepotisme sebagai akar oligarki di Indonesia.
Sekalipun hanya 517 hari memerintah, Presiden BJ Habibie dan kabinetnya dipandang mewariskan landasan teknokratik yang kuat dalam mengatasi krisis multidimensi. Mantan Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita mengungkapkan, Habibie mampu mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi Indonesia pada tahun 1998.
Ketika itu, kondisi Indonesia sangat buruk. Krisis ekonomi yang bergerak menjadi krisis politik mengantarkan huru-hara serta jatuhnya korban pada peristiwa Trisakti dan Semanggi. Kondisi ini nyatanya dapat dihadapi oleh Habibie kendati masa pemerintahannya sangat singkat.
Menurut Ginandjar, tim ekonomi Habibie juga berusaha keras memanfaatkan momentum, termasuk dengan membuat fondasi perbankan yang lebih sehat. Hanya pada masa Habibie, Bank Indonesia tidak lagi menjadi ”kasir” pemerintah dan bersifat independen. Kondisi ini menjadikan BI benar-benar dapat berfungsi menjalankan perannya dalam mengawasi sektor keuangan dan perbankan.
Fundamen ekonomi yang baik itu, lanjutnya, adalah warisan tidak ternilai dari Habibie. Sebab, ketika krisis ekonomi kembali memukul pada 2008, yang saat itu tidak hanya memukul Indonesia, tetapi juga dunia, Indonesia mampu bertahan.
Pemikiran, gagasan, dan keteladanan perjuangan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur terus dikenang dan menjadi teladan, terutama setiap kali muncul peristiwa besar yang mengguncang Tanah Air.
Alissa Wahid, putri pertama Gus Dur, menyebut sosok ayahnya selalu hadir dalam benak publik setiap kali para wakil rakyat bersikap arogan. Gus Dur juga dikenang saat penegak hukum bertindak sewenang-wenang. Nama Gus Dur kembali terlintas ketika berita tentang kelompok minoritas agama bermunculan.
Mahfud MD mengenang Gus Dur sebagai tokoh yang ikut membangun Indonesia dengan pijakan demokrasi. Pilihan itu, kata Mahfud, kerap dianggap aneh oleh sebagian orang. ”Ada yang bertanya, kok, seorang tokoh Islam justru memilih demokrasi? Kenapa bukan negara teokrasi Islam atau khilafah Islamiyah?” ujarnya.
Menurut Mahfud, pertanyaan itu muncul karena banyak orang gagal memahami kedalaman pemikiran Gus Dur. Ia menegaskan, Gus Dur adalah sosok yang sangat genius, dengan tindakan dan gagasan yang selalu bertumpu pada kaidah-kaidah fikih. ”Gus Dur itu tokoh pesantren, tokoh NU. Tidak mungkin ia memilih sesuatu secara sembarangan,” kata Mahfud.
Langit Abu Dhabi mulai merekah kemerahan saat azan maghrib berkumandang. Sesaat setelah panggilan umat Islam untuk menunaikan shalat itu selesai dilantunkan, berakhir pula pertemuan Presiden kelima Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri beserta rombongan dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab Judha Nugraha, Senin (2/2/2026).
Selama hampir dua jam, Judha menjadi tuan rumah bagi Megawati di Wisma Duta Besar RI, Jalan Al Yaqout 42, Abu Dhabi. Seusai pertemuan, Megawati mengisi buku tamu. Perempuan presiden pertama di Indonesia itu duduk sejenak, menunduk, lalu mulai menggoreskan pena. Ia menulis perlahan, dengan pilihan kata yang tampak dipikirkan sungguh-sungguh.
”MERDEKA. Sebagai Bangsa Indonesia, kita selalu harus punya keyakinan, keteguhan, keberanian, kesabaran dalam membangun negara kita tercinta.” Megawati berhenti sejenak, lalu melanjutkan, ”Karena perjuangan kita memerdekaan INDONESIA SEJATI belum selesai!”
Pilar-pilar menjulang tinggi kokoh berdiri di Museum dan Galeri SBY-Ani yang dibangun di Pacitan, Jawa Timur. Museum dan galeri ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Di dalam museum seluas 7.500 meter persegi itu tersimpan memori perjalanan hidup Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pengunjung tidak hanya disuguhi Yudhoyono dari sisi aktivitas di bidang militer dan negarawan, tetapi juga kehidupan pribadi Yudhoyono sebagai manusia yang berkesenian serta bagian dari sebuah keluarga.
Romanus Ndau, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Informasi dan Demokrasi, dalam opininya, menulis bahwa kegelisahan seorang pemimpin di ujung kekuasaannya adalah tentang bagaimana sejarah menuliskan namanya. Idealnya adalah pemimpin itu visioner dan sederhana tetapi produktif serta mampu menginspirasi kemanusiaan dan peradaban (Kompas.id, 31/8/2024).
Infrastruktur merupakan prime mover kemajuan. Berulang-ulang ditegaskan Presiden Joko Widodo bahwa infrastruktur yang maju memudahkan mobilitas manusia dan barang serta membuka sekat wilayah dengan merajut konektivitas. Terpenting lagi, infrastruktur merupakan realisasi spirit nasionalisme demi mewujudkan keadilan sosial (Chaerunisa dkk, 2023).
Pembangunan infrastruktur pada era Presiden Joko Widodo dilakukan secara masif di seluruh pelosok negeri. Pertama, Proyek Strategis Nasional (PSN). Kedua, Padat Karya Tunai (PKT).
Ketiga, infrastruktur untuk menopang Destinasi Pariwisata Super-Prioritas (DPSP). Keempat, pengembangan lumbung pangan (food estate). Kelima, pengembangan Kawasan Industri Terpadu (KIT).




