SETIAP tahunnya, sekitar satu miliar orang di seluruh dunia terinfeksi influenza. Dari jumlah tersebut, 3 hingga 5 juta kasus menjadi parah dan menyebabkan 290.000 hingga 650.000 kematian akibat komplikasi pernapasan.
Vaksin influenza musiman saat ini mampu membantu menurunkan angka penularan dan kematian, tetapi cakupannya masih rendah, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Namun demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan vaksin influenza generasi berikutnya mampu memberikan perlindungan lebih luas dan tahan lama, serta berpotensi menyelamatkan jutaan nyawa dan mengurangi beban global flu, sekaligus lebih efektif dibandingkan vaksin musiman yang hanya berlaku satu musim.
Baca juga : Mengapa Vaksin Influenza Harus Diulang Setiap Tahun? Ini Penjelasan Medisnya
Laporan WHO Full Value of Improved Influenza Vaccine Assessment (FVIVA) dan artikel di Vaccine Journal menilai dampak kesehatan, ekonomi, dan kebijakan dari vaksin generasi baru. Studi ini menjadi dasar bagi pengambilan keputusan investasi, strategi pengenalan vaksin, dan penguatan program influenza musiman.
Dr. Philipp Lambach, pemimpin teknis proyek WHO, menekankan pentingnya bukti ilmiah dalam pengambilan keputusan terkait vaksin influenza generasi baru. Dia menjelaskan bahwa penilaian ini memberikan panduan bagi semua pihak yang terlibat dalam investasi, pengembangan kebijakan, dan penelitian vaksin di masa depan.
“Penilaian ini memperjelas potensi manfaat yang dapat ditawarkan oleh vaksin influenza yang lebih baik di berbagai lingkungan, ini memberikan semua pihak yang bekerja pada investasi vaksin influenza di masa depan, pengembangan kebijakan, dan prioritas penelitian serangkaian bukti umum untuk mempercepat pengembangan vaksin,” kata Dr. Philipp Lambach dikutip dari pernyataan resmi WHO, Minggu (22/2).
Baca juga : Ibu Hamil Wajib Vaksinasi Influenza? Vaksinasi Apa Saja yang Boleh dan tak Boleh Diberikan bagi Ibu Hamil?
Menurut FVIVA, jika vaksin generasi baru tersedia dan digunakan secara luas antara 2025-2050, vaksin ini bisa mencegah hingga 18 miliar kasus influenza dan menyelamatkan hingga 6,2 juta nyawa, terutama di kalangan lansia, anak-anak, dan ibu hamil.
Selain itu, penggunaan vaksin ini berpotensi mengurangi penggunaan antibiotik dan menurunkan resistensi antimikroba. Vaksin generasi baru diperkirakan dapat mencegah hingga 1,3 miliar dosis antibiotik harian terdefinisi, mendukung upaya global menekan resistensi.
Penggunaan vaksin generasi berikutnya tetap bergantung pada konteks tiap negara, termasuk beban penyakit, kapasitas sistem kesehatan, harga vaksin, serta pertimbangan program.
Faktor lain seperti keamanan, efikasi, durasi perlindungan, stabilitas suhu, dan umur simpan vaksin juga menjadi pertimbangan penting, khususnya di negara berpendapatan rendah dan menengah.
FVIVA dirancang untuk mendukung dialog berbasis bukti antara pemerintah, peneliti, produsen, dan mitra internasional. Kerangka ini memberikan gambaran lengkap nilai potensial vaksin sekaligus pertimbangan yang relevan dalam pengembangan dan penggunaannya.
WHO juga memperbarui karakteristik produk vaksin pada Desember 2025, menekankan bahwa vaksin generasi baru harus aman, efektif, tahan lama, mampu melindungi dari penyakit parah, dan dapat diproduksi di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Studi FVIVA mengungkap tantangan di negara berpenghasilan rendah dan menengah (LMICs), di mana cakupan vaksin influenza masih rendah. Studi ini mengeksplorasi prioritas dan preferensi pembuat keputusan di 13 negara, termasuk Albania, Armenia, Bhutan, Pantai Gading, Ghana, Mongolia, Maroko, Paraguay, Peru, Afrika Selatan, Tunisia, Kenya, dan Thailand.
Studi memastikan representasi beragam berdasarkan epidemiologi influenza dan program vaksinasi yang ada.
Dalam setiap negara, 97 pemangku kepentingan nasional berpartisipasi, meliputi ahli imunisasi, epidemiologi, pengawasan influenza, regulasi, pengadaan vaksin, dan pembuat kebijakan. Analisis multi-kriteria (MCDA) di Kenya, Thailand, dan 11 negara LMIC lainnya menunjukkan kriteria utama dalam pengambilan keputusan terkait vaksin influenza inaktif, seperti efikasi vaksin, kejadian efek samping serius, durasi perlindungan, cakupan proteksi, dan persyaratan suhu penyimpanan.
Hingga Februari 2026, tercatat 46 vaksin influenza generasi baru dalam tahap pengembangan klinis dengan berbagai platform teknologi. Kerja sama internasional ini menunjukkan komitmen global mempercepat inovasi vaksin, mengurangi beban penyakit, menyelamatkan jutaan nyawa, dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi pandemi di masa depan. (Z-2)





