[Liputan Terlarang] Menjual Darah Demi Bertahan Hidup : Ratapan Pengangguran di Tiongkok

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.  Di Tiongkok terdapat satu kelompok khusus—yang disebut “penjual darah”. Di antara mereka, ada yang pernah menjadi pengusaha dengan kekayaan puluhan juta yuan, ada pula anak muda yang baru lulus kuliah. Dalam bayang-bayang resesi ekonomi, aset mereka lenyap, utang menumpuk, pekerjaan sulit didapat, dan menjual darah menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan hidup. Kini, di jalanan Beijing dan di depan Rumah Sakit 301 Beijing, kisah para “penjual darah” dan “mafia darah” berlangsung diam-diam.

Wang Hao (nama samaran) setelah lulus kuliah bekerja sebagai insinyur perangkat lunak otomasi. Setelah menabung ratusan ribu yuan, pada 2011 ia memulai usaha di bidang peralatan pendingin gudang berskala besar, dengan aset yang sempat melampaui puluhan juta yuan. Namun tiga tahun masa penguncian (lockdown) membuat hidupnya hancur total. Utang dan penyakit datang bertubi-tubi, hingga ia terpaksa bertahan hidup dengan menjual darah.

“Kadang saya bahkan tidak punya uang untuk biaya hidup. Saya pergi ke sekitar rumah sakit, diam-diam bertanya ke orang-orang, juga ke stasiun darah. Tapi tidak bisa bilang terang-terangan mau jual darah, karena itu ilegal. Jadi saya tanya, ‘Kalau donor darah ada kompensasi tidak?’ Dua atau tiga kali di stasiun darah, dan dua kali di rumah sakit,” kata pengusaha bangkrut Wang Hao. 

“Pernah sekali ada pasien operasi, bayaran lebih tinggi. Orangnya baik, memberi 1.500 yuan, ambil 400 atau 600 mililiter. Tapi jarang sekali dapat yang seperti itu. Kalau satu rumah sakit tidak ada, ya pindah ke yang lain. Pokoknya, saat tidak punya uang, apa pun caranya harus bertahan hidup,” tambahnya. 

Wu Hong, warga Beijing, juga pernah didekati perantara penjual darah saat hidupnya terhimpit.

“Tahun 2023 dan 2024 orangnya banyak sekali, puluhan orang. Waktu itu saya bahkan tidak punya uang makan. Mereka menyuruh saya jual darah. Penjualan darah ini terorganisasi. Ada orang yang khusus nongkrong di sini untuk membujuk Anda,” ujarnya. 

“Mereka semacam perantara dari perantara. Di atas mereka ada rumah sakit atau stasiun darah. Melihat Anda tidak punya uang dan tidak punya jalan keluar, mereka tanya mau jual darah atau tidak. Mereka dapat untung, rumah sakit juga dapat untung,” katanya. 

Seorang perantara penjual darah di Beijing, Yang Dong (nama samaran), baru-baru ini mengatakan kepada The Epoch Times bahwa harga berbeda tergantung golongan darah.

 “Sekarang darah A dan O seharga 800 yuan, AB dan B 700 yuan. Yang paling langka A dan O, karena paling banyak digunakan pasien,” katanya. Ia mengklaim bisa menghubungkan ke seluruh rumah sakit di Beijing, membantu membuat surat dan mengatur jadwal donor.

Yang Dong juga menyebut, “Hari ini saya di Rumah Sakit 301. Biasanya yang datang ke sini pasien penyakit berat.” Rumah Sakit 301 merupakan rumah sakit militer dan pusat layanan kesehatan bagi elite Partai Komunis Tiongkok, menangani perawatan penyakit untuk seluruh zona tempur dan cabang militer, sekaligus menerima pasien sipil.

Perdagangan darah dilarang oleh hukum di Tiongkok. Namun karena biaya pelanggaran sangat rendah sementara keuntungannya sangat tinggi, “mafia darah” dan pedagang darah tumbuh liar, membentuk jaringan kepentingan yang rumit. 

Sekitar 2016, otoritas mengklaim telah menindak ratusan kasus pedagang darah yang lama bercokol di titik-titik donor dan rumah sakit. Pada 2018, pemerintah juga mewajibkan penghentian “donor darah gotong royong”, yakni praktik mengumpulkan orang secara berantai.

Namun selama bertahun-tahun, pengawasan hanya formalitas belaka dan para pedagang darah tidak pernah benar-benar hilang. Saat ini, banyak pengangguran di Tiongkok tidak mendapatkan bantuan, dan terpaksa menjadi penjual darah.

Wang Hao berkata: “Kalau sudah miskin sampai harus jual darah, siapa lagi peduli aturan negara. Negara juga tidak peduli hidup mati Anda. Kalau mati di pinggir jalan, lalu bagaimana? Saya pernah coba mengajukan bantuan ke dinas sosial, itu lebih sulit dari naik ke langit. Mereka bilang, meski saya berhutang, saya lulusan universitas, punya pendidikan, lalu cari berbagai alasan untuk menolak. Intinya, mereka mudah mengambil uang Anda, tapi kalau Anda mau minta sedikit dari mereka—yang paham ya paham.”

Pada Oktober tahun lalu, Wang Hao menjual darah beberapa kali dan total hanya mendapatkan 2.000 yuan.

“Dua bulan terakhir saya tidak menjual lagi. Mau jual, tapi orang lain tidak berani ambil. Mereka bilang kalau ambil lagi, saya bisa mati. Sekali diambil saja sudah cukup merusak tubuh. Sekarang saya kadang jongkok lalu berdiri, pandangan langsung gelap. Jadi ini benar-benar tidak disarankan, kecuali kalau hidup memang sudah terjepit sekali,” katanya. 

Donor darah normal memiliki batas jumlah dan jarak waktu minimum yang ketat demi menjaga kesehatan. Namun penjualan darah mengandung risiko besar: kesehatan penjual darah tidak terjamin, kualitas darah bisa menurun, bahkan berpotensi menjadi sumber penularan penyakit melalui darah.

Editor: Shang Yan/ Wawancara: Yi Ru, koresponden khusus Gu Xiaohua


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lisa Blackpink Asyik Party di Bali, Joget Bareng DJ di Panggung
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Menag: Istiqlal-Masjid Negara IKN Adalah Masjid Kembar Pusat Keagamaan
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Gacor di Bulan Ramadan! Satu-satunya Pemain Asing Muslim PSM Ini Buktikan Ibadah Tak Ganggu Performa di Super League!
• 22 jam laluharianfajar
thumb
JuraganXtra 2025 jadi Strategi Bank Mandiri Dorong Ekonomi Kerakyatan
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BMKG Juanda: Jawa Timur Berpotensi Hujan Petir Seharian
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.