Melalui perjanjian Turin antara Kaisar Napoleon III dengan Raja Victor Emmanuel II dari Kerajaan Sardinia-Piedmont Savoy pada 1860, Kabupaten Nice yang milik Savoy (Italia-Alpen) telah diambil alih sehingga menjadi milik Perancis. Peristiwa ini dikenal secara negatif sebagai suatu pencaplokan Nice oleh negara Perancis, yang sejatinya merupakan suatu imbalan atas bantuan Prancis terhadap gerakan unifikasi Italia.
Dari kacamata Indonesia hal tersebut adalah hasil diplomasi geopolitik abad-19, bukan merupakan suatu pencaplokan dan bukan merupakan suatu langkah dari hasrat kekuasaan yang rakus (Libido Dominandi).
Dalam horizon mental Prancis abad ke-14 yang dilanda perang 100 tahun melawan Inggris dan wabah pes The Black Death, Majapahit tampak dari kejauhan sebagai kerajaan rempah Timur yang makmur, yang Gemah Ripah Loh jinawi, yang stabil, dengan armada maritim yang sangat kuat, yang merupakan suatu kontras terang terhadap kehidupan bangsa Perancis yang sedang sangat menderita.
Para Ilmuwan dunia menyebutnya sebagai: Gens calamitatibus oppressa (bangsa yang tertindas sebagai akibat bencana). Surya Majapahit dalam imajinasi Eropa kontemporer, dapat menyerupai cahaya peradaban manusia di ufuk Timur.
Gemah ripah loh jinawi bukan sekadar karena keadaan dan sumber daya alam, melainkan hasil langsung dari kuatnya kepemimpinan ganda Maharaja Hayam Wuruk dalam aspek legitimasi kosmis dan harmoni serta Mahapatih Gajah Mada dalam aspek organisasi politik dan ekonomi. Kombinasi keduanya menciptakan Majapahit sebagai negara bangsa yang cemerlang pada abad ke 14 di belahan dunia Timur, yang meliputi Asia Tenggara selama 234 tahun lamanya.
Selama dua setengah abad lebih sebelum benua Amerika diketemukan oleh Christopher Columbus, Majapahit telah berhasil dengan gemilang membangun Asia Tenggara sebagai suatu integritas mandala. Sementara itu Perancis secara geopolitik sedang sibuk membela diri dari nafsu dominasi Inggris.
Jikalau dahulu Inggris menang, maka Prancis sekarang mungkin sudah lenyap sebagai suatu bangsa dalam sejarah dunia. Setengah (50%) dari bangsa Perancis sudah pernah lenyap di masa The Black Death (1347-1352) sehingga beberapa kota hilang ( 60%), desa-desa kosong ditinggalkan penghuninya, ladang terbengkalai, ekonomi lumpuh total, banyak terdapat kuburan massal dan wibawa gereja hancur lebur.
Rakyat yang tak kunjung terobati mendapatkan bukti, bahwa doa juga ternyata tidak berhasil menghentikan wabah dan para imam yang diyakini oleh masyarakat ternyata ikut mati. Tuhan kemudian dirasakan semakin jauh dari benak orang Perancis. Banyak kronikus yang mencatat, bahwa Laity (orang awam) berhenti berharap pada Klerus (Pemuka Agama), sehingga Perancis mengalami krisis religius yang membuat hancur leburnya kewibawaan agama.
Walaupun runtuhnya kewibawaan Gereja saat Black Death (Maut Hitam) bukan awal langsung mencuatnya paham ateisme di Prancis, tetapi merupakan krisis kepercayaan religius institusional pertama di sana yang cukup fenomenal. Krisis tersebut merupakan awal dari suatu proses panjang yang akhirnya, melalui masa Renaisans, Reformasi dan Pencerahan, telah melahirkan sekularisme dan berkembangnya ateisme modern di kalangan masyarakat Prancis.
Kota Kabupaten Nice terletak berdekatan dengan Monaco yang jaraknya hanya 20 km ke arah timur, sehingga banyak warga Nice beraktivitas harian di kerajaan kecil yang merdeka dan tempat kaum jetset dunia berkumpul. Monaco tidak pernah menyatakan "merdeka" seperti negara-negara koloni lain di dunia.
Statusnya terbentuk secara bertahap mulai tahun 1297 didirikan oleh Dinasti Grimaldi yang merebut benteng Monaco, sehingga pada tahun 1419 Monaco menjadi kepemilikan sah keluarga Grimaldi. Pada tahun 1641 dalam Perjanjian Péronne, Monaco lepas dari pengaruh Spanyol tetapi masuk sebagai protektorat Prancis.
Pada 1861 dalam perjanjian Franco-Monégasque, Prancis dengan serta merta mengakui kedaulatan Monaco. Inilah tanggal yang biasanya dianggap sebagai "kemerdekaan de facto" Monaco dan Prancis berfungsi melindungi Monaco di bidang militer dan diplomasi. Monaco dinilai sebagai negara yang sangat kecil, yang tidak mungkin berdiri sendiri tanpa proteksi dari negara yang kuat.
Bendera Kerajaan Monaco adalah merah-putih, yang berasal dari warna keluarga Grimaldi (abad pertengahan). Warna heraldik mereka adalah merah (gules) dan putih/perak (argent) digunakan sejak tahun 1881.
Dengan Monaco sudah diakui sah secara hukum internasional (1861) maka penduduk Monaco merasa sudah merdeka, namun dengan demikian Prancis akhirnya diuntungkan dalam aspek sosial-ekonomi, pajak dan juga prestige. Dalam hukum internasional, kedaulatan suatu mikro-negara tetap syah jika diakui dan keadaannya stabil.
Warna bendera negara Monaco persis sama dengan bendera Indonesia dan mereka telah menggunakannya sebelum negara bangsa Indonesia lahir. Namun jika ditinjau dari aspek sejarah, Majapahit di Indonesia telah lebih dahulu menggunakan warna merah-putih dalam 9 (sembilan) garis horizontal merah dan putih.
Bendera demikian juga sampai sekarang dipakai dalam panji-panji Kraton Majapahit Jakarta dan sebagai jack dari TNI AL Indonesia. Makna merah-putih Majapahit dalam kosmologi Nusantara-Austronesia: merah = darah / keberanian / bumi / raga dan putih = tulang / kesucian / langit / jiwa.
Dengan demikian mempunyai makna filosofis sebagai kesatuan raga-jiwa, keberanian yang suci, kehidupan manusia yang utuh. Dalam filsafat Jawa kuno: merah = ibu (rahim) dan putih = ayah (benih), merupakan simbol kelahiran dan kehidupan bangsa Indonesia dan Nusantara.
Secara simbolik dalam tradisi Jawa-Indonesia-Nusantara: awal = putih (asal roh) dan akhir = merah (kembali ke bumi). Panji Majapahit merah di awal dan merah di akhir.
Maknanya adalah kekuasaan duniawi (cakravartin), yaitu berdaulat di bumi Nusantara, suatu kerajaan maritim (darah-tanah) dan dominasi raga atas asketisme. Realitas budaya dan ekonomi serta keindahan arsitektur fisik istana dan Kerajaan Majapahit pernah menimbulkan kekaguman dari seorang Barat bernama Odoric Pordenone (1286-1331).
Ia adalah seorang biarawan Fransiskan asal Italia yang terkenal sebagai penjelajah Eropa, berawal ke Asia Timur dan Asia Tenggara pada awal abad ke-14 - jauh sebelum era penjelajah kolonial Vasco da Gama. Dalam laporan perjalanannya (Itinerarium) awal abad-14 ia menggambarkan bagaimana seorang Eropa melihat Nusantara saat Majapahit berada di bawah Rajanya yang kedua yaitu Raja Jayanegara.
Odoric tiba di dunia yang ia anggap sebagai kerajaan yang "ajaib dan kaya raya" dan terasa baginya seperti dunia yang lebih maju daripada Eropa. Dalam kisahnya Odoric menulis tentang tanah Majapahit yang sangat subur, buah-buahan melimpah, hasil bumi yang kaya, rakyatnya yang hidup sejahtera dan ia gambarkan wilayah itu sebagai hampir "sorga dunia".
Bagi bangsa Eropa abad-14 yang sering kelaparan, suasana tersebut sangat menakjubkan. Terutama pada perdagangan maritim yang berjaringan luas, karena dilihatnya kapal-kapal Majapahit yang besar- besar datang dan pergi saling bertransaksi dengan para pedagang India, Cina, Arab dan bangsa-bangsa Asia Tenggara. Ia menyadari bahwa kawasan ini bagian sistem perdagangan besar, bukan pinggiran.
Odoric Pordenone mencatat kerajaan Majapahit seperti di beberapa kerajaan Asia lain memiliki Raja yang kuat, istana yang megah, tata kota yang baik dengan arsitektur yang memukau serta kegiatan ritual istana yang sangat berbeda dengan Eropa. Ia terkesan bahwa Majapahit masyarakatnya ramah-tamah dan sopan santun, penuh disiplin dan makmur tanpa aturan agama (Kristen) yang kaku seperti halnya di Eropa.
Masyarakat menganut agama Hindu dan Budha yang hidup berdampingan dengan penuh toleransi, sehingga memperkuat kohesi sosial. Tulisannya tersebut sangat penting karena telah mengguncang pandangan Eropa saat itu, bahwa hanya dunia agama (Kristen) saja yang dapat maju. Nada tulisannya bernuansa rasa kagum yang bukan merendahkan, yang merupakan khas tulisan para misionaris Fransiskan yang observatif, bukan nada kolonial.
Dalam imajinasi Eropa kemudian, bahwa Dunia Timur adalah dunia kemakmuran, sedangkan Eropa adalah dunia Barat yang serba kekurangan. Makna historisnya pada kisah biarawan Odoric Pordenone menunjukkan suatu fakta penting, yaitu bahwa rakyat Majapahit lebih makmur daripada bangsa Eropa. Jaringan dagang global di belahan dunia Timur menunjukkan, bahwa Nusantara bukan merupakan periferi melainkan pusat keunggulan yang serta merta membalik narasi kolonial Barat.
AM Hendropriyono
(idn/idn)





