Iran dan Amerika Serikat (AS) berbeda pandangan soal pencabutan sanksi terhadap Teheran sebagai imbalan pembatasan program nuklirnya.
Menurut laporan Reuters pada Minggu (22/2), seorang pejabat senior Iran menyebut perbedaan itu mencakup cakupan dan mekanisme pencabutan sanksi, di tengah rencana putaran baru perundingan awal Maret.
Dalam negosiasi Iran-AS soal nuklir, Teheran disebut membuka opsi kompromi, termasuk mengekspor sebagian stok uranium yang diperkaya tinggi (HEU), menurunkan tingkat kemurniannya, hingga membentuk konsorsium regional untuk pengayaan uranium. Namun, Iran menegaskan haknya atas “pengayaan nuklir untuk tujuan damai” harus diakui.
“Negosiasi terus berlanjut dan kemungkinan tercapainya kesepakatan sementara tetap ada,” kata pejabat senior tersebut kepada Reuters.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, pada Jumat (20/2) mengatakan draf proposal tandingan akan segera disiapkan dalam beberapa hari setelah pembicaraan nuklir pekan ini dengan AS.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas, meningkatkan tekanan di tengah diplomasi yang masih berlangsung.
Pejabat Iran tersebut juga menegaskan Teheran tidak akan menyerahkan kendali atas sumber daya minyak dan mineralnya. Namun, perusahaan AS disebut tetap bisa berpartisipasi sebagai kontraktor dalam proyek ladang minyak dan gas Iran.
Putaran negosiasi berikutnya direncanakan berlangsung awal Maret, di tengah upaya kedua negara mencari titik temu atas isu sensitif yang telah lama memicu ketegangan global.





