Buka puasa tanpa gorengan rasanya ada yang kurang. Ritual takjil masyarakat Indonesia ini ternyata membawa dampak signifikan bagi kantong para pedagang gorengan. Selama Ramadan, omzet mereka melonjak drastis.
Hasan (37), seorang pedagang di kawasan Cikoko, Jakarta Selatan, mengaku meraup peningkatan keuntungan hingga 200 persen. Meski enggan merinci nominal pastinya, Hasan membeberkan angka penjualan yang fantastis.
“2.000 gorengan, semua totalnya (dari molen, risol, tahu, tempe dan sebagainya),” kata Hasan saat ditemui di lapaknya, Jumat (20/2).
Dengan harga Rp 1.500 per buah, Hasan harus mengeluarkan tenaga ekstra karena proses persiapan dimulai jauh lebih awal dibandingkan hari biasa.
Tak hanya menjual produk sendiri, ia juga membuka peluang bagi orang lain untuk menitipkan dagangan, seperti lontong, guna melengkapi menu takjil di gerobaknya.
Beralih ke kawasan Kalibata, ada Koib (37) yang sudah berpengalaman berjualan gorengan selama hampir 26 tahun. Baginya, Ramadan selalu menjadi momen panen tahunan dengan peningkatan omzet mencapai 30 persen.
“Sehari bisa Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu (kalau Ramadan), hari hari biasa kan paling Rp 400 ribu, Rp 500 ribu,” cerita Koib.
Koib mencatat bahwa pola belanja pelanggan terkonsentrasi pada pukul 17.00 hingga 18.00 WIB, tepat menjelang azan Maghrib.
Pada jam sibuk tersebut, jumlah gorengan yang laku bisa melonjak dua kali lipat. Jika hari biasa ia hanya menjual 400 biji, saat Ramadan angka itu melesat hingga 800 biji per hari.





