Kenapa Anak Muda Cepat Lelah? Ini Bukan Soal Fisik, Lalu Bagiamana Solusinya ?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita
Ketika tekanan digital, ekspektasi sosial, dan standar kesuksesan membuat pikiran lebih letih daripada tubuh.

Kalimat ini sederhana, Tanpa sadar, tetapi semakin sering terdengar dari anak muda hari ini. Anehnya, kelelahan itu tidak selalu datang dari pekerjaan fisik yang berat. Banyak yang merasa lelah meski aktivitasnya hanya duduk berjam-jam di depan layar. Jika tubuh tampak baik-baik saja, lalu sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Saat ini kita hidup di era pencapaian. Media sosial memamerkan keberhasilan orang lain setiap hari: teman yang sudah punya bisnis, lolos beasiswa, bekerja di perusahaan besar, atau terlihat selalu produktif dan bahagia. Tanpa sadar, kita membandingkan hidup sendiri dengan potongan terbaik kehidupan orang lain tanpa melihat proses panjang, kegagalan, dan air mata yang tidak pernah diunggah.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2022 terjadi peningkatan sekitar 25% kasus kecemasan dan depresi secara global, terutama pada kelompok usia muda setelah pandemi. Usia 15–29 tahun menjadi salah satu kelompok paling rentan terhadap tekanan mental akibat isolasi sosial, ketidakpastian ekonomi, dan disrupsi pendidikan.

Di Indonesia, survei dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) terhadap ribuan responden usia 14–24 tahun menunjukkan bahwa lebih dari 60% responden mengalami gejala cemas, sekitar lebih dari 50% mengalami gejala depresi, dan sebagian menunjukkan indikasi trauma psikologis pascapandemi. Angka ini menunjukkan bahwa kelelahan mental bukan sekadar drama generasi, melainkan realitas yang terukur.

Ambil contoh seorang mahasiswa tingkat akhir. Ia harus menyelesaikan skripsi, mengikuti magang, memperbaiki CV, dan mempersiapkan karier. Di saat yang sama, ia melihat teman-temannya sudah diterima kerja atau melanjutkan studi ke luar negeri. Tekanan itu bukan hanya soal tugas yang menumpuk, tetapi rasa tertinggal yang diam-diam menghantui. Lelahnya bukan pada fisik, melainkan pada pikiran yang terus merasa kurang.

Budaya kompetisi memperparah keadaan. Sejak sekolah kita dibentuk untuk menjadi “yang terbaik”. Nilai harus tinggi, pengalaman harus banyak, portofolio harus panjang. Ketika memasuki dunia kerja, standar itu berubah menjadi target karier, stabilitas finansial, bahkan pencapaian hidup sebelum usia tertentu. Usia 25 seolah menjadi batas tak tertulis untuk “harus sudah jadi sesuatu”.

Masalahnya, standar ini sering kali tidak lahir dari kebutuhan diri sendiri, melainkan dari tekanan sosial dan konstruksi digital yang membentuk definisi sukses secara sempit: cepat, terlihat, dan diakui.

Di sinilah Islam menawarkan perspektif yang berbeda. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa manusia tidak dibebani melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. Al-Baqarah: 286). Prinsip ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki kapasitas dan ritme yang berbeda. Tidak ada kewajiban untuk menyamai perjalanan orang lain.

Dalam islam juga mengajarkan konsep qadar dan tawakal bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya di tangan manusia. Tugas kita adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, bukan memastikan hasil sesuai ekspektasi sosial. Ketika hidup diukur hanya dengan pencapaian duniawi, maka lelah itu tak ada ujungnya. Namun ketika hidup dipahami sebagai proses ibadah dan pertumbuhan, maka standar berubah: bukan siapa paling cepat, tetapi siapa paling konsisten dan bernilai.

Ditambah lagi dengan fenomena fear of missing out (FoMO). Kita takut tertinggal informasi, tren, peluang, bahkan percakapan. Akibatnya, waktu istirahat terganggu oleh notifikasi. Kita jarang benar-benar berhenti. Padahal dalam Islam, konsep istirahat bukan kelemahan. Bahkan Allah menetapkan malam sebagai waktu untuk beristirahat (QS. An-Naba: 9–10). Artinya, jeda adalah bagian dari keseimbangan hidup, bukan tanda kemunduran.

Namun jika akar masalahnya bukan fisik, maka solusi pun tidak cukup hanya dengan tidur lebih lama atau liburan singkat.

Pertama, batasi paparan digital secara sadar. Misalnya, terapkan aturan satu jam tanpa ponsel sebelum tidur dan setelah bangun. Gunakan fitur pembatas waktu aplikasi. Kurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan sosial, dan perbanyak konten yang membangun wawasan serta ketenangan.

Kedua, bangun rutinitas self-care yang realistis. Lima belas menit berjalan kaki tanpa distraksi, menulis jurnal lima menit sebelum tidur, atau membaca Al-Qur’an secara konsisten bisa membantu menenangkan pikiran dan memperkuat makna hidup.

Ketiga, perkuat dukungan sosial yang nyata. Islam menekankan pentingnya ukhuwah dan saling menasihati dalam kebaikan. Berbicara jujur kepada satu orang terpercaya jauh lebih berdampak dibanding seratus interaksi dangkal di media sosial.

Keempat, atur ulang definisi sukses. Dalam Islam, ukuran keberhasilan bukan hanya capaian materi, tetapi ketenangan hati (sakinah), keberkahan, dan kebermanfaatan. Seseorang bisa jadi belum mapan secara finansial, tetapi tetap sukses karena ia tumbuh, belajar, dan menjaga integritasnya.

Pada akhirnya, kelelahan anak muda hari ini bukan karena mereka kurang kuat. Justru sebaliknya, mereka terlalu lama berusaha terlihat kuat di tengah standar yang semakin tinggi. Mereka tumbuh di zaman yang menuntut segalanya sekaligus: sukses, stabil, bahagia, produktif, dan tetap relevan semuanya di usia yang semakin muda.

Mungkin kita tidak benar-benar lelah karena hidup terlalu berat. Kita lelah karena terlalu sering mengukur diri dengan standar yang bukan milik kita.

Dan mungkin, yang dibutuhkan bukan dorongan untuk berlari lebih cepat melainkan keberanian untuk percaya bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri, dan Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir-Nya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Berani Surati UNICEF Demi Setop MBG, Ketua BEM UGM Dapat Label "Penentang HAM" dari Natalius Pigai: Tak Boleh Mau Hilangkan Program Ini
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Gempa M5,2 Guncang Agam Sumatra Barat, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami 
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Berkah Bulan Suci! Ini 10 Artis yang Melahirkan di Bulan Ramadan
• 10 jam lalugrid.id
thumb
PT Sucofindo Raih Penghargaan Indonesia Top Achievements of the Year 2026
• 6 jam laludetik.com
thumb
BPJS Kesehatan Buka Lowongan Kerja Februari 2026, Lulusan D3–S1 Bisa Daftar hingga 28 Februari
• 17 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.