Jakarta, ERANASIONAL.COM – Aktor senior Verdi Solaiman kembali membuktikan komitmennya terhadap dunia seni peran lewat film terbaru berjudul Lift. Film produksi Trois Films ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 26 Februari 2026 dan mengusung genre drama psikologis misteri yang sarat ketegangan.
Dalam film tersebut, Verdi memerankan Hansen, seorang pengusaha ambisius dengan karakter kompleks yang tidak mudah ditebak. Bukan tipikal tokoh protagonis atau antagonis yang tegas hitam-putih, Hansen justru berada di wilayah abu-abu dengan lapisan emosi dan motif tersembunyi.
Menurut Verdi, justru kompleksitas itulah yang membuatnya tertarik menerima peran tersebut.
“Dia berusaha berjibaku dengan misinya sendiri, dengan ambisinya sendiri, tapi berusaha agendanya tidak kelihatan orang lain,” ungkap Verdi dalam wawancara pada 11 Februari 2026.
Film Lift berpusat pada dinamika hubungan Hansen dan Doris, sang istri, yang diperankan oleh Shareefa Daanish. Konflik psikologis di antara keduanya menjadi tulang punggung cerita.
Hansen digambarkan sebagai sosok yang memendam tekanan, baik dari lingkungan bisnis maupun relasi personal. Ia menyembunyikan tujuan sebenarnya, bahkan ketika menghadapi tekanan langsung dari Doris. Ketegangan inilah yang membuat karakter Hansen terasa hidup dan realistis.
Verdi menilai bahwa peran seperti ini menuntut pengendalian emosi yang presisi. Ekspresi tidak boleh berlebihan, tetapi tetap harus menyampaikan konflik batin yang kuat.
“Justru yang sulit adalah menahan. Karakter ini bukan yang meledak-ledak terus, tapi menyimpan,” ujarnya.
Salah satu tantangan terbesar dalam film ini adalah adegan pembuka berdurasi panjang yang penuh dialog intens. Verdi mengungkapkan bahwa adegan tersebut awalnya terdiri dari enam halaman naskah dan mengalami banyak penggodokan bersama tim kreatif.
Adegan itu menampilkan Hansen bermain catur sambil berdialog tajam. Bagi Verdi, kombinasi antara permainan strategi dan dialog penuh tekanan menjadi tantangan tersendiri.
“Awalnya enam halaman dan itu digodok banget bareng-bareng,” katanya.
Setiap langkah catur harus sinkron dengan dialog untuk membangun suspense sejak menit pertama. Tidak hanya menghafal teks, Verdi juga harus memahami ritme permainan agar tidak terlihat artifisial di layar.
Totalitas Verdi dalam berakting bahkan berujung pada insiden fisik. Dalam salah satu adegan emosional, Doris yang diperankan Shareefa Daanish melakukan tendangan menggunakan sepatu hak tinggi. Tanpa disengaja, tendangan tersebut mengenai wajah Verdi hingga menyebabkan luka dan mengeluarkan darah.
Alih-alih menghentikan pengambilan gambar, sutradara Randy Chans justru melanjutkan adegan karena mengira darah tersebut bagian dari efek tata rias.
“Ada satu kejadian di mana Daanish tendang saya pakai sepatu hak. Saya tidak sempat menghindar dan berdarah. Rendi sempat lihat dan bilang, ‘Ini make-up darahnya kebanyakan,’” tutur Verdi sambil tersenyum mengenang momen tersebut.
Insiden itu menjadi bukti bagaimana intensitas adegan dalam Lift tidak dibuat-buat. Baik Verdi maupun Shareefa sama-sama tampil total demi menjaga autentisitas emosi.
Film ini juga menjadi pengalaman pertama Verdi beradu akting secara langsung dengan Shareefa Daanish. Ia memuji profesionalisme lawan mainnya yang mampu menghadirkan energi tak terduga dalam setiap adegan.
Menurut Verdi, bekerja dengan aktor yang memiliki intensitas tinggi justru membantunya untuk tetap responsif dan tidak terjebak pada pola permainan yang monoton.
“Dia sangat intens dan detail. Jadi saya juga harus siap menerima respons yang mungkin tidak saya duga sebelumnya,” katanya.
Kolaborasi tersebut menciptakan dinamika emosional yang kuat, terutama dalam adegan-adegan konfrontatif yang menjadi daya tarik utama film ini.
Verdi juga menyampaikan optimismenya terhadap perkembangan industri film nasional. Ia menilai penonton Indonesia kini semakin selektif dan kritis dalam memilih tontonan.
Menurutnya, film dengan pendekatan psikologis seperti Lift memiliki ruang tersendiri di tengah dominasi genre horor dan komedi.
“Saya rasa film ini tepat di tahun 2026, ketika penonton Indonesia sudah semakin cerdas. Mereka tidak hanya mencari hiburan, tapi juga pengalaman emosional,” ujarnya.
Ia berharap karakter Hansen mampu membuat penonton merasakan tekanan batin yang sama, sekaligus memicu diskusi tentang ambisi, relasi, dan moralitas.
Genre drama psikologis misteri memang membutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam penyajian. Tidak mengandalkan jumpscare atau ledakan aksi, film seperti Lift bertumpu pada dialog, gestur, dan atmosfer.
Dalam konteks perfilman Indonesia, genre ini masih tergolong menantang secara komersial. Namun Verdi percaya kualitas cerita dan akting akan menemukan penontonnya sendiri.
“Hasilnya saya puas banget. Semoga film ini menemukan penonton yang memang suka dengan jenis cerita seperti ini,” tuturnya.
Dengan totalitas yang bahkan membuatnya mengalami luka sungguhan, Verdi Solaiman sekali lagi menunjukkan bahwa seni peran bukan sekadar profesi, melainkan komitmen penuh terhadap karakter yang dimainkan.
Film Lift pun diharapkan menjadi salah satu warna berbeda dalam lanskap perfilman Indonesia 2026 menawarkan ketegangan batin yang subtil namun menggigit, serta pertarungan emosi yang terasa nyata hingga ke layar bioskop.





