Hal Baru dalam Kasus Anak di Sukabumi Diduga Dianiaya Ibu Tiri hingga Tewas

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus tewasnya NS (13), anak di Sukabumi yang diduga dianiaya ibu tiri. Kasus ini masih menjadi misteri.

Berikut sejumlah hal baru terkait kasus itu:

Melepas NS ke Peristirahatan Terakhir

Tangis pecah saat jenazah remaja pria itu dibawa dari rumah duka ke liang lahat. Ibu kandung NS datang ke rumah duka. Bersama sang nenek, ia tak kuasa menahan tangis kepergian anaknya.

Sejak keluarganya berpisah, NS tinggal bersama sang ayah Anwar Satibi dan ibu tirinya, TR (47). Lalu, sejak SMP, ia masuk pesantren.

NS dimakamkan di kampung halamannya, Pemakaman Keluarga Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jumat (20/2) sore.

Hasil Autopsi

NS telah menjalani autopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Kota Sukabumi. Dari hasil autopsi, ditemukan sejumlah luka.

“Dengan luka bakar di anggota gerak, di lengan, di kaki kanan dan kiri, kemudian ada beberapa luka juga di punggung dan luka bakar juga ada di area bibir dan hidung,” ujar Kepala RS Bhayangkara Setukpa Kombes dr Carles Siagian, dikutip Minggu (22/2).

Carles menyatakan dokter forensik belum bisa menyimpulkan apakah luka bakar itu dari sebuah penganiayaan atau bukan.

“Penyebab kematian masih belum bisa disimpulkan karena dari luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian,” imbuhnya.

Dia melanjutkan pemeriksaan dalam juga telah dilakukan terhadap organ-organ dalam seperti jantung dan paru-paru. Selanjutnya, akan dilakukan pemeriksaan laboratorium di Jakarta untuk mengecek kandungan zat-zat lain di dalam organ tersebut.

“Paru-paru tadi diperiksa karena paru-paru sedikit membengkak, apakah memang itu karena korban sebelumnya punya penyakit atau tidak,” ujarnya.

Mengenai luka kekerasan tumpul, Carles menyatakan tidak ada.

“Jadi ada luka yang tadi disampaikan di area bibir bagian atas dan dekat hidung, tetapi itu luka yang sudah lama, tidak bisa dipastikan apakah tumpul dan tidak sembuh sehingga menjadi luka,” katanya.

Ayah: NS Ingin Jadi Kiai

Anwar Satibi sangat terpukul dengan kejadian ini. Hal yang paling membuatnya sakit, yakni harus melepas anaknya yang punya cita-cita menjadi kiai.

"Dia ingin jadi kiai. Ya itu yang membuat saya sakit," kata Anwar di Sukabumi, dikutip Minggu (22/2).

Anwar menyatakan, NS merupakan pelajar SMP kelas 1, yang juga merupakan santri Pondok Pesantren Darul Maarif di Kecamatan Cibitung. Ketika menjelang ramadan, dia pulang ke rumah di Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon.

"Sampai kemarin saya pulang dari Sukabumi saya kasih uang Rp 50 ribu. Dia bilang alhamdulillah buat bekal di pesantren. Itu yang membuat saya sakit karena dia ingin jadi kiai," ujar dia.

Anwar menuturkan, pulang dari pondok pesantren, anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan dia sempat mengajak anaknya jalan-jalan.

Namun, pada Rabu (18/2), ketika Anwar bekerja, ibu tiri NS menelepon. Di telepon itu, ibu tiri memberi tahu kalau NS sakit panas.

"Pas sampai rumah saya kaget melihat kondisi kulit anak saya yang kulitnya pada melepuh. Saya tanya Mah kenapa kulitnya seperti ini? dia jawab 'ini kan sakit panas yah jadi kulitnya pada melepuh'," ujarnya.

Dia merinci, kulit tubuh anaknya melepuh pada bagian kaki, punggung, tangan dan lainnya.

Keesokan harinya, anak tersebut dibawa ke RSUD Jampangkulon. Yang mengajak Anwar untuk membawa sang anak ke rumah sakit adalah ibu tirinya.

Sesampainya di rumah sakit, Anwar mulai merasa ada yang janggal dengan kondisi anaknya. Ia kemudian meminta Isep Dadang Sukmana, pengurus pondok pesantren tempat anak itu menimba ilmu, untuk datang ke rumah sakit.

Di ruang IGD, Isep menanyai anak tersebut. Sang anak mengaku telah diberi minum air panas oleh ibu tirinya.

"Haji isep datang, ditanyalah ini anak, yah ngaku dikasih air panas," ujarnya.

Di sana, Anwar sempat meluapkan kemarahannya kepada istrinya yang juga merupakan ibu tiri korban. Setelah itu, anak tersebut mendapat perawatan intensif di ICU karena kondisinya kritis. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan dan ia meninggal dunia pada Kamis sore.

16 Saksi Diperiksa

Polisi masih mendalami penyebab kematian NS. Belasan saksi telah diperiksa.

"Saat ini total 16 saksi telah kami mintai keterangan secara mendalam. Saksi tersebut mencakup keluarga, saksi yang melihat kondisi TKP, hingga saksi ahli dari tenaga medis atau dokter yang menangani korban," ujar Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, dalam keterangan tertulisnya, dikutip (22/2).

Ia menegaskan, penyidik mengutamakan pembuktian ilmiah agar arah penyelidikan tidak didasarkan pada spekulasi. Setiap keterangan yang masuk akan dicocokkan dengan hasil visum dan autopsi.

"Kami tidak ingin berspekulasi. Setiap keterangan saksi yang masuk akan kita crosscheck secara teliti dengan hasil visum dan autopsi guna memastikan apakah luka-luka tersebut memiliki persesuaian dengan dugaan tindak pidana yang dilaporkan," terangnya.

Temukan Unsur Kekerasan, tapi Belum Jerat Tersangka

Polisi telah menaikkan kasus ini ke tingkat penyidikan setelah polisi menemukan sejumlah alat bukti yang menguatkan dugaan adanya unsur tindak pidana, yakni dugaan kekerasan terhadap korban.

“Kita maraton selama 24 jam melakukan penyelidikan dan perkara sudah kita naikkan pada tingkat penyidikan," ujar AKBP Samian.

"Karena kita sudah menemukan beberapa alat bukti yang tentunya bisa kita yakini ini ada peristiwa pidana, yaitu pidana dugaan kekerasan baik fisik atau psikis terhadap korban,” sambungnya.

Samian menyatakan, kasus kematian anak itu menyita perhatian publik terutama di media sosial. Kendati demikian, pihak kepolisian tetap fokus dan profesional dalam penanganan perkara tersebut.

“Dinamika media sosial kita monitor namun kita tidak underpressing. Kita tetap fokus dan profesional,” imbuhnya.

Lebih lanjut Samian menyatakan terhadap ibu tiri korban polisi telah memeriksanya. Namun demikian, belum dibeberkan hasilnya. Selain itu, meski sudah naik penyidikan, belum ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gara-gara Insiden usai Laga Persib Vs Ratchaburi FC, Tribune Selatan GBLA Ditutup
• 23 jam lalubola.com
thumb
Strategi Pramono Anung, Mengubah Pasar Jakarta Lebih dari Sekadar Tempat Belanja
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Pelita Jaya Sapu Bersih Paruh Musim IBL 2026! Comeback Dramatis Tumbangkan Hornbills, Rekor 10-0 Tak Terbendung
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Harga Minyak Turun, Menanti Kepastian AS-Iran dan Tarif
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Jadwal Buka Puasa Hari Ini 22 Februari 2026 di Surabaya, Bandung, Semarang, dan Makassar
• 22 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.