Sinyal IPO DANA Indonesia Menguat, Manajemen Ungkap Target Jangka Panjang

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Industri dompet digital nasional kembali diwarnai kabar potensi aksi korporasi besar. Salah satu pemain utama di sektor pembayaran elektronik, PT Espay Debit Indonesia Koe (DANA), disebut-sebut mulai mematangkan langkah menuju pasar modal.

Langkah DANA menuju pasar modal memang belum diumumkan secara resmi, namun arah kebijakan korporasi perusahaan dompet digital tersebut mulai terbaca. Opsi penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) disebut terus dimatangkan. 

Direktur Komunikasi DANA Olavina Harahap mengakui rencana tersebut memang ada dalam peta jalan perusahaan. Meski begitu ia mengatakan aksi itu belum akan dieksekusi dalam waktu dekat.

"IPO saat ini masih menjadi strategi jangka panjang kami dan akan dieksekusi di waktu yang tepat. Tentunya, menyesuaikan kondisi pasar dan perusahaan," ujar Olavina saat dihubungi Katadata seperti dikutip Senin (232).

Ia menjelaskan saat ini perusahaan akan lebih memperkuat fondasi bisnis, terutama dari sisi pengalaman pengguna, keamanan sistem, serta kualitas layanan. Perusahaan ingin pengguna bisa memaksimalkan layanan sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan mendukung kesejahteraan. 

“Fokus kami sekarang adalah memastikan kualitas pengalaman dan layanan pengguna yang optimal. Saat ini, kami terus menyempurnakan keamanan dan kenyamanan pengguna,” ujar Olavina. 

Rencana IPO DANA saat ini menjadi salah satu yang diperhatikan investor pasar modal. Laporan dari Ajaib Sekuritas menyebutkan DANA telah melakukan kajian terhadap pengalaman perusahaan digital lain yang lebih dahulu melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Proses IPO PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi referensi penting dalam membaca tantangan serta dinamika saham teknologi di pasar domestik.

CEO & Co-founder DANA Vince Iswara dalam laporan tersebut disebut menyampaikan bahwa IPO baru akan dilakukan setelah seluruh lini bisnis dinilai matang. Perseroan disebut ingin lebih siap menghadapi ekspektasi investor dan volatilitas pasar yang kerap membayangi saham sektor teknologi.

Adapun BEI mencatat, terdapat delapan perusahaan yang tengah mengantre untuk IPO hingga saat ini.  Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, lima entitas di antaranya memiliki aset di atas Rp 250 miliar atau masuk dalam klasifikasi skala besar.

Klasifikasi aset perusahaan yang akan menggelar IPO diatur dalam POJK Nomor 53/POJK.04/2017. Nyoman menjelaskan, tiga perusahaan lainnya yang akan IPO masuk dalam klasifikasi perusahaan skala menengah atau beraset Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar.

“Sampai dengan 20 Februari 2026 telah tercatat 0 Perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana dihimpun Rp 0.00 triliun. Hingga saat ini, terdapat 8 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Nyoman dalam laporan pipeline IPO BEI dikutip Senin (23/2). 

Jumlah tersebut bertambah satu perusahaan dibandingkan pipeline yang diumumkan pada 19 Januari lalu yang mencatatkan tujuh calon emiten. Jika mengacu pada sektor usaha, calon emiten tersebut memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari sektor material dasar, energi hingga keuangan. 

Dukungan Konglomerasi dan Investor Global

Di balik ekspansinya, DANA ditopang struktur pemegang saham yang kuat. Mayoritas saham perusahaan dimiliki oleh PT Elang Sejahtera Mandiri (EAN), entitas yang terafiliasi dengan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek). Dalam komposisi EAN, Emtek menggenggam 49% saham, sementara 45% lainnya dikuasai Alibaba melalui API Investment Limited.

Belakangan, tambahan modal juga mengalir dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, bagian dari Grup Sinar Mas, senilai US$ 25 juta atau sekitar Rp 350 miliar. Investasi ini memperkuat spekulasi pasar mengenai potensi aksi korporasi lanjutan, termasuk isu pengambilalihan yang sempat beredar sejak tahun lalu.

Selain permodalan, pengembangan teknologi DANA turut ditopang oleh Ant Financial, pemilik platform pembayaran Alipay dari Tiongkok. Kolaborasi ini menjadi salah satu fondasi sistem pembayaran digital DANA sejak awal beroperasi.

Meski DANA baru hadir pada 2018, kiprah Vincent Henry Iswaratioso di industri pembayaran digital telah dimulai sejak 2008 melalui pendirian INDOMOG, platform pembayaran untuk komunitas gim. Ia kemudian menjabat sebagai Director sekaligus Country Lead Alipay Indonesia pada 2015–2017.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam membangun DANA sebagai salah satu pemain dompet digital utama di Indonesia.

Dengan kombinasi dukungan modal, pembelajaran dari emiten teknologi lain, serta konsolidasi internal yang terus berjalan, sinyal menuju IPO semakin kuat. Namun, manajemen menegaskan keputusan akhir tetap akan mempertimbangkan kesiapan perusahaan dan momentum pasar.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Doa Setelah Salat Tarawih dan Witir yang Bisa Dibaca saat Ramadan 2026
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Tagih Utang Rp5 Juta Berujung Maut, Jenazah Pria di Brebes Disimpan Pelaku dalam Koper
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Alasan Minum Teh saat Sahur Tidak Dianjurkan
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
Hadiri Rally Wisata Mobil Kuno, Mbak Wali Ajak Promosikan Sejarah dan Potensi Wisata Kota Kediri
• 2 jam lalurealita.co
thumb
Ketidakpastian Tarif Trump Bikin Harga Minyak Dunia Ambles
• 5 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.