Suhu Panas Ekstrem Ancam 3,79 Miliar Penduduk Dunia pada 2050, Indonesia Termasuk

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Riset terbaru yang disusun peneliti University of Oxford memperkirakan hampir setengah populasi dunia atau sekitar 3,79 miliar jiwa akan hidup dalam kondisi suhu ekstrem pada 2050 apabila pemanasan global mencapai 2 derajat Celsius (°C) di atas level pra-industri. Skenario tersebut dinilai para ilmuwan iklim makin mungkin terjadi.

Penulis studi memperingatkan sebagian besar dampak akan mulai terasa ketika suhu global melampaui ambang batas 1,5°C sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Pada 2010, sekitar 23% populasi dunia hidup dalam kondisi panas ekstrem, dan proporsinya diproyeksikan meningkat menjadi 41% dalam beberapa dekade mendatang.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Sustainability akhir Januari 2026 itu menilai implikasi dari suhu ekstrem ini bakal sangat serius. Republik Afrika Tengah, Nigeria, Sudan Selatan, Laos, dan Brasil diperkirakan mengalami lonjakan terbesar dalam jumlah hari bersuhu sangat panas. Sementara itu, populasi terdampak terbesar diproyeksikan berada di India, Nigeria, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.

Negara-negara beriklim lebih dingin juga akan mengalami perubahan relatif yang signifikan dalam jumlah hari panas, bahkan lebih dari dua kali lipat di beberapa kasus. Dibandingkan periode 2006–2016 ketika kenaikan suhu rata-rata global mencapai 1°C di atas level pra-industri, pemanasan hingga 2°C diperkirakan menggandakan jumlah hari panas di Austria dan Kanada, meningkat 150% di Inggris, Swedia, dan Finlandia, 200% di Norwegia, serta 230% di Irlandia.

Peneliti mencatat kawasan terbangun dan infrastruktur di negara-negara tersebut umumnya dirancang untuk kondisi dingin. Karena itu, kenaikan suhu yang moderat sekalipun berpotensi menimbulkan dampak yang tidak proporsional dibandingkan dengan wilayah yang memiliki sumber daya dan kapasitas adaptasi lebih besar dalam menghadapi panas.

“Studi kami menunjukkan sebagian besar perubahan kebutuhan pendinginan dan pemanasan terjadi sebelum ambang 1,5°C tercapai, sehingga langkah adaptasi signifikan harus dilakukan sejak dini,” ujar Dr. Jesus Lizana, Associate Professor bidang Engineering Science yang merupakan peneliti utama riset tersebut.

Baca Juga

  • Menilik Prospek Impor Limbah Tekstil Pan Brothers
  • Harga Kopi Indonesia Naik 15% Imbas Perubahan Iklim
  • IQAir: Kualitas Udara Jakarta Hari Ini Masuk 10 Terburuk di Dunia

Ia mencontohkan banyak rumah kemungkinan perlu memasang pendingin udara dalam lima tahun ke depan. Namun, suhu diperkirakan tetap meningkat setelahnya jika pemanasan global mencapai 2°C. Pada saat yang sama, target emisi nol bersih (net zero) pada 2050 menuntut dekarbonisasi sektor bangunan sekaligus pengembangan strategi adaptasi yang lebih efektif dan tangguh.

Dr. Radhika Khosla dari Smith School of Enterprise and the Environment menilai temuan ini menjadi peringatan serius. Menurutnya, pelampauan ambang 1,5°C akan berdampak luas terhadap sektor pendidikan, kesehatan, migrasi, hingga pertanian.

“Pembangunan berkelanjutan berbasis net zero tetap menjadi satu-satunya jalur yang telah terbukti untuk membalikkan tren hari yang semakin panas. Para pembuat kebijakan harus kembali memimpin upaya menuju target tersebut,” ujarnya.

Selain dampak sosial, peningkatan suhu ekstrem juga diproyeksikan mendorong lonjakan permintaan energi untuk sistem pendingin dan emisi terkait, sementara kebutuhan pemanasan di negara seperti Kanada dan Swiss justru akan menurun.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pramono Tata Palmerah Meniru Cikini, Akses Stasiun dan Pasar Akan Dibenahi
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Viral Tren Unboxing Mahar Lecehkan Perempuan, Stop Candaan Seksis!
• 8 jam lalubeautynesia.id
thumb
Pramono Anung Buka Suara TransJakarta Adu Banteng di Cipulir: Sopir Kelelahan Bekerja Dua Hari
• 15 menit laluliputan6.com
thumb
Bitcoin Anjlok ke Rp 1,08 Miliar per Koin, Terseret Ketidakpastian Tarif Trump
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
BUMA-Adaro Perpanjang Kontrak Operasional Tambang Tutupan Selatan hingga 2030
• 4 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.