Jakarta, VIVA – Harga emas dunia kembali menunjukkan sinyal penguatan setelah terkurung di bawah kisaran level US$4.800 hingga US$4.900. Harga jenis logam mulia berwarna kuning diproyeksi terbang hingga menembus area US$10.000.
Optimisme ini muncul seiring meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven), ketegangan geopolitik, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Sabtu, 21 Februari, harga emas ditutup di level US$5.106,68 per ons troy atau naik 2,57 persen.
Harga emas dunia terus menunjukkan penguatan hingga pukul 13.00 WIB pada Senin, 23 Februari 2026. Emas spot melesat ke level US$5.158.54 atau sekitar Rp 86,6 juta (estimasi kurs Rp 16.810 per dolar AS) per ons troy dalam jangka panjang, dikutip data Gold Price.
- Mint
Analis menilai konsolidasi terjadi karena pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik. Khususnya ketegangan di Timur Tengah yang membuat investor terus memasukkan premi risiko dalam perhitungan harga emas.
Pendiri sekaligus CEO The Revacy Fund, Zaheer Anwari, mengatakan volatilitas sempat menurun selama libur Tahun Baru Imlek di pusat-pusat perdagangan Asia. Namun, ia memperkirakan volume transaksi akan kembali meningkat pekan depan seiring aktivitas pasar yang kembali normal.
“Sebagai aset lindung nilai utama, emas terus diuntungkan oleh permintaan yang kuat dan pergeseran yang lebih luas dari aset-aset AS. Kondisi ini menjaga level harga saat ini dan berpotensi mendorong kenaikan baru,” ujar Anwari dilansir dari Khaleej Times, Senin, 23 Februari 2026.
Ia menambahkan, reli emas yang berkelanjutan ditopang oleh akumulasi pembelian bank sentral di berbagai negara. Ia juga menyoroti ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter AS menjadi faktor pendorong lonjakan harga logam mulia naik.
Namun, Anwari tidak menutup kemungkinan potensi koreksi tetap terbuka. Penurunan akan terjadi jika ketegangan global mereda atau ekspektasi pemangkasan suku bunga berkurang akibat data ekonomi terbaru, harga emas bisa mengalami tekanan jangka pendek.
Koreksi yang lebih dalam bisa terjadi jika beberapa faktor berubah menjadi negatif secara bersamaan dan berkelanjutan, termasuk hasil pembicaraan diplomatik yang lebih baik dari perkiraan di Eropa Timur dan Timur Tengah. Sikap Federal Reserve (The Fed) yang lebih hawkish serta perlambatan pembelian emas oleh bank sentral menjadi tekanan bagi harga logam mulia.





