Polycystic Ovary Syndrome atau PCOS kerap dianggap sebagai gangguan hormon yang muncul tiba-tiba. Banyak perempuan baru menyadari kondisinya setelah siklus haid berantakan, jerawat tak kunjung reda, atau berat badan yang sulit dikendalikan. Padahal PCOS sering berkembang perlahan dalam jangka waktu panjang. Faktor pemicunya pun tak selalu besar dan dramatis.
Dalam banyak kasus, PCOS berkaitan erat dengan kebiasaan harian yang tampak sepele. Mulai dari cara makan, kualitas tidur, hingga bagaimana tubuh merespons stres.
“Banyak gangguan hormon, termasuk PCOS, berkaitan erat dengan resistensi insulin, peradangan kronis, dan gaya hidup jangka panjang, bukan semata-mata faktor genetik,” ujar Prof. Walter Willett, profesor epidemiologi dan nutrisi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health.
Agar bisa mencegah PCOS, berikut kebiasaan yang perlu kamu hindari, Ladies.
Pola Makan yang Tidak Teratur dan Mengganggu Keseimbangan HormonMelewatkan waktu makan atau menjalani diet ekstrem sering dianggap cara cepat menjaga berat badan. Namun hal-hal tersebut bisa menjadi kebiasaan yang bisa memperburuk resistensi insulin. Ketika gula darah tidak stabil, tubuh memproduksi insulin lebih banyak. Kondisi ini kemudian memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi.
Asupan rendah serat dan tinggi gula olahan juga memberi dampak serupa. Kesehatan usus yang kurang terjaga dapat meningkatkan peradangan dalam tubuh. Peradangan kronis inilah yang berperan dalam gangguan metabolisme hormon. Dalam jangka panjang, pola makan yang tidak seimbang bisa memperparah gejala PCOS tanpa disadari.
Kurang Tidur dan Ritme Tubuh yang BerantakanTidur sering kali menjadi hal pertama yang dikorbankan saat jadwal padat. Padahal kurang tidur secara konsisten dapat meningkatkan hormon stres dan menurunkan kadar insulin. Ketika siklus biologis tubuh atau sirkadian terganggu, tubuh kesulitan menjaga keseimbangan hormon. Dampaknya bisa terasa hingga siklus menstruasi.
Paparan layar sebelum tidur juga berperan besar. Cahaya biru dari ponsel dan laptop menghambat produksi melatonin. Akibatnya, kualitas tidur menurun meski durasi terasa cukup. Dalam jangka panjang, ritme tubuh yang berantakan membuat hormon semakin sulit bekerja secara optimal.
Stres Kronis yang Kerap Dianggap WajarStres sering dianggap bagian normal dari kehidupan modern. Namun ketika stres berlangsung terus-menerus, tubuh berada dalam kondisi siaga yang berkepanjangan. Hormon kortisol pun diproduksi dalam jumlah tinggi. Situasi ini berdampak langsung pada sistem hormonal perempuan.
Kortisol berlebih dapat memperparah peradangan dan mengganggu ovulasi. Gejala seperti jerawat membandel, haid tidak teratur, hingga mudah lelah pun bisa muncul. Banyak perempuan tidak mengaitkan kondisi ini dengan stres jangka panjang. Padahal manajemen stres menjadi salah satu kunci penting dalam pengelolaan PCOS.
Mengabaikan Asupan Vitamin DVitamin D sering luput dari perhatian karena jarang menimbulkan gejala langsung. Padahal vitamin ini berperan dalam pengendalian gula darah dan respons peradangan. Kekurangan vitamin D cukup umum terjadi, terutama pada perempuan yang jarang terpapar sinar matahari. Kondisi ini dapat memperburuk resistensi insulin.
Selain paparan sinar matahari, pemeriksaan kadar vitamin D juga sering terlewat. Tanpa disadari, kekurangan ini bisa memengaruhi keseimbangan hormon secara perlahan. Dalam konteks PCOS, vitamin D berperan sebagai pendukung kesehatan metabolik. Mengabaikannya berarti membiarkan salah satu faktor risiko tetap aktif.
Paparan Bahan Kimia dari PlastikPlastik menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Botol minum, wadah makanan, hingga kemasan siap saji sering digunakan berulang kali. Namun sebagian plastik mengandung bahan kimia seperti BPA yang bisa mengganggu hormon. Paparan ini terjadi perlahan dan terus-menerus.
Ketika masuk ke dalam tubuh, zat tersebut dapat meniru atau mengganggu kerja hormon alami. Pada perempuan dengan kecenderungan PCOS, kondisi ini bisa memperberat ketidakseimbangan hormon. Terutama jika wadah plastik sering dipanaskan atau digunakan untuk makanan panas. Kesadaran akan paparan ini menjadi langkah kecil namun penting dalam menjaga kesehatan hormon.




